Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Prihatin Geng Pelajar


Wartawan : Duski Samad - Guru Besar FTK IAIN Imam Bonjol - Editor : Elsy - 12 August 2017 12:28:52 WIB    Dibaca : 147 kali

 

Headlines Harian Padang Ekpres, Rabu, 9 Agustus 2017 di bawah judul, Mengungkap Aktivitas Geng Pelajar di Padang Pariaman; Dipimpin Panglima, Anak SD Turut Diajak Tempur, jelas menimbulkan keprihatinan dan kecemasan bagi siapapun yang peduli pada masa depan bangsa. 

Patut diketahui lebih dalam, apa memang pelajar yang terlibat dan menjadi pimpinan geng yang sudah memakan korban nyawa itu? Sudah jauh nian menyimpangnya moral pelajar di Padangpariaman? Dan, sederatan pertanyaan lanjutan yang membuat kita prihatin. 

Kondisi ini seakan menunjukkan, gemuruhnya semangat pembangunan yang digerakkan pemerintah daerah dan masyarakat Padangpariaman, menjadi tidak berbanding lurus dengan berita di muat koran bertiras besar di atas. Kota kecil Lubukalung, Pasarusang, Batanganai, dan kota kecamatan lainnya, ternyata menyimpan “bom” kerusakan moral yang mencemaskan. 

Sulit rasanya menutupi bahwa realitas sosial geng pelajar yang tengah mengancam generasi muda, lebih lagi pelajar adalah beban sejarah yang akan tidak mudah menghapusnya kelak. Berita yang didengar di lapau, tempat mangkal anak muda, bahwa narkoba, tawuran antar geng, minuman keras sudah dianggap biasa saja di lapau, warung dan tempat mangkal remaja, termasuk pelajar, sungguh memprihatinkan. 

Penelusuran wartawan Padek yang mengungkap mengapa pelajar terlibat dalam geng negatif? Dan, apa saja yang mereka lakukan? Nampak jelas bahwa pengawasan orang tua, kepedulian lingkungan dan tidak tegaknya hukum adalah sebab-sebab yang menjadi pelajar bebas dan merasa tidak takut melakukan perusakan dan kenakalan sampai pada tindakan kejahatan. Lemahnya dunia pendidikan dalam mendidik moral, mentalitas dan jiwa benar siswa adalah masalah lain yang harus segera menjadi perhatian stakeholders pendidikan di Padangpariaman dan Sumbar. 

Geng Remaja dan Pelajar

Geng dalam Kamus Inggris-Indonesia menurut John M Echols dan Hassan Shadily, berasal dari bahasa Inggris berarti gerombolan atau kumpulan yang menguasai daerah tertentu dalam lingkungan tempat tinggal (keberadaannya). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Geng  adalah 1. Kelompok remaja (yang terkenal karena kesamaan latar belakang sosial, sekolah, daerah, dan lainnya); 2. Gerombolan. Dapat juga merupakan kependekan dari gengster  yang terjemahannya adalah bandit atau penjahat. Sedangkan penulisan geng merupakan kata serapan dalam bahasa Indonesia dari bahasa asing.

Geng remaja dapat disamakan dengan kumpulan remaja yang memiliki indikasi nakal. Mengapa remaja nakal, di antara faktor-faktor kenakalan remaja dapat terjadi kurangnya kasih sayang orang tua. Kurangnya pengawasan dari orang tua. Pergaulan dengan teman yang tidak sebaya. Peran dari perkembangan Iptek berdampak negatif. Tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah. Dasar-dasar agama yang kurang. Tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya. Kebebasan yang berlebihan dan banyaknya masalah yang dipendam. 

Remaja tentunya sarat dengan pencarian jati diri. Salah satu ruang untuk mencari jati diri bagi remaja adalah komunitas sehobi atau sekadar mampu menampung keinginan sesaat, yakni geng. 

Pada tahap awal tidak ada yang salah dengan munculnya geng-geng di kalangan remaja. Sebab, hal itu selaras dengan kodratnya sebagai makhluk sosial. 

Akan tetapi, ketika mereka bersekongkol melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan orang lain secara terkoordinir, maka geng tersebut dapat dikatakan menyimpang. Justru yang terjadi di lapangan adalah banyak geng yang melakukan perbuatan negatif. 

Tindakan-tindakan negatif yang dilakukan oleh geng ini seperti tawuran antar geng, mabuk-mabukan, mencorat-coret dinding di tempat-tempat umum dan kasus tertentu ada yang sampai menghilangkan nyawa remaja lain.

Solusi Menghadapi Geng Remaja/ Pelajar

Fakta bahwa geng remaja/pelajar sudah menjadi masalah yang mencemaskan adalah kondisi sosial yang harus menjadi perhatian semua pihak. Mengembalikan remaja dan pelajar pada pencarian jati diri yang positif, dengan mengembangkan kegiatan yang menumbuhkan kreativitas dan inovatif. Membuat anak muda dan pelajar agar jangan asal bergaul dengan teman yang beranggota geng motor jika tidak bisa menahan tawarannya. Artinya, mendamping remaja dan pelajar akan bahaya geng adalah pekerjaan kolektif. Edukasi dan komunikasi agar remaja dan pelajar tidak mudah tergiur pada eksistensi pada usia muda semata, tetapi harus memikirkan masa depan mereka. Menanamkan dan membiasakan kegiatan keagamaan adalah cara lain untuk menyehatkan remaja dan pelajar dari dampak buruk geng. 

Ada beberapa solusi yang dapat diperkuat dalam menyehatkan kembali geng remaja dan pelajar. Pertama, internalisasi atau penanaman nilai-nilai sosial melalui kelompok informal atau formal diyakini dapat mencegah berkembangnya geng remaja negatif. Lembaga-lembaga sosial, seperti keluarga dan sekolah, adalah kekuatan yang dapat membatasi meluasnya geng remaja/pelajar. 

Mekanisme pengendalian itu lazim disebut sosialisasi. Dalam proses sosialisasi itu, setiap unit keluarga dan sekolah memiliki tanggung jawab membentuk, menanamkan, dan mengorientasikan harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, serta tradisi-tradisi yang berisi norma-norma sosial kepada remaja. 

Bahkan, hal yang harus ditegaskan adalah sosialisasi yang bersifat informal dalam lingkup keluarga jauh lebih efektif. Sebab, dalam domain sosial terkecil itu terdapat jalinan yang akrab antara orangtua dengan remaja.

Kedua, penerapan hukum pidana yang dilakukan secara formal oleh pihak negara. Dalam kaitan itu, aparat penegak hukum, seperti kepolisian, pengadilan, dan lembaga pemenjaraan, dapat  digunakan untuk mengatasi geng pelajar. Keuntungannya adalah penangkapan dan pemberian hukuman kepada anggota-anggota geng yang melakukan tindakan kriminal mampu memberikan efek jera bagi anggota-anggota atau remaja lain. 

Dalam konteks keluarga, ada beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun. Adanya pengawasan dari orangtua yang tidak mengekang. Contohnya, kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya dan apabila menurut pengawasan dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orang tua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut. Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun  baik lebih tua darinya. Karena, apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia  pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.

Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti televisi, internet, radio, dan handphone. Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah. Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai iman kepercayaannya. 

Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan  pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat positif. Karena dengan melarangnya, dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya. Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat curhat yang nyaman untuk anak Anda, sehingga Anda dapat membimbing dia ketika sedang menghadapi masalah.

Akhirnya dapat dikatakan bahwa maraknya geng remaja atau pelajar yang berperilaku negatif adalah tantangan berat yang tidak boleh dibiarkan membesar. Pemerintah daerah, pemuka agama, pemuka adat, pendidik dan semua pihak diminta untuk secara sungguh-sungguh memberikan perhatian bagaimana menyehatkan mereka yang sudah terlibat. Mencegah dan mengedukasi agar remaja dan pelajar yang masih baik, tidak sampai terjerat pada perilaku buruk geng remaja atau pelajar. Mendidik generasi muda untuk masa depan kehidupan, adalah amanah kehidupan yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Semoga semua pihak menyadarinya. (*) 

© 2014 Padek.co