Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Mahasiswa Teknik Elektro Unand Ciptakan Alat Peringatan Dini Banjir Bandang


Wartawan : Intan Suryani - Padang Ekpres - Editor : Elsy - 14 November 2017 14:28:48 WIB    Dibaca : 10 kali

 

Sirene Berbunyi Menandakan Galodo Masih ingat banjir bandang yang menewaskan sejumlah mahasiswa pecinta alam (Mapala), Universitas Andalas tahun 2012 yang lalu? 

Mengantisipasi kejadian serupa, sejumlah mahasiswa Unand menciptakan alat peringatan dini banjir bandang yang disingkat Randang. Seperti apa?

“Peristiwa ini jangan sampai terulang lagi,” ungkap Rangga Aprilian, mahasiswa jurusan Teknik Elektro Unand saat ditemui Padang Ekspres kemarin (13/11). Bersama timnya, Willy Azhar,  Aulia Rahman, Faisal Rahmat, ia mengatakan, alat tersebut merupakan alternatif baru untuk mengetahui terjadinya banjir bandang. 

Ia memaparkan, ide pembuatan Randang berawal dari kasus banjir bandang yang sering terjadi di Kota Padang. Hal ini juga diperkuat oleh banyaknya sungai dan perbukitan yang kapan saja bisa menyebabkan terjadinya galodo dan banjir bandang. 

“Terkadang di perbukitan sudah hujan,  sedangkan di hilir tak basah sedikitpun. Ini sering membuat penduduk kelabakan, lantaran tak ada persiapan untuk evakuasi. Tiba-tiba air sungai sudah besar dan menimpa segala material yang berada di sekitarnya,” ujar mahasiswa angkatan 2013 tersebut. 

Nah, untuk studi kasusnya, alat tersebut akan dipasang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji, sebab tempat tersebut dikategorikan zona merah dan rawan galodo.

 “Alat dipasang tepat di bawah jembatan, dengan ketinggian lima meter dari dasar sungai. Satu alat di pasang di hulu dan satunya lagi di hilir. Diperkirakan jarak dua meter dari permukaan sungai,” jelasnya. 

Sebab, menurut Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), paling tinggi jika hujan lebat dua hari berturut-turut ketinggian air mencapai 2,23 meter. Sedangkan untuk banjir bandang ketinggian diperkirakan 4 meter. 

Sedangkan jika normal ketinggian air mencapai 2 meter dari 5 meter jarak antara dasar sungai dan alat. Sedangkan galodo 4 meter, masih sisa satu meter lagi untuk alat agar tak tersentuh air sungai. 

Ada pun komponen penyusunnya terdiri dari Arduino Uno, merupakan microprosesor yang digunakan sebagai otak program. GSM Shield,  komponen yang digunakan untuk mengirim sinyal ke tujuan.  Ultrasonic ping, sensor yang digunakan untuk mengukur jarak permukaan air. Lalu Buzzer, merupakan komponen yang mengeluarkan sumber bunyi. 

“Pada alat ini juga dipasang dua sensor. Pertama sensor pengukur tinggi air dan kedua sensor pengukur kecepatan air. Informasi dari sensor akan diteruskan ke modul GSM, suatu perangkat elektronik yang menerima sinyal digital yang bersumber dari sistem komputer seperti Board Arduino, PC dan mengubahnya menjadi sinyal elektromagnetik yang dipakai sebagai media tranmisi data oleh jaringan komunikasi,” jelasnya. 

Tak hanya itu, dalam sensor pengukur ketinggian air, ada tiga level skala ketinggian air. Di antaranya, skala kecil dengan level pertama zona aman, ketinggiaan mencapai 0 sampai 2 meter. Level kedua, zona waspada dengan ketinggian 2 sampai 3 meter. Terakhir level bahaya di atas 3 meter.  

“Ini masih tahap pengembangan. Saat ini inovasi masih dalam skala labor dengan skala ketinggian air dalam satuan centimeter. Menggunakan sampel irigasi sawah pengganti sungai,” ucapnya.

Ia melanjutkan, bagaimana alat tersebut mampu menghasilkan sirene, sehingga penduduk di sekitar bisa bersiap-siap untuk dievakuasi atau menjauh dari sumber bencana. Ia menjawab, alat yang sudah dipasang di hulu dan hilir, akan langsung ditransfer ke hilir. Sehingga sirene akan terdengar dan masyarakat bisa langsung bersiap-siap meninggalkan zona bahaya tersebut. 

Selain itu,  informasi juga akan disampaikan oleh alat melalui via SMS. Alat tersebut juga dilengkapi dengan kartu telepon yang bisa mengakses ke semua area jaringan telepon. “Program akan langsung bekerja mengirim informasi dalam bentuk SMS. Harapan kami,  bisa bekerja sama dengan operator, untuk menyediakan kartu dan mampu menembus sinyal sampai ke pelosok,” ujarnya.

Adapun keunggulan alat tersebut, seperti pengujian pengiriman informasi dari hulu ke hilir hanya butuh 12 detik. Sekitar 97 persen tingkat ketelitian kinerja alat dalam mendeteksi ketinggian air. Pembacaan air, memiliki jeda selama dua detik. “Tujuan jeda ini, ditakutkan ada material pengganggu yang melewati alat, sehingga diberikan jeda,” pungkasnya. 

Saat ini, untuk aplikasinya masih dalam perencanaan dan pengujian. Namun kendala yang dihadapi adalah dana untuk pengembangan alat dan memperbanyak alat. 

“Mudah-mudahan ada pihak terkait yang akan mendanai inovasi ini, dan kami siap merakit alat tersebut untuk dijadikan aplikasi sesuai standar lapangan,” tegasnya sembari mengatakan, butuh waktu satu bulan setengah untuk menciptakan alat dalam skala labor. 

Ia juga menambahkan, inovasi ini didanai oleh Pekan Kreativitas Mahasiswa tahun 2016 (PKM) yang diikuti oleh sejumlah mahasiswa seluruh universitas. “Kami menjadi juara favorit persentasi,” imbuhnya. 

Inovasi ini sangat didukung oleh Dr. Eng. Muhammad Ilhamdi Rusydi, selaku pembimbing. Ia mendorong inovasi ini terus dikembangkan.  

Teknologi ini merupakan tipe teknologi yang berguna dalam hal kebencanaan. Kondisi debit air di hulu sungai yang tidak mudah dimonitor secara langsung oleh manusia dapat diketahui dengan menggunakan Randang. “Keunggulan dari Randang ini adalah dia dapat memberikan pesan singkat ke ponsel mengenai status dari air di hulu. Masyarakat dapat menjauh dari DAS ketika peringatan dini datang dari Randang ke ponsel mereka,” jelasnya.

Selain itu, inovasi ini akan dapat mengurangi kerugian besar serta korban jiwa akibat dari banjir bandang. “Teknologi ini sangat bagus sekali dan dapat diaplikasikan dengan mudah,” tambahnya. 

Harapannya terkait riset ini, ia dan segenap pihak seprofesinya, terbuka berdiskusi dengan siapapun. “Kami di Teknik Elektro Unand terbuka untuk berdiskusi dengan siapapun untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di masyarakat yang dapat diselesaikan dengan teknologi,” tukasnya. (*)

© 2014 Padek.co