Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Mengintip SMAN 11 Padang Peraih Adiwiyata Nasional Mandiri 2017


Wartawan : Intan Suryani - Padang Ekpres - Editor : Elsy - 12 August 2017 11:48:58 WIB    Dibaca : 99 kali

 

Siswa Malu bila Dapat Bendera Merah 

Teknik pemberian bendera hijau, kuning, dan merah, salah satu cara menanamkan kesadaran peduli lingkungan kepada para siswa di SMA Negeri 11 Padang. Ternyata cara tersebut menjadi nilai plus bagi sekolah ini meraih Penghargaan Adiwiyata Mandiri 2017. Seperti apa?

Kamis (10/8), Padang Ekspres menyambangi sekolah yang berlokasi di Kecamatan Bungus Telukkabung ini. Udara yang sejuk dan pepohonan rindang menyambut kedatangan Padang Ekspres ketika memasuki lingkungan sekolah itu. Tatanan kolam ikan nan sedap dipandang menambah keindahan taman sekolah tersebut. Ditambah aliran air dari pipa menuju kolam, yang dibuat menyerupai air terjun mini. 

Ada yang unik. Beberapa kelas dihiasi bendera kecil berwarna hijau, kuning dan merah. Seperti sebuah simbol yang membedakan antara kelas satu dengan yang lain. Mantan Ketua OSIS, SMAN 11 Padang, Andhyka Rauf mengatakan, simbol bendera adalah salah satu cara sekolah menyadarkan siswa  untuk peduli lingkungan. 

“Ini dapat menanamkan karakter peduli lingkungan, sebab tiap minggu selalu diadakan lomba kebersihan kelas.  Kelas yang terlihat bersih akan diberi bendera hijau, kelas yang kurang bersih warna kuning, sedangkan kotor diberi warna merah. 

Tujuannya, agar seluruh siswa berlomba-lomba membersihkan kelas. Jangan sampai dapat bendera merah, lambang yang memalukan untuk setiap penghuninya,” ungkapnya. Siswa XII IPA 1 ini, mengungkapkan, di sekolahnya juga diselenggarakan Adiwiyata kelas. 

“Adiwiyata ini diselenggarakan setiap akhir semester genap, dengan kategori kelas bersih simbol bendera hijau. Pemenang diberi plakat Adiwiyata kelas. Untuk realisasinya ada petugas khusus dari OSIS yang setiap hari memantau dan menggantikan bendera sesuai dengan kondisi kelas,” jelasnya.

Teknik itu, katanya, menjadi kunci yang cukup ampuh dalam membiasakan siswa untuk menjaga kebersihan. “Selain kebiasaan kita juga dituntut untuk berinisiatif menciptakan terobosan baru peduli kebersihan, salah satunya taman dan hutan sekolah,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Adiwiyata SMAN 11 Padang, Afrizal. Selain sebagai guru ia juga membentuk tim khusus Adiwiyata. ”Saya libatkan semua pihak, kita punya tim khusus yang berkewajiban dalam membersihkan lingkungan sekolah, terdiri dari guru, karyawan, siswa-siswi dan penjaga sekolah,” ujarnya.

Kerja keras yang dirintis bersama membuahkan hasil. ”Dari 2014 kita sudah mulai menata lingkungan, mensosialisasikan kepada siswa, dan merancang strategi untuk menanamkan upaya sadar lingkungan,” tuturnya. 

Contohnya saat ini, pihak sekolah fokus membuat hutan sekolah yang berlokasi di belakang sekolah. Tujuannya untuk menjaga kelestarian alam, reboisasi. Sedangkan di depan sekolah kita buat taman dengan asesoris kolam,  air bekas wuduk siswa dimanfaatkan untuk kolam ikan.

“Saya berkeinginan setiap orang berkunjung ke sini, bukan hanya menikmati suasana pantai saja, tapi juga hutan sekolah yang sejuk,” terangnya.

Terkait pemanfaatan sampah, pihak sekolah melakukan daur ulang sampah dari daun pohon yang gugur. “Sampah yang terkumpul kita pisah antara organik dan anorganik. Organik dijadikan pupuk kompos, dalam media komposter. Nantinya pupuk yang sudah jadi dimanfaatkan untuk tumbuhan hutan sekolah di lahan yang masih kosong,” bebernya. 

Lain dengan sampah anorganik, penjaga sekolah yang akan memberdayakannya, salah satunya dijual. Untuk menanamkan kebiasaan peduli lingkungan, ia punya trik khusus yang sudah terealisasi sejak tahun 2014. 

“Kebersihan kelas dilihat dari simbolisasi bendera, kita selalu tandai kelas yang punya bendera hijau,  merupakan simbol kebersihan. Nanti yang mampu mempertahankan simbol tersebut sampai batas tertentu ia akan memenangkan penghargaan Adiwiyata kelas. Juara pertama kita bawa jalan-jalan keluar daerah,” ungkapnya.

Kepala SMAN 11 Padang, Muragusman Eka, mendukung apa pun program terkait Adiwiyata. Simbol bendera itu salah satu proses memotivasi anak-anak sadar kebersihan lingkungan.

Keinginannya menjadikan sekolah tersebut dikenal oleh semua sekolah khususnya Kota Padang. “Selama ini sekolah kita tak dikenal, karena berada di pinggir kota, setelah memperoleh beberapa penghargaan, Alhamdulillah sekolah ini sudah mulai diperhitungkan,” ucapnya.

Prospek ke depan yang ingin ia capai tetap mempertahankan karakter peduli dan bersih lingkungan. “Piala bukan segalanya,  penanaman karakter yang penting. Kita menargetkan dua tahun lagi untuk ikut perlombaan Adiwiyata tingkat Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Syarat untuk tingkat ASEAN 70 persen guru harus mampu berbahasa Inggris, sedangkan siswa sekitar 50 persen. Salah satu solusinya menjalin kerja sama dengan salah satu orang Amerika, kebetulan dia juga punya program dengan tujuan yang sama,” tukasnya. (*) 

© 2014 Padek.co