Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Bakar Barang Bukti Rp 400 Juta


Wartawan : JPNN - Editor : Elsy - 19 October 2017 13:22:27 WIB    Dibaca : 41 kali

 

Bareskrim Bongkar Sindikat Pembuat Uang Palsu 

Dittipideksus Bareskrim Polri berhasil mengungkap keberadaan tempat pembuatan uang palsu di Bangkalan, Jawa Timur, Kamis (12/10). Pengungkapan itu sekaligus melumpuhkan aksi sindikat produsen dan pengedar uang palsu yang sudah beroperasi sejak sembilan tahun lalu. Tidak kurang enam tersangka diamankan melalui pengungkapan tersebut.

Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya menjelaskan, pengungkapan bermula dari informasi yang diterima oleh instansinya bulan lalu. ”Telah beredar uang palsu pecahan Rp 100 ribu di Majalengka, Jawa Barat,” ungkap dia di kantor Dittipideksus Bareskrim Polri, kemarin (18/10). 

Tidak berselang lama, mereka menangkap dua pengedar yang kini berstatus sebagai tersangka. Keduanya berinisial M dan S. Menurut pria yang akrab dipanggil Agung itu, M ditangkap berikut barang bukti uang palsu pecahan Rp 100 ribu sebanyak 117 lembar. Sedangkan S diamankan bersama barang bukti uang palsu pecahan Rp 100 ribu sebanyak 193 lembar. ”Kami tahu uang tersebut tidak dibuat oleh yang bersangkutan. Sehingga, kami telusuri mereka dapat uang palsu dari mana,” terang dia.

Penelusuran itu mengantarkan penyidik Dittipideksus Bareskrim Polri ke Surabaya. Dari Surabaya penelusuran berlanjut sampai Bangkalan. Di sana mereka menangkap perantara yang menyambungkan pengedar dengan pembuat uang palsu. ”Tersangka saudari RS. Ditangkap Kamis 12 Oktober 2017,” ucap Agung. Setelah didalami, diketahui bahwa RS merupakan istri pembuat uang palsu berinisial I. 

Ketika penyidik menggeledah rumah RS dan I di Jalan Jaya Wijaya, Kelurahan Mlajah, Kecamatan Bangkalan, mereka tidak menemukan I. Namun, mereka mendapati seperangkat alat pembuatan uang palsu. Mulai alat sablon, tinta, komputer, dan beragam perlengkapan lainnya. ”Kami menangkap I di Hutan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Dia bersembunyi di dalam gua atas petunjuk orang pintar katanya,” beber Agung.

Di samping tersangka M, S, RS, dan I, Dittipideksus Bareskrim Polri turut mengamankan dua tersangka lainnya. Yakni T yang berperan membantu I membuat uang palsu serta AR yang menyuplai modal. ”Modal sebesar Rp 120 juta dari tersangka AR,” jelas Agung. Berdasar data yang sudah dia kantongi, I yang juga kerap dipanggil GK bukan pemain baru dalam pembuatan maupun peredaran uang palsu. ”Dia residivis,” imbuhnya.

Serupa dengan I, tersangka M juga pernah berurusan dengan polisi lantaran tertangkap tengah mengedarkan uang palsu. ”Pernah di tahan satu kali tahun 2011. Dia divonis satu tahun satu bulan di PN Sumedang,” ucap Agung. Dengan modal dari AR, I memproduksi dan menyebarkan uang palsu. Tidak kurang enam provinsi menjadi sasaran sebagai lokasi penyebaran uang palsu tersebut. 

Mulai DKI, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, sampai Kalimantan Barat. ”Terbanyak ditemukan di Bali sebanyak 41 lembar,” tutur Agung. Dari pengakuan I, sindikat pembuat dan pengedar uang palsu itu telah membakar uang palsu dengan nilai mencapai Rp 400 juta. Itu sengaja dilakukan guna menghilangkan alat bukti. “Kami temukan bukti bahwa uang palsu itu sudah dibakar,” ungkap dia sambil menunjukan bukti tersebut.

Atas semua tindakan itu, enam tersangka sindikat pembuat dan pengedar uang palsu diancam dengan pasal 36 ayat (1) dan atau ayat (2) dan atau ayat (3) juga pasal 37 Undang Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. “Ancaman hukuman maksimal seumur hidup,” tegas Agung. Tindakan hanya diancam UU tersebut, mereka juga dijerat UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Agung menegaskan bahwa instansinya tidak berhenti di enam tersangka tersebut. Pengedar lain yang juga masih satu sindikat bakal turut diburu. ”Kami terus melakukan penelusuran,” kata dia. Dia menegaskan bahwa pemberantasan pelaku pembuat dan pengedar uang palsu terus digalakan oleh instansinya.  Senada dengan Agung, Direktur Departemen Pengelolaan Keuangan Bank Indonesia Luctor E Tapiheru pun menyampaikan bahwa mereka punya komitmen kuat memberantas dalang di balik peredaran uang palsu. 

Menurut Luctor, saat ini peredaran uang palsu di tanah air perlahan turun. “Sekarang perbandinganya dari satu juta lembar uang asli yang beredar hanya ada lima lembar uang palsu,” terang dia. Untuk terhindar dari uang palsu, masih kata Luctor, metode tiga D masih sangat efektif diterapkan oleh masyarakat. Sebab, tidak ada uang palsu yang bisa seratus persen sama dengan uang asli. Apalagi pecahan uang baru yang sudah diedarkan oleh BI. (*)

© 2014 Padek.co