Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Makanan Unik hanya Populer Sesaat


Wartawan : Novitri Silvia - Padang Ekspres - Editor : Yogi - 26 November 2017 14:23:53 WIB    Dibaca : 44 kali

 

Kuliner Tradisional Bagian dari Budaya


Tak dipungkiri, selera masyarakat terus berubah. Namun, kuliner tradisional bisa dipertahankan selama masih ada  yang membuat dan mengingatnya. “Kehadiran” kuliner yang telah dimodifikasi tak bisa dibendung. Tapi, keberadaan kuliner tradisional mesti terus dijaga.  Pengamat boga,  Syahriul yang juga  Executive Chef di Inna Muara Hotel menilai eksistensi kuliner tradisional saat ini masih bertahan. Hal ini dilakukannya dengan memodifikasi tampilan dan bentuk penyajian makanan tradisional sehingga memiliki nilai jual tinggi.

Pria yang telah puluhan tahun berkecimpung di dapur itu memiliki cara tersendiri agar masakan tradisional bernilai internasional dan eksistensinya tetap bertahan. Lewat edukasi dan demo di depan pengunjung,  kuliner tradisional mampu menarik rasa penasaran orang. Biasanya ini dilakukannya ketika pengunjung dari luar daerah datang ke restoran hotel. Ia merekomendasikan beberapa kuliner tradisional andalannya kepada pengunjung.

Dia menonjolkan manfaat dan bahan-bahan, lalu mendemokan proses pembuatan menggunakan alat tradisional. Ini membuat pengunjung tertarik untuk mencoba dan kuliner tradisional semakin dikenal.

”Mereka tidak sekadar makan tapi juga mendapat ilmu. Ketika kembali ke daerahnya, mereka bisa mempraktikan dan membuatnya sendiri. Kuliner tradisional juga bagian dari budaya. Sehingga ketika kita menyajikannya berarti kita membantu mengenalkan budaya kita pada orang luar. Rata-rata mereka yang datang lebih memilih makanan tradisional dibanding makanan modern,” katanya saat ditemui di lobi hotel, kemarin.

Chef de Party Inna Muara Hotel, Anton menambahkan kuliner tradisional selain menyehatkan juga memiliki nilai histori. Nilai histori ini yang kelak membawa kenangan bagi yang mencobanya. Kelak mereka yang mencoba akan merasa seperti nostalgia. Ini juga menjadi alasan yang membuat kuliner tradisional masih diminati hingga saat ini.

Anton berpendapat kuliner unik tidak dapat dapat bertahan lama. Masyarakat akan lebih cerdas berpikir untuk kesehatannya. Kuliner ini akan bertahan pada tipikal konsumen yang memang memiliki ”rasa cocok” pada makanan ini saja.

”Kuliner unik tersebut banyak digemari oleh sekelompok anak muda sekarang. Karena rasa penasaran ingin mencoba, membuat makanan ini lebih hits ketika pertama kali mincul. Lama kelamaan eksistensinya akan berkurang. Para produsen biasanya menyiasati dengan fasilitas yang memadai. Seperti menyediakan wifi gratis. Inilah yang membuatnya dipilih, dengan kata lain produsen tidak menjual makanan melainkan tempat tongkrongan,” tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi Unand, Harif Alami menjelaskan perilaku konsumen Sumbar cenderung ingin mencoba dan tidak bertahan pada satu tempat. Ini membuat kuliner unik banyak diminati ketika pertama kali dilempar ke pasaran.

Namun seiring waktu kuliner tersebut hanya akan bertahan pada selera yang cocok. Bisnis kuliner unik eksistensinya tidak lama jika dibanding kuliner tradisional meski peminat tak seramai kuliner unik. Pedagang atau produsen ingin memunculkan keunikan dengan penggunaan brand menarik (branding, red).
Segmen yang bertahan merupakan kelompok usia yang berbeda. Umumnya usia menengah yang lebih memilihnya sebagai ajang komunitas tanpa mengutamakan penilaian terhadap makanan. Adanya makanan unik juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebab, membantu memunculkan usaha baru, menciptakan lapangan pekerjaan baru, dan tingkat konsumsi meningkat akibat dari permintaan yang banyak.

Di sisi lain, berkurangnya eksistensi pedagang tradisional disebabkan adanya generasi yang bertukar. Peminatnya juga berkurang. Generasi kini lebih memilih tempat dibanding rasa makanan. Mereka memilih tempat yang nyaman dijadikan sebagai ajang kumpul bersama komunitas.

“Sebagai orang tua perlu mengenalkan kembali pada anak makanan tradisional sehingga tak hilang eksistensi di mata generasi milenial. Selain itu pemerintah daerah mesti membantu mempromisikannya melalui ekspo-ekspo produk lokal. Selain itu, mengedukasi produsen makanan tersebut. Baik dari segi penyajian dan pengemasan sehingga makanan tradisional terus diminati,” ucapnya.

Pengamat ekonomi lainnya Nursyirwan yang juga dosen Unand menyebutkan klasifikasi makanan unik Sumbar sendiri belum jelas  dibanding negara lain.
Fenomenanya ialah perdagangan yang menjual identitas. Lebih tepatnya hanya mencari nama saja. Dalam kebudayaan popular  kuliner yang pengunaan nama unit tersebut tidak bertahan lama. Hanya bertahan pada kategori konsumen yang memiliki rasa yang cocok.

Nursyirwan menambahkan bahwa kuliner tersebut akan bertahan pada generasi yang mencari rasa penasaran saja. Sepanjang peminatnya masih ada, maka eksistensi kuliner unik itu akan tetap ada.

Dari segi ekonomi, kuliner unik membantu pertumbuhan ekonomi karena adanya penambahan tenaga kerja, dan konsumsi yang makin meningkat sehingga membuat perputaran uang makin cepat. Ditambah penggunaan layanan transportasi barang dan jasa meningkat seperti penggunaan jada antar online Gojek atau Gofood.

Secara kasat mata jika masih dalam lifestyle (kegiatan sehari-hari, red) belum dapat diukur. Perlu 5-10 tahun untuk melihat eksistensinya. Berkurangnya kuliner tradisional disebabkan perubahan generasi dan perubahan rasa pada generasi tersebut. Ditambah orang tua tidak mengenalkan makan tradisional kepada anak.

”Perlu menggalakannnya kembali. Bisa melalui pembelajaran dari keluarga, seperti tradisi pembuatan kue tradisional yang dilakukan di rumah tangga. Atau menghadirkannya kembali dalam acara besar termasuk pesta pernikahan. Lalu, melakukan peninjauan pasar tradisional dan mendorong pasar agar mempertahankan eksistensi kuliner tradisional,” katanya. (*)

© 2014 Padek.co