Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Terbukti Tingkatkan Produksi, Harapkan Berdirinya UPPO


Wartawan : Arditono - Padang Ekspres - Editor : Yogi - 19 November 2017 13:46:56 WIB    Dibaca : 100 kali

 

Tahun ini, Kelompok Tani Mekar Bhakti, Jorong Koto Baru Sungai Kalu, Nagari Pakan Rabaa Utara, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Solsel dipercaya menjadi daerah pengembangan padi organik di Solsel. Bagaimana kondisinya saat ini?

Percobaan penanaman padi organik ini sudah dilakukan Kelompok Tani Mekar Bhakti. Nantinya ini akan dijadikan percontohan pengembangan padi nonkimia oleh kelompok tani lainnya di Solok Selatan. Pada masa penanaman pertama atau uji coba pengembangan, hasil produksi gabah padi organik itu sehektarenya baru kisaran 3,2 ton. Namun pada masa panen kedua terjadi peningkatan produksi sebesar 22 persen menjadi 4,6 ton sampai 4, 9 ton per hektare.

“Awalnya kami khawatir akan tingkat produksi kedua, setelah masa percobaan atau panen perdana. Jadi, kita menilai di daerah Pakan Rabaa Utara ini, cocok untuk pengembangan padi organik,” ungkap Ketua Kelompok Tani Mekar Bhakti, Arlenandra kepada Padang Ekspres, Sabtu (18/11).

Pola pengolahan sawah pun sedikit berbeda dengan kebiasaan menanam padi sebelumnya. Pengolahannya, tanah sawah harus dialiri air terlebih dahulu. Kemudian dibajak menggunakan handtraktor, dan selanjutnya ditabur pupuk kompos dari kotoran ternak.

Setelah memasuki waktu 15 hari, barulah dilakukan proses penggilingan lahan pertanian sawah. Dengan adanya pembusukan kompos dan tanah usai dibajak sekitar dua minggu, peningkatan kesuburan tanah sawah akan lebih bagus dan alami.

“Cara ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kita zaman dahulu, namun dihadapkan zaman serba maju. Hingga pilihan pupuk dan pestisida kimia menjadi andalan masyarakat setiap bercocok tanam padi. Sekarang, tampaknya pemerintah mulai mengembalikan cara dan pola turun ke sawah zaman dulu,” jelasnya.

Sekeliling pematang sawah dibuat saluran air sebelum proses penanaman berlangsung dengan pola 1-4 atau jajar legowo. Hal itu untuk mengatasi serangan hama keong yang hampir berkembang di setiap lahan pertanian sawah warga. Dengan begitu padi yang disemai berusia 20 hari tersebut saat di tanam di sawah. Tidak mudah mati atau dirusak hama keong.

Dengan sendirinya hama keong tersebut lebih memilih digenangan air tersebut bermain atau bekeliaran, maka dengan mudah ditangkap untuk kebutuhan makanan bebek. “Dulu, di daerah kita ini tidak ada hama keong. Tapi, dengan adanya pengembangan bebek sehingga dilepas warga dan akhirnya berkembang dimana-mana,” ungkapnya.

Di akui Arlenandra, target penanaman 20 hektare di Nagari Pakan Rabaa Utara itu, baru kisaran 12 hektare yang sudah terealisasi pada tahap ke tiga ini. Penanaman sudah digelar bulan lalu, pada usia 15-20 hari, maka pupuk kompos di tebar di sawah. Per hektarenya, 2-4 ton kompos ternak sapi dan kerbau. Yang didatangkan dari Bangun Rejo, Kecamatan Sangir yang sudah melakukan pengolahan kompos ternak sejak beberapa tahun lalu.

Per kilogram kompos sampai ke lokasi, dibeli seharga Rp 800 rupiah. Penggunaan kompos di setiap sawah berbeda-beda, tergantung tingkat kesuburan tanah sawah.  “Pemamfaatkan pupuk kompos kisaran 2-4 ton per hektare sawah. Sawah yang saat ini sudah ditanami padi organik di Pakan Rabaa Utara sudah sekitar 12 hektare, membutuhkan kompos maksimal 40 ton,” paparnya.

Untuk kesinambungan pengembangan padi organik lebih andalkan kotoran ternak, pemerintah daerah perlu adanya Unit Pengolahan Pupuk Oganik (UPPO). Sehingga petani yang memiliki ternak, tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan kompos harus didatangkan dari mana. Sebab, bila semua daerah nanti melakukan pengembangan padi organik. Bisa saja akan terjadi kelangkaan, bila kompos hanya di olah atau di datangkan dari Kecamatan Sangir.

“Saat ini kita dapat kabar, bahwa di Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo juga sudah menanam padi organik seminggu yang lalu. Jadi, kompos mesti jadi acuan pemerintah atau dinas terkait,” harapnya.

Seiring adanya percontohan padi organik diulas Arlenandra, di setiap nagari pasti ada ppengembangan ternak oleh kelompok tani. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pupuk padi organik ketika  warga akan turun ke sawah.

“Bila pemerintah tak siap soal UPPO, kompos bakal sulit atau terjadi kelangkaan. Jika setiap daerah menuju pola padi organik dan dengan sendirinya akan beralih ke pupuk dan pestisida kimia,” imbuhnya.

Selain itu lanjutnya, perbaikan dan pembenahan irigasi perlu menjadi fokus pmerintah melalui dinas terkait. Jika ingin pengembangan untuk percontohan tanam padi organik, seban air adalah syarat utama dalam bercocok tanam padi. “Tak hanya kompos, tapi air adalah kebutuhan utama petani ketika hendak turun ke sawah,” harapnya.

Penyuluh Pertanian Pakan Rabaa Utara, Doni Prawira Negara, menjelaskan, penanaman padi organik di daerah itu sudah mencapai 12 hektare, dan 11, 5 hektare dilakukan proses tumpang untuk penanaman tahap tiga dan sedang proses pengusulan untuk sertifikasi benih.

Khusus pada penanaman perdana disisi produksi sedikit berkurang dalam masa transisi atau konvensional dari pupuk dan pestisida kimia beraluh ke kompos.  “Hasil panen perdana padi organik jauh menurun ketimbang panen ke dua kalinya, bisa saja disebabkan peralihan kontur tanah dari ketandusan akibat sering kali dilakukan pemupukan dengan pupuk kimia,” jelasnya.

Pada panen perdana yang merupakan rangkaian uji coba padi organik, per hektare sawah baru memproduksi 3,1ton sampai 3,2 ton per hektare. Tapi, pada tahap panen kedua, terjadi peningkatan hasil produksi 3,6 ton hingga 3,9 ton per hektare.

“Khusus penanganan hama, harus ada aliran air dipinggir pematang sawah. Kemudian pola pemusnahan hama tikus dan wereng, dilakukan penangkapan dengan perangkap dan bukan dengan memakai bahan kimia,” sambungnya.

Kepala Dinas Pertanian Solok Selatan, Tri Handoyo didampingi Kabid Penyuluhan Vera Septaria menambahkan, dengan kontur tanah yang subur, sehingga Pemprov Sumbar memilih Solok Selatan untuk pengembangan padi organik non kimia. Juga satu-satunya daerah di Sumbar sebagai pusat percontohan padi organik tersebut, namun upaya tersebut sudah mulai terlihat. Dari panen perdana hingga panen tahap dua, sudah terlihat peningkatan produksi.

Dari 12 hektare hanya butuh maksimal 38 ton kompos, tergantung kontur dan kesuburan tanah. Bila pola menanam padi biasanya menggunakan pupuk kimia jenis MPK, Ponska dan Urea, kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 105 ribu per karungnya. Dilihat perbandingan memang lebih diuntungkan petani dan tingkat mempertahankan kesuburan tanah sawah dari ketandusan.

“PR kita bagaimana ketersediaan kompos nantinya, jika pengembangan dilakukan di setiap daerah di Solsel. Dan perbaikan irigasi, sehingga produktivitas gabah dapat digalakan di Solsel terutama padi organik,” katanya. (*)

© 2014 Padek.co