Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Dikhawatirkan Rusak Objek Wisata


Wartawan : Putra Susanto - Padang Ekspres - Editor : Elsy - 11 October 2017 12:37:47 WIB    Dibaca : 17 kali

 

Kaji Ulang Rencana Pembangunan PLTA di Solsel

Pemkab Solok Selatan (Solsel) menekankan, rencana pembangunan PLTA di aliran sungai Lambai dan Belangir tak merusak objek wisata di daerah tersebut. Pasalnya aliran sungai ini di bagian hilirnya ada Air Terjun Tansi Tiga termasuk 6 air terjun lainnya.

“Setidaknya ada sebelas air terjun yang dilalui dua aliran sungai itu. Sementara terkait bendungan yang direncanakan akan dibangun di atas aliran Air Terjun Tansi Tiga, maka ada tujuh air terjun yang akan kekurangan debit air. Di mana air terjun tersebut sudah menjadi objek wisata potensial di Solok Selatan,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Kawasan Strategis dan Destinasi Kepariwisataan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solsel, Aig Wadenko. 

Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Setdakab Solok Selatan Epli Rahmat menyebutkan Pemkab Solsel sebenarnya mendukung setiap investasi yang ditujukan ke daerah Solsel. Namun, pihaknya juga tidak begitu menyetujui jika investasi justru membuat aset pariwisata Solsel menjadi terancam.

“Pemerintah sangat mendukung investasi yang masuk tetapi jangan merusak aset yang telah ada. Artinya jika PLTA tetap dibangun, maka dampak yang dikhawatirkan banyak pihak diharapkan tidak terjadi,” katanya.

Apalagi, sambungnya, tidak hanya satu, melainkan 11 aset wisata potensial yang ada di Solsel bakal terancam. Salah satunya Air Terjun Tansi Ampek yang saat ini digembar-gemborkan Pemkab Solsel untuk dikembangkan.

“Sebelum pembangunan PLTA ini, mesti ditelaah dulu dengan tepat dampaknya. Terutama untuk kawasan wisata Air Terjun Tansi Ampek. Jika ini tidak bisa diselamatkan maka kita tidak mendukung investasi tersebut,” katanya.

Ditambah, PT RLE juga merupakan bagian dari perusahaan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Di mana jalinan kerja sama atau kemitraan Pemkab Solsel dengan perusahaan BUMN itu sudah terjalin dalam waktu yang cukup lama dengan kesepakatan saling mendukung satu sama lain. 

“Kemitraan ini tentu perlu dijaga dengan saling mendukung. Artinya tanpa ada yang saling merusak salah satunya terkait ekowisata daerah Solsel. Setiap program pemerintah selalu direspons cepat oleh PT RNI dan juga sebaliknya,” ujarnya saat pembahasan dokumen analisis masalah dampak lingkungan (Amdal) PT RLE, kemarin (10/10).

Sebelumnya, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa mengkhawatirkan pembangunan PLTA ini berdampak pada wisata air terjun di hilirnya. KPA berharap kepada Pemkab Solsel untuk melakukan kajian ulang, mana yang lebih besar manfaatnya bagi masyarakat jika PLTA itu dibangun.

Direktur PT RLE, Ondi mengatakan, pihaknya berencana membangun PLTA dengan kapasitas 15,6 megawatt di dua aliran sungai tersebut. Selaku investor pihaknya tentu akan menjaga kepercayaan dari Pemkab Solsel untuk tidak merusak ekowisata yang telah ada selama ini.

“Setiap kegiatan tentu memilik sebuah dampak. Namun, yang perlu kita upayakan adalah bagaimana meminimalisir dampak tersebut,” ujarnya.

Pihak perusahaan lanjutnya, berjanji akan mengikuti peraturan yang ada serta terbuka dalam pembahasan dokumen apa pun. Termasuk melibatkan semua pihak terkait, baik tim teknis maupun pihak TNKS untuk turut melakukan telaah, kajian, dan survei ke lokasi terkait potensi pembangunan PLTA dan bagaimana dampaknya.

“Kita akan melakukan kajian bersama, memecahkan dan mencari solusi ini secara bersama juga. Terkait Air Terjun Tansi Ampek, maka kita pastikan aman dan kita tidak akan mengganggu itu. Sebab bendungannya kita rencanakan di Tansi Tiga,” akunya. (*) 

© 2014 Padek.co