Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kiprah The Pakwa Kustik Aceh


Wartawan : Julnadi - Padang Ekspres - Editor : Elsy - 29 November 2017 11:25:36 WIB    Dibaca : 9 kali

 

Latihan melalui Video Call, Tampil di 5 Negara

Jarak tidak menjadi kendala untuk bisa latihan menyamakan ide dalam bermain musik. Karena kecanggihan teknologi, dapat mempermudah proses latihan bermain musik. Seperti yang dilakukan grup The Pakwa Kustik Aceh ini. Mereka latihan komposisi musik melalui video call. Latihan kolektif hanya untuk penghalusan dan penyempurnaan.

Bunyi musik alat tiup Sarune Kale, alat musik asal Aceh memecah kesunyian sebagai pembuka pertunjukan musik group The Pakwa Kustik Aceh. Para pemain musik di atas pentas panggung Multikultural Festival 2017 Sawahlunto telah bersiap memainkan alat musik dan menghibur penonton yang hadir. 

Senin (27/11), jarum jam menunjukkan pukul 20.15. Penonton masih lengang. Meskipun demikian, kegiatan tetap berlangsung sesuai jadwal yang telah dirancang. Grup The Pakwa Kustik Aceh tetap tampil maksimal meski minim penonton.

The Pakwa Kustik mengonsep 12 lagu berangkat dari ide garapan musik etnik. Lagu tersebut bercerita tentang peperangan yakni Perang Sabi yang ada di Aceh pada zaman dulu kala. Selanjutnya, lagu tersebut juga bercerita tentang keindahan budaya dan cerita tentang percintaan. 

Grup musik The Pakwa Kustik Aceh terbentuk berawal dari beberapa anak muda yang bertemu dan berbicara panjang. Kemudian dari perbincangan tersebut, timbul sebuah keinginan agar ada suatu wadah komunitas yang menjaga budaya Indonesia, khususnya etnik Aceh. Artinya, keinginan adanya benteng budaya Nusantara terwujud. Sehingga atas dasar keinginan menjaga dan mempertahankan budaya tersebut maka terbentuklah The Pakwa Kustik pada 19 Desember 2009. 

The Pakwa Kustik saat itu hanya  beranggotakan tiga orang dan dibantu oleh pemuda Aceh lainnya yang tinggal di Bukittinggi dan Padangpanjang. Selain itu, personel The Pakwa Kustik juga berada di Jakarta. Karena Sekretariat The Pakwa Kustik berada dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sehingga tidak dimungkinkan untuk latihan kolektif setiap hari. 

Personel The Pakwa Kustik terdiri dari  Muhammad Rizki Dwi Saputra pemain Bass, Teku Mirja gitar, Rezeki Pinte vokal. Sementara itu Munir Siron memainkan alat musik perkusi yakni Gendang Rapa’i, Fadlun memainkan alat tiup Sarune Kale dan Angga pemein Gitar Ukulele.

Muhammad Rizki Dwi Saputra, Ketua Group The Pakwa Kustik Aceh menyebutkan, persiapan untuk tampil di panggung Multikultural Festival telah berjalan sejak sebulan belakangan. Meskipun personel group yang bermain secara terpisah, namun latihan tetap berjalan melalui jarak jauh. Pada dasarnya, 12 lagu tersebut telah sering didengar di Aceh. Sehingga tidak menyulitkan bagi personel untuk berlatih. 

Untuk mensiasati jarak yang berjauhan, maka The Pakwa Kustik menulis partiturnya lagu. Partitur tersebut dikirim agar bisa langsung dibaca, lalu latihan sendiri-sendiri melodinya di kediaman masing-masing. Jika ada yang kurang, serta ada keraguan dalam memainkan melodinya, maka dapat dilakukan latihan melalui video call. Persiapan komposisi musik tersebut telah berlangsung sejak sebulan belakangan. 

The Pakwa Kustik pernah mementaskan karyanya di Bukittinggi, Padangpanjang, Riau, Medan, Mataram dan Jakarta. Kemudian, The Pakwa Kustik juga pernah mentas ke Hawai, Korea Selatan, Philipina, Malaysia dan Thailand. Ke negara tersebut The Pakwa Kustik juga membawakan Musik komposisi Etnik atau bisa dikatakan musik yang berjendre etnik. Artinya bukan dalam bentuk komposisi musik yang ditampilkan The Pakwa Kustik di Sawahlunto. Meskipun musik pop, tetapi jendre musiknya tetap etnik, bergantung pada keinginan untuk menyanyikan dan membawa lagu tersebut. 

Kemudian alat musik yang dimainkan pun tidak terlepas dari alat musik etnik seperti Gendang Rapa’i dan Sarune Kale dengan musik saman serta tarian. Maka, tepuk tarian tersebutlah yang menjadi ritem dan berkolaborasi dengan komposisi musik (Rapa’i dan Serune Kale). Sehingga menjadi komposisi musik yang utuh serta dapat dinikmati oleh penikmat atau penonton. 

The Pakwa Kustik tidak membawa komposisi musik yang pernah di pentaskan di luar negeri tersebut pada penampilan Multikultural Festival Sawahlunto, karena konsep The Pakwa Kustik datang ke Sawahlunto adalah minimalis. Disamping itu, anggota  The Pakwa Kustik memiliki kesibukan masing-masing sehingga ada yang aktif dan adapula yang tidak. 

“Makanya pada malam hari ini kita tampil hanya tiga orang dan itu pun anggota baru bergabung di The Pakwa Kustik. Kemudian melihat kondisi teman-teman yang tidak mengganggu kerja dan kegiatannya, barulah kami bisa membuat komposisi musik. Sehingga bisa tampil di panggung Multikultural Festival,” ujar Muhammad Rizki Dwi Saputra. 

Selanjutnya, kata dia, Maret 2018 mendatang The Pakwa Kustik akan tampil di Jerman dengan konsep eksperimental. Musik eksperimental tersebut ide pengharapannya masih berakar dari seni tradisi. Komposisi musik eksperimental yang akan dipentaskan tersebut 70 persen adalah musik tradisi yang berasal dari budaya lokal yang ada di Aceh. 

“Kami sampai ke Sawahlunto hari Minggu (26/11). Selasa kami berangkat ke Sabang juga menampilkan komposisi musik. Kemudian, hari besoknya kembali lagi ke Jakarta,” katanya. 

Menurutnya, The Pakwa Kustik saat penampilan, tetap tampil maksimal meskipun penonton lengang. Hal itu  tidak mematahkan semangat untuk tampil. Karena disamping jendre musiknya yang berbeda serta berbentuk etnik dan penikmatnya pun akan berbeda cara eforiannya. Mulai dari yang tua sampai anak muda cara mereka menikmati musik juga akan berbeda pula. 

“Meskipun penonton tidak ada, kami tetap semangat dan berusaha menyemangati diri sendiri serta teman-teman yang lain. Karena kondisi seperti ini juga pernah dialami  di Riau. Dalam jadwal The Pakwa Kustik penampil terakhir. Sehingga penonton telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Kemudian akhirnya tetap menyemangati teman-teman, tetap semangat tampil meskipun tidak ada penonton,” ucapnya. (*)

© 2014 Padek.co