Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Pengelolaan Konservasi Penyu Harus Terintegrasi


Wartawan : Fajril Mubarak - Padang Ekspres - Editor : Yogi - 19 November 2017 13:42:53 WIB    Dibaca : 59 kali

 

Keberadaan penyu di Sumbar sudah dicatat di dalam sejarah masyarakat Minangkabau sejak tahun 1942 (lokasi pantai Muara Padang) semasa zaman Jepang. Akan tetapi data-data tentang penyu memang sulit didapatkan. Sedangkan eksploitasi terhadap penyu tidak pernah berhenti sampai saat ini. Berikut petikan wawancara wartawan Padang Ekspres Fajril Mubarak dengan Doktor Penyu Universitas Bung Hatta (UBH), Dr Harfiandri Damanhuri SPi MSc, belum lama ini?
Kondisi penyu di Sumbar saat ini?

Kita lihat dari jumlah populasi yang berdasarkan kita buat tahun 2001, kecenderungannya makin lama makin menurun. Tapi kita lihat, jumlah penyu yang mendarat di satu stasiun yang dijadikan patokan untuk mengindikasikan penyu ini turun atau naik.

Tetapi upaya-upaya untuk meningkatkan jumlah populasi di alam terus kita lakukan. Sudah adanya pelepasan penyu yang dilakukan pusat-pusat penangkaran atau kawasan-kawasan berbasis masyarakat di Sumbar.
Berapa perkiraan populasi penyu di Sumbar?

Kalau kita prediksi, sekitar 25 ribu populasi penyu berada di perairan Sumbar, termasuk Mentawai. Kemudian, sekitar 5 ribuan penyu datang ke setiap lokasi peneluran di 60 titik yang berada di perairan Sumbar, termasuk Mentawai.
Penyu ini tersebar di mana saja?

Sekadar diketahui, penyu ini sendiri menyukai daerah terisolasi dan jauh dari aktivitas permukiman dan masyarakat, memiliki pantai putih dan berpasir halus, tidak terlalu terjal kemiringannya. Terdapat beberapa vegetasi untuk menjadi lokasi prioritas penyu bertelur.

Di Sumbar, ditemukan empat jenis penyu yang selalu singgah di sepanjang pantai wilayah ini. Yakni, penyu lekang (Lepidochelys olivachea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Saya sendiri belum pernah melihat penyu belimbing ini. Akan tetapi, saya baru menemukan telur penyu tersebut ketika sebelum perdagangan ini tutup.

Kami juga mendapatkan video dan fotonya dari masyarakat Siberut Daya, Mentawai. Dengan adanya video dan foto, saya rasa kita bisa menemukan penyu tersebut jika kita turun ke lokasi Siberut Daya, Mentawai tersebut.

Keberadaan penyu tersebut terbagi di wilayah Pesisir Selatan, Kota Padang, Padangpariaman dan Pariaman, Tiku Agam dan Pasaman Barat. Dari situlah telur-telur penyu ke luar. Dari yang kita data, ketika masih terjadinya perdagangan, sekitar 4-5 persen telur penyu yang diperjualbelikan berasal dari wilayah Pesisir Selatan.

Bagaimana Anda melihat penangkaran penyu di Sumbar?

Awalnya konservasi ini menganut dua paham. Ini dikarenakan latar belakang pendidikan dan pengetahuan. Ada pure conservation (murni konservasi), konservasi itu tidak ada lokasi penangkaran. Kedua, menganut paham konservasi bertujuan pendidikan; di sini memang ada penangkaran yang dibuat sehingga menjadi salah satu lokasi edukasi bagi pelajar sampai masyarakat.

Di Sumbar menganut dua model. Ada yang penangkaran dan langsung dilepaskan. Meskipun di penangkaran sendiri sebagai tempat edukasi, mereka pun secara alami melakukan pelepasan penyu. Mereka cuma mendata setelah itu dilepaskan. Kita menginginkan pelepasannya secara alami meskipun telurnya berasal dari relokasi.

Perhatian pemerintah terhadap konservasi penyu?

Selama ini perhatian pemerintah cukup bagus dan peduli untuk konservasi penyu tersebut. Dibuktikannya dibangun sejumlah infrastruktur untuk konservasi. Awalnya inisiasi pemerintah membangun penangkaran di Pulau Kerabak, Pesisir Selatan, meski pun data awal yang mereka gunakan adalah data penelitian UBH. Kemudian, dibangun Pariaman, Padangpariaman, Kota Padang, dan Tiku. Empat lokasi penangkaran inilah yang dibangun pemerintah sebagai tempat edukasi.

Adakah kekhawatiran nantinya di eksploitasi?

Tidak. Awalnya telur penyu itu dikonsumsi masyarakat. Dimana beranggapan telur penyu ini, salah satunya untuk vitalitas. Sekarang sudah ada keinginan masyarakat, mengantarkan telur penyu itu ke penangkaran. Setelah itu, di relokasi dan kemudian dilepas kembali ke habitat aslinya. Dengan demikian, secara tak langsung mengedukasi masyarakat bahwa penyu ini perlu diselamatkan.

Bagaimana Anda melihat masih ada eksploitasi penyu?

Saat ini, kita sudah memiliki Forum Konservasi Penyu yang telah di SK-kan Gubernur Sumbar sejak tahun 2015. Kehadiran forum ini, satu-satunya forum di Indonesia yang mengumpulkan dinas, kepolisian dan praktisi. Dari forum inilah, kami bergerak dan melakukan penindakan-penindakan terhadap perdagangan telur penyu. Bahkan, 4 atau 5 pedagang sudah kami ajukan ke pengadilan dan telah diberi sanksi. Ini sebagai bentuk efek jera bagi masyarakat sendiri.

Khusus di Mentawai, saat ini tim sudah berangkat ke sana untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat adat. Di sana, ada sebuah tradisi adat menyantap penyu tak hanya telur tapi hingga ke daging. Meski ada risiko kematian yang mereka akan dihadapi. Melihat kondisi demikian, kami melakukan pendekatan yang agak sedikit berbeda.

Oleh karena itu, pemerintah hendaknya memberikan peran lebih besar untuk persoalan tersebut. Termasuk para NGO. Salah satu solusinya, penggantian menu tradisi adat.

Bagaimana pendapat Anda penangkaran menjadi daya tarik wisata?

Kita susah menemukan titik temu dengan dinas pariwisata. Karena, pariwisata ini salah satu sasarannya daya tarik atau destinasi. Dengan pantai dan pulaunya. Dia (pariwisata, red) cenderung berorientasi jumlah kunjungan, transaksi dan membangun infrastruktur permanen.

Namun, dalam konsep wisata bahari yang dikonsep perikanan, bahwa dia berbasis penyelamatan lingkungan atau ekowisata. Jumlah kunjungan tamu terbatas atau tidak boleh massal. Infrastruktur yang dibangun alami.

Apakah ini termasuk dalam kajian disertasi Anda sendiri?

Ini juga menjadi kajian dalam disertasi saya. Dari hasil disertasi, dari tiga lokasi penangkaran yang dibangun pemerintah, Pulau Karabak Pesisir Selatan jauh lebih ideal sebagai sebuah kawasan konservasi. Ini dapat kita lihat dari aspek morfometrik yakni ukuran panjang dan lebar penyu lebih besar, habitat, dan sumber makanan yang luas.

Saran Anda terhadap pemerintah?

Pemerintah harus mengubah paradigma konservasi penyu. Walaupun infrastruktur yang telah dibangun tetap dijaga dan dirawat. Kami harapkan muncul lokasi baru konservasi penyu yang murni dan alami, khusus untuk semua penyu. Kita memprioritaskan di Mentawai memiliki peluang lebih besar dan dikaitkan dengan pendapatan tamu surfing. (*)

 

© 2014 Padek.co