Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Berangkat Lebih Awal, Perhatikan Kualitas Barang Dagangan


Wartawan : Arfidel Ilham - Padang Ekspres - Editor : Yogi - 22 October 2017 13:09:59 WIB    Dibaca : 45 kali

 

Bukan hal baru, pedagang garendong masih eksis sebagai pintu rezeki bagi pedagang kecil. Berdagang menggunakan motor menjajakan dagang hingga ke pintu rumah warga. Perbandingan harga logis menjadi pilihan rumah tangga. Bagaimana kondisi pedagang garendong di Kota Payakumbuh?

Kendaraan roda dua dengan keranjang kayu dan rotan berjejer di sepanjang Jalan A Yani, persisnya di depan Pasar Ibuh, Kota Payakumbuh, sejak pukul 05.30. Sementara sejumlah orang yang berprofesi sebagai pedagang yang disebut pedagang garendong ini, berpacu mencari barang dagangannya ke dalam pasar.

Begitulah gambaran suasana pagi usai Subuh di Pasar Ibuh Kota Payakumbuh setiap harinya. Kebutuhan harian rumah tangga, mulai dari perlengkapan masak, aneka ragam kue dan makanan cemilan hingga kerupuk menjadi bagian dari dagangan para pedagang garendong.

Cabai, bawang merah, minyak goreng serta bumbu masak lainnya seperti jahe hingga daun kunyit dikemas dalam kantong-kantong kecil sesuai kebutuhan memasak takaran keluarga. Kelapa, sayuran dan jenis buah-buahan juga terselip dalam garendong yang terbuat dari kayu dan rotan pedagang, merupakan kebutuhan harian yang sudah dikemas dalam ukuran-ukuran kecil.  Begitulah kemasan sederhana para pedagang yanhg siap menuju tempat-tempatnya berdagang.

“Saya ke Lintau, Kabupaten Tanahdatar akan menjajakan dagangan ini,” ungkap Hendri, 35, salah seorang pedagang garendong disela-sela menata barang dagangannya pada paku-paku kecil disisi belakang garendong yang hampir penuh, kemarin (20/10).

Bapak dua anak yang sudah menggeluti usaha berdagang menggunakan sepeda motor dengan keranjang ini mengaku, sudah harus keluar rumah sejak usai Subuh. Berangkat dari tempat tinggalnya di Nagari Taehbaruah, Kecamatan Payakumbuh, Limapuluh Kota berburu barang dagangan terbaik di Pasar Ibuh.
 Berangkat lebih awal harus dilakukan sebagai bagian dari strategi persaingan. Sebab disaat pagi itulah pedagang memiliki banyak pilihan untuk kualitas barang dagangan. Bersaing dengan ratusan pedagang lainnya untuk  mendapatkan dagangan yang lebih baik.

“Kalau lai pagi, banyak pilihan nan rancak dagangan. Awak sanang pambali sanang pulo,” ungkap Hendri menambahkan cara mempertahankan pelanggan.
Menurutnya lagi, pedagang bisa menempuh jarak tempat yang cukup jauh hingga ke Kabupaten Agam dan Tanahdatar, hingga ke perbatasan Sumbar-Riau di Kecamatan Pangakalan Kotobaru. Berangkat usai Subuh, pedagang pada umumnya kembali menjelang Magrib atau setelah Magrib baru sampai di rumah.
Sementara keuntungan dicapai tidak terlalu besar. Menggunakan modal hingga Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu, pedagang mengaku  hanya bisa meraup keuntungan sekitar Rp 100 ribu - Rp 120 ribu saja.

“Ya, sekitar Rp 100 ribu, kadang ada juga di bawah itu  yang bisa dibawa pulang. Sebab pembeli tidak  bisa dipastikan, langganan bisa saja tidak membeli pada hari-hari  tertentu,” sebutnya.

Pedagang lainnya, Isra, 39, mengaku keuntungan dari pedagang garendong tidak signifikan. Persaingan yang ketat menyebabkan pedagang harus tetap berada diharga pasar saat menjual kebutuhan. Sebab jika keuntungan diambil lebih tinggi pembeli tidak membeli.

Sebenarnya kata  Isra, untuk Kota Payakumbuh dan nagari yang berada di Limapuluh Kota dan dekat dengan pusat pasar, pedagang garendong tidak bisa berharap banyak.  Sebab kebutuhan harian biasanya cukup dari belanja kebutuhan mingguan para ibu rumah tangga  ke Pasar Ibuh.

“Dagangan dijajakan ke nagari-nagari yang cukup jauh dari pusat kota. Namun tetap memperhitungkan hari pasar. Sebab hampir di sejumlah nagari, memiliki  pasar tradisional. Seperti halnya saya, setiap hari Jumat dijadikan hari libur sesuai dengan hari pasar di daerah tempat biasa saya berdagang,” ungkap Isra yang biasa berjualan di sejumlah nagari di Kecamatan Payakumbuh.

Meski saat ini persaingan cukup ketat, Isra merasa cukup masih bisa bertahan dengan profesinya sebagai pedagang garendong. “Alhamdulillah, rezeki sudah ada yang mengatur, kita jalani saja, dua orang anak saja masih bisa sekolah dengan hasil berdagang,” tambahnya.

Sementara respons dari sejumlah ibu rumah tangga di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota yang tidak  terlalu jauh dari pusat pasar mengaku, cukup  terbantu dengan keberadaan pedagang garendong.

“Sebenarnya di nagari saat ini, sudah banyak pula pedagang kebutuhan harian seperti ikan dan sayur segar  setiap hari. Jika ada kekurangan atau kelupaan atau sedang malas ke warung,  baru saya membeli kebutuhan dipedagang keliling ini,” ucap Rusumi, salah seorang warga, Kelurahan Pakan Sinayan, Kota Payakumbuh.

Sementara salah  seorang warga di Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Andriani, 29, mengaku memang mengandalkan pedagang garendong sebagai pemasok kebutuhan harian. Terpisah, Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Payakumbuh, Dahler menyebutkan pedagang garendong merupakan bagian dari roda ekonomi pasar Ibuh Payakumbuh. Jumlahnya yang cukup signifikan menjadi roda perputaran ekonomi masyarakat.

“Kita mendata ada sekitar 400-500 pedagang yang saat ini masih aktif berjualan menggunakan sepeda motor dan mengangkut baranga dagangan menggunakan keranjang. Pedagang yang disebut pedagang garendong ini, mampu menembus pasar hingga ke pintu-pintu rumah warga di Kota Payakummbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, bahkan ke kabupaten/kota tetangga,” sebut Dahler.

Kendati jumlahnya berkurang dari sebelum-sebelumnya akibat banyaknya pedagang kebutuhan kios dimasing-masing kelurahan dan  nagari. Hanya saja target pasar kabupaten/kota tetangga seperti Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanahdatar masih terbuka.

Saat ini, Dahler mengatakan memang masih belum ada bantuan penguatan untuk para pedagang garendong ini. Pedagang masih menggunakan keranjang sederhana. “Jika memungkinkan ke depan, pedagang  garendong bisa dilengkapi dengan saran yang lebih representatif, savety dan higienis. Bisa saja dalam bentuk bantuan garendong yang lebih rapi, mantel pelindung badan dan barang dagangan atau semacamnya,” ungkap Dahler. (*)

© 2014 Padek.co