Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Ancaman Disintegrasi Bangsa


Wartawan : Redaksi - Editor : Elsy - 14 November 2017 14:44:40 WIB    Dibaca : 52 kali

 

Konflik yang melanda negeri ini, mulai dari konflik lahan, politik, ekonomi, agama dan beragam jenis konflik lainnya mengancam disintegrasi bangsa. Belum lama ini, satu kampung di Tembagapura, Papua, disandera oleh sekolompok kriminal. Warga satu kampung pun tak bisa keluar dari kampung, mereka kekurangan bahan makanan, pihak Polri-TNI pun berupaya melepaskan mereka dari tekanan komplotan kriminal.

Kapolri menyebutnya kelompok kriminal, bukan teroris, sebab aksi mereka merampos harta warga. Selain itu, jika dikatakan teroris, tentu ada yang diterornya, yakni negara. Sebutan kriminal dimaksud agar gaung mereka (aksi teros Papua Merdeka) tidak besar, karena aksi-aksi Papua Merdeka semakin gencar.

Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam suku, agama, pulau, bahasa dan lainnya sejatinya adalah keragamann yang satu, Bahinneka tunggal ika. Keberagaman pulau, suku dan lainnya itu merupakan kekayaan alam. Lalu mengapa Papua ingin merdeka? Ini karena mereka tidak diberlakukan adil. Adil secara ekonomi. Mereka pemilih tambang emas, tembaga dan kekayaan hutan lainnya, namun kehidupan mereka jauh dari kekayaan alam yang mereka miliki.

Kekayaan alam mereka mengalir ke pusat (Jakarta). Para elite bangsa yang menikmatinya. Lihat saja kehidupan pejabat tinggi di pusat, para petinggi ormas dan lainnya, sementara mereka yang hidup di perkempungan nun yang jauh di mata, jalannya rusak parah, kalau sakit harus ke puskesmas yang jauhnya berkilo meter. Kalau sekolah harus berjalan kaki melewati tanah lecah dan kaki mereka tidak bersepatu. Siapapun kalau diperlakukan seperti ini, di mana zaman sosial media sudah menyebar di mana-mana, mereka melihat kehidupan elite bangsa dan rakyatnya bagaikan panggang jauh dari api.

Jadi persoalannya bukan soal keragaman budaya, agama, suku, tetapi keadilan. Pemerintah tidak bisa memberi keadilan ekonomi. Pemerintah lebih sibuk mengurusi parpolnya. Elite parpol lebih sibuk mengurusi bagaimana lepas dari ancaman KPK. Lucu, bukan negara yang diurusi, tetapi mengurusi perut sendiri.

Keragamaan itu sudah takdir, sudah sunnatullah. Semua diciptakan beragam. Namun jangan jadikan keragaman itu sebagai biang disintergrasi bangsa. Tanya pada diri sendiri walau petinggi bangsa ini, apakah pernah engkau pikirkan nasib mereka yang bermukim di ujung negeri. Ataukan, dirimu memikirkan perut sendiri. (*)

© 2014 Padek.co