Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

2100, Semua Energi dari Matahari


Wartawan : Almurfi Syofyan - Padang Ekspres - Editor : Elsy - 12 August 2017 11:46:32 WIB    Dibaca : 31 kali

 

Potensi Panas Bumi Baru 4 Persen Termanfaatkan 

Indonesia memiliki potensi panas bumi (geothermal) terbesar di dunia. Yakni sekitar 29 ribu megawatt, atau setara 40 persen cadangan panas bumi dunia. Namun yang baru dimanfaatkan baru 4 persen saja.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Riset  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maizar Rahman saat jadi pemateri dalam kuliah umum “Tantangan Energi Global dan Indonesia” di Aula Caraka Gedung B Kampus I Universitas Bung Hatta Ulakkarang Padang, Kamis (10/8).

Dikatakan, letak geografis Indonesia yang berada pada jalur gunung api, membuat Indonesia memiliki potensi panas bumi melimpah, yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan penghasil listrik.

Gubernur Organisasi Negara Pengekspor Minyak OPEC (2005-2008) dan Komisaris Pertamina (2006-2010) ini juga mengatakan, pemerintah hanya mampu membeli Rp 900/KwH.

Sementara biaya produksinya mencapai Rp 1.300/KwH sehingga investornya menjadi bingung. “Di sinilah perlu kebijakan pemerintah untuk mendukung pengembangan energi ini,” paparnya.

Dijelaskan, tahun 2100 nanti, dunia dan Indonesia tak akan bergantung lagi pada energi fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam. Namun sudah semuanya menggunakan energi matahari. Energi matahari adalah energi masa depan Indonesia.

Kuliah umum ini diadakan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri (FTI) UBH yang diikuti oleh 60 peserta, 30 siswa dari SMAN 3 Padang dan sebagian mahasiswa tingkat akhir FTI.

Wakil Dekan FTI, Yusrizal Bakar saat membuka kuliah umum ini mengatakan, tema itu diangkat karena isu yang diketengahkan masih sangat hangat diperbincangkan. 

Dari segi kebijakan, pemerintah telah mengundangkan Perpres No. 5/20016 tentang Kebijakan Energi Nasional. Tujuannya untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri. Beberapa sasaran kebijakan yang secara rinci diatur dalam Perpres itu adalah pada tahun 2025 terwujudnya elastisitas energi di bawah 1.

Serta juga pengurangan porsi BBM dalam komposisi energi primer hingga 20% dan optimalisasi bahan bakar batu bara dan gas masing-masing 33% dan 30% serta sisanya dengan menumbuhkan sumber energi terbarukan.

Untuk mencapai sasaran tersebut ada dua kebijakan yakni mengatur penyediaan, pemanfaatan, kebijakan harga dan konservasi alam serta kebijakan pendukung yang mengarah ke pengembangan infrastruktur, kemitraan pemerintah dan swasta serta pemberdayaan masyarakat. (*)

© 2014 Padek.co