Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kendalikan Populasi Hama Lewat Rotasi Tanam


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Yogi - 26 November 2017 14:17:16 WIB    Dibaca : 44 kali

 

Gagalnya panen para petani tidak terlepas dari faktor alam. Salah satunya, serangan hama yang kian sulit terbendung. Dalam hal ini perilaku manusia
memiliki andil yang cukup besar. Kelalaian dan kekeliruan saat mengatasi satu jenis hama memicu perkembangbiakan hama lain. Untuk itu petani
di Indonesia, khususnya Sumbar berani merotasi dan menggilir tanaman.

Kondisi itu terungkap dalam diskusi Padang Ekspres dengan Dr Mairawita Marlis Rahman, ahli serangga dari Universitas Andalas (Unand), Kamis (23/11). Istri mantan Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman yang akrab disapa Wiwik itu menyarankan petani merotasi tanaman apabila serangan hama sudah kronik. Seperti serangan bakteri berbahaya oleh serangga vektor yang menyebabkan penyakit darah pisang.

Penyakit ini dialami hampir seluruh daerah di Sumbar. Tidak sedikit petani pisang menjerit dibuatnya. Biasanya daun pisang menguning mulai dari daun muda. Jika pisang dipotong, atau batang dipotong, keluar lendir berwarna kecoklatan atau kemerahan. Tampak luar buah pisang masih terlihat normal, saat dibuka, buahnya telah busuk berwarna kuning kemerahan.

Penyakit darah pisang tidak mengenal belas kasihan. Di Pariaman, ada petani yang membudidayakan sekitar 500 batang tanaman pisang. Hanya dalam waktu 6 bulan, tanaman habis terserang penyakit darah pisang. Belum ada varietas pisang yang dapat bertahan. Apalagi pisang batu.

Tanaman pisang yang terserang penyakit darah bakteri di dataran tinggi Tabekpanjang dan dataran rendah Pasarusang juga dapat jadi contoh. Di sana ditemukan serangga yang berasosiasi dari 4 ordo (Hymenoptera, Diptera, Lepidoptera dan Hemiptera). Ordo yang tertinggi kelimpahannya adalah Diptera 38,46 persen diikuti ordo Hymenoptera sebesar 36,46 persen. Ordo Hymenoptera didominasi Trigona spp dan ordo Diptera didominasi Drosophila sp.

Tingginya persentase serangan penyakit darah bakteri di dataran tinggi Tabekpanjang berhubungan erat dengan tingginya kelimpahan serangga pengunjung bunga Trigona spp (galo-galo). Propagul (alat penyebaran atau reproduksi) bakteri ditemukan pada permukaan dan bagian dalam tubuh serangga pengunjung bunga tanaman pisang yang terserang penyakit darah bakteri di lahan endemik dataran tinggi Baso. Hasil identifikasi bakteri tersebut adalah R. solanacearum Phylotipe IV.

Hasil penelitian yang dilakukan Wiwik, trigona merupakan vektor paling tinggi penyebar bakteri. Biasanya vektor akan mendatangi jantung atau bunga pisang. Masa pemulihannya juga sangat lama. “Bakteri ini dapat bertahan 30 tahun di dalam tanah,” kata Ketua Jurusan Biologi Unand ini.

Mengingat lamanya masa bertahan bakteri, solusi paling baik bagi petani agar tidak mengalami kerugian serupa adalah dengan merotasi tanaman. Petani sebaiknya beralih pada varietas tanaman lain. Dengan begitu, serangga vektor tidak akan memiliki “rumah baru” sehingga perkembangbiakannya di daerah bersangkutan terkendali.

Layaknya pisang, tanaman lain dapat saja terserang hama serangga jenis berbeda. Sejumlah daerah yang digadang-gadang sebagai sentra kakao mesti menghadapi pahitnya serangan hama penggerek batang. Kondisi diperburuk dengan mewabahnya jamur tanaman. Wiwik sudah pernah melakukan penelitian hingga menemukan solusi untuk mengendalikan serangan hama penggerek batang dengan serai dapur.

Padi serta tanaman sejenis lain juga tidak luput dari serangan hama. Biasanya petani memilih memberikan pestisida untuk membunuh hama. Menurut Wiwik, sebaiknya petani melakukan pengendalian terhadap hama dari pada membunuhnya. ”Membunuh satu jenis hewan, sekalipun hama, akan memutus mata rantai makanan. Akibatnya populasi lain akan berkembangbiak,” jelasnya.

Menghabisi populasi ular akan memicu meningkatnya populasi tikus. Membunuh burung pipit akan mengecilkan jumlah predator ulat. Otomatis ulat akan berkembangbiak karena tidak banyak burung yang memakannya. Begitu pula untuk hewan-hewan lain yang menjadi bagian dari mata rantai makanan.
Kurang terbendungnya populasi beberapa jenis hama akhir-akhir ini tidak terlepas dari pergeseran budaya bertani di daerah. Dicontohkannya kebiasaan bertani yang nyaris tak menyisakan pematang sawah. Kalaupun ada ukurannya sangat kecil. Berbeda dengan kebiasaan orang tua dulu membuat pematang sawah dengan ukuran besar.

”Di pematang sawah itu bisa pula dimanfaatkan untuk tanaman lain, kacang panjang dan sebagainya. Selain menghasilkan sayuran, keberadaa tanaman di pematang sawah ini bisa menjadi makanan alternatif bagi hama. Sekarang karena pematang kecil semua hama akhirnya menumpuk di padi,” jelasnya.
Para pendahulu biasanya menyisakan semak di sekitar pondok di tengah sawah. Keberadaan semak-semak juga dapat menjadi “rumah” alternatif bagi hama. Karena semua telah binasa, mau tidak mau hama memilih bertelur dan beranak di padi petani.

Kearifan lokal yang diterapkan para leluhur dinilai berdampak positif pada pengendalian hama. Menanam tanaman alternatif di pematang, semak-semak di sekitar pondok, atau berburu tikus dapat mengendalikan perkembangbiakan hama. Sayang semua itu mulai ditinggalkan oleh sebagian besar petani di Sumbar.

Adakalanya pula petani tidak diberi pengetahuan dasar tentang tumbuh kembang hama. Akibatnya upaya petani memberantas hama sia-sia. Seperti petani yang menyemprotkan pestisida saat hama di padi masih dalam proses bertelur. Hama di dalam telur dilindungi oleh cangkang hingga mereka menetas. Semprotan terhadap hama tidak berdampak pada telur yang akan menetas.

Berbeda ketika petani telah diberi pengetahuan. Mereka akan menentukan masa memberi pestisida ketika hewan-hewan kecil yang dapat berkembangbiak dengan cepat itu. Waktu yang tepat saat hama menetas dari telurnya.

Pengetahuan penting juga agar petani mengetahui tanamannya terserang hama, kekurangan pupuk atau malah kelebihan pupuk. Terkadang saat melihat daun padi menguning, petani langsung memberi pupuk atau menyemprotkan pestisida. Padahal warna daun kuning juga bisa disebabkan oleh kelebihan pupuk.

Petani diharapkan mampu mengetahui kaidah bertani. Mengetahui kebutuhan perairan, ketahanan tanaman dan proses pemberian pestisida untuk mengendalikan hama. “Tanggungjawab kita semua untuk memberikan pengetahuan pada petani dan mengingatkan kembali perlunya menjaga kearifan lokal yang mulai ditinggalkan,” harapnya.

Terakhir ditegaskannya, usahakan mengendalikan populasi hama dengan tidak membunuhnya. Pembunuhan hama dapat memutus mata rantai makanan sehingga populasi hama lain tidak terkendali.

Mengendalikan hama tidak harus memutus mata rantainya. Alternatif lain, petani diminta melakukan pergiliran tanaman sebagai keberlanjutan makanan masing-masing rantai makanan yang ada. (*)

 

© 2014 Padek.co