Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kue Tradisional nyaris Punah


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Yogi - 26 November 2017 14:29:26 WIB    Dibaca : 44 kali

 

Meski masih bertahan, namun keberadaan kue tradsional Minangkabau sudah mulai sulit ditemukan. Kue tradisional seperti putu, paruik ayam, onde-onde,
lamang tapai, dan lainnya masih ada yang menjual. Namun sulit ditemukan. Penjual sate singkong manis di Kota Pariaman, Riza Syafitri, 34, mengaku saat itu keberadaan makanan tradisional sudah tak seramai dulu. Bisa dikatakan tak banyak lagi pedagang yang menjualnya.

Padahal makanan tradisional merupakan jajanan yang menyehatkan dan mengenyangkan. Banyak yang bahan dasar utamanya singkong. Kemudian diberi pewarna makanan agar makanan lebih menarik. Lalu ditaburi parutan kelapa muda yang sudah dicampurkan gula pasir. Inilah Yang menjadikan makanan tersebut manis dan kenyal ketika sampai dimulut.

Riza mengaku selama ini ia bertahan karena masih ada pelanggan yang mencari makanan jenis ini. Meskipun tak seramai dulu. Sate singkong manis seperti kalah saing dari makanan yang lebih modren seperti roti goreng dan pastel ayam.

”Memang tak seramai dulu peminatnya. Tapi masih ada kok pembelinya. Biasanya yang beli rata-rata usia 40 tahun ke atas. Mereka menilai makanan ini lebih baik dijadikan cemilan dibanding makanan modern yang tengah menjamur,” ungkapnya sembari melayani pembeli pada Jumat (24/11) pagi di Pasar Pariaman.

Sementara, pedagang onde-onde, Jamilah, 50, menyebutkan pembeli makanan yang dijualnya masih ada. Namun untuk jumlahnya tak sebanyak atau seramai yang dulu. Penjual onde-onde dan kue tradisional lainnya di Pasar Raya ini menyebutkan saat ini pelangganya adalah pedagang di Pasar Raya saja.
“Alhamdulillah, jualan saya habis terus,  diborong tukang sembako,” ungkap Ibu dari lima orang anak ini.

Walau demikian jika ditanya terkait makanan tradisional memang benar semakin hari semakin terlupakan. “Anak-anak sekarang tak kenal sama onde-onde,  bikin malu saja,” ucapnya.

Menurut Jamilah,  biasanya makanan tersebut akan kembali diperkenalkan pas bulan Ramadhan saja. “Rata-rata yang menjual lapek bugis,  onde-onde,  kue talam,  pasti pas bulan Ramadhan,  cobalah lihat disepanjang jalan semuanya menjual makanan tersebut. Tapi kalau hari biasa mana ada yang jual. Jadi saya kira musim-musiman,” ungkapnya.

Dikatakannya, makanan tradisional kalau tidak ada yang berkenan menjual atau membuatnya,  sudah pasti akan hilang ditelan zaman. “Terlalu banyak makanan aneh di Padang ini,. Kebanyakan yang tersedia di restoran adalah makanan orang luar,” pungkasnya.

Bagaimanapun makanan tradisional harus dilestarikan sehingga sampai anak cucu tahu dengan makanan tersebut. Namun, ada makanan tradisional yang kembali menjadi eksis. Yaitu lamang tapai. Saat ini, di Padang sejumlah pedagang lamang tapai ramai menjajakan makanan khas Minang ini. Seperti di Jalan KH Ahmad Dahlan.

Ditengah maraknya makanan ekstrem,  tentu makanan tradisional seperti itu kurang dilirik, seperti penjual lamang tapai di sepanjang Jalan KH Ahmad Dahlan. Seorang ibu terlihat linglung,  melihat dagangannya sepi pengunjung.

Ida Wati, 45, sudah dua tahun berjualan lamang di tempat itu. Dia buka mulai pukul 10.00 sampai malam. “Memang akhir-akhir ini sangat sepi pengunjung lantaran tak begitu banyak peminat lamang tapai. Padahal ini kuliner khas Minang,” ungkapnya.

Menurutnya, harga lamang tapainya hanya Rp 15 ribu seporsi. Baginya kalau untuk berjualan di sini,  sampai malampun pasti habis. “Di sini banyak yang berjualan lamang tapai,” ungkapnya.

Sementara, pedagang sala lauk di Pantai Gondoriah Pariaman, Susi Susanti, 28, mengaku eksistensi sala lauak tidak terpengaruh berkembangnya makanan unik pendatang baru. Pemerintah Kota Pariaman bahkan telah mempetakan pedagang sesuai tempatnya. Artinya mereka berjualan sudah ditempat yang benar. Yakni Pantai Gandoriah yang menjadi tujuan wisata Kota Pariaman.

Ditambah lagi salalauak sudah menjadi salah satu ikon Pariaman sehingga banyak dikenal masyarakat. Eksistensinya pun akan bertahan meski makanan ekstrem tengah menjamur di masyarakat. ”Tidak ada pengaruhnya pada salalauak. Peminat akan tetap ada. Bahkan sampai luar daerah. Ini membuktikan jajanan tradisional khas Pariaman tak hanya dikenal di kota ini,” pungkasnya.

Sri Wahyuni, 21, mahasiswa IAIN Batusangkar,  saat dijelaskan tentang kue talam,  ia malah lupa bentuknya,  dan merasa belum pernah memakannya. Padahal itu adalah makanan khas Minang yang sudah turun temurun.  ”Kue talam itu seperti apa bentuknya,” ujarnya. (*)

© 2014 Padek.co