Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Data lebih Penting Daripada Minyak


Wartawan : Emeraldy Chatra - Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unand - Editor : Elsy - 17 November 2017 14:36:57 WIB    Dibaca : 93 kali

 

Pada 6 Mei 2017 the economist.com merilis sebuah tulisan yang sangat menarik, berjudul The world’s most valuable resource is no longer oil, but data. Data lebih penting daripada minyak. Dulu minyak yang membuat orang jadi kaya raya, sekarang berganti jadi data.

Menurut tulisan itu, perusahaan-perusahaan seperti Alphabet (induk perusahaan Google), Amazon, Apple, Facebook dan Microsoft adalah lima perusahaan berbasis data yang sangat bernilai di dunia. Keuntungan bersih mereka mencapai USD 25 miliar pada kuartal pertama tahun 2017. 

Dikatakan, Amazon mengantongi setengah dari semua dollar yang dibelanjakan untuk online di AS. Google dan Facebook menyumbang untuk hampir seluruh pendapatan iklan digital yang tumbuh tahun lalu di negara tersebut.

Data dan internet berkelindan mencetak dollar untuk mereka. Data memang sangat penting untuk bisnis zaman now. Tapi, tanpa internet data hanya jadi kekayaan pasif. 

Internet itu ibarat urat nadi yang mengalirkan darah dan data ibarat mineral-mineral yang dialirkan ke berbagai organ tubuh. Setiap klik dalam pemakaian internet adalah perintah mengalirkan data. Dari data itu mereka mengantongi jutaan dollar.

Setiap kali kita mengklik aplikasi android untuk memesan taksi online kita mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli sekian megabyte data. Makin sering mengklik makin cepat berkurang paket data yang kita beli. Dari miliaran klik yang berarti penjualan beberapa megabyte data setiap klik maka setiap hari mereka meraup jutaan dollar. Hasilnya, pendapatan mereka lebih banyak daripada berdagang minyak.

Kita tidak boleh terlalu lama kaget atau terkagum-kagum melihat perubahan yang terjadi. Pilihan kita hanya satu: menyesuaikan diri. Tidak mungkin lagi menghadang gelombang perubahan yang begitu dahsyat. Ini revolusi teknologi.

Perubahan itu menghasilkan dua fenomena: disrupsi dan kesempatan. Disrupsi artinya kekacauan karena paradigma lama ditinggalkan. Supermarket bangkrut, berganti dengan bisnis online. Taksi konvensional gulung tikar, berganti dengan taksi online. Kuliah tatap muka tidak terlalu penting karena orang bisa belajar dari Google. 

Semua disrupsi bermula dari meluasnya pemakaian internet sampai ke pelosok-pelosok negeri. Arus perubahan semakin dahsyat dengan makin banyaknya orang menggunakan android. Belanja data orang Indonesia untuk WhatsApp saja mungkin puluhan miliar rupiah setiap hari (saya tidak punya data, hanya mengira-ngira). Belanja data itu tentu membuat kantong dollar pemilik WhatsApp makin padat.

Namun di sisi lain perubahan ini juga memberikan peluang bagi kita untuk melakukan sesuatu. Bisnis online bisa dimasuki dengan mudah. Mereka yang sadar akan cepat beralih ke online untuk memasarkan barang atau jasa mereka kepada konsumen.

Tapi jangan lupa, makin banyak kita mengambil manfaat dari internet, makin kaya pula penjual data. Setiap transaksi bisnis online mengalirkan uang kepada penyedia layanan internet karena produsen dan konsumen harus membeli data untuk melakukan transaksi. Tidak ada yang gratis, hanya saja kita kurang menyadari karena mereka mengambil sedikit-sedikit.

Di balik bisnis data yang mencengangkan itu terdapat operasi yang sangat berdampak pada kehidupan pribadi kita. Data yang mengalir melalui jalur online itu mengandung “metadata”, yang menjelaskan data itu sendiri. Ketika data pesanan sebuah barang dialirkan, data itu membawa serta identitas (nama, jenis kelamin, nomor HP, dan lainnya) dan alamat kita. Tulisan-tulisan yang kita kirim melalui internet juga akan disimpan, lengkap dengan atribut-atributnya.

Kalau data pesanan barang jenis yang sama dialirkan berulang-ulang, metadata akan menjelaskan kebiasaan kita dalam berbelanja. Tulisan kita akan menjelaskan orientasi pemikiran kita, apakah kita perlu diperhitungkan sebagai pengeritik atau pembela kekuatan tertentu. Metadata kemudian tersimpan dalam database yang suatu ketika dapat dijual kepada para pihak yang membutuhkan data individu.

Bagaimana kalau metadata itu dijual untuk kepentingan politik yang bertujuan menghancurkan negara kita? Inilah yang perlu dipikirkan orang-orang cerdas di negeri ini. Jangan sampai kegairahan kita memasuki revolusi digital justru menjerumuskan kita ke dalam neraka penindasan yang menyengsarakan di kemudian hari. (*)

© 2014 Padek.co