Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Bebaskan Mahasiswa, KBRI Kirim Lawyer


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Elsy - 11 August 2017 13:16:18 WIB    Dibaca : 140 kali

 

Keluarga Tolak Deportasi Nurul dari Mesir

Dua orang mahasiswa asal Sumbar yang ditahan otoritas keamanan Mesir sejak 1 Agustus 2017, hingga kemarin belum bisa ditemui pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo.

Dua mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo bernama Nurul Islami dari Kabupaten Limapuluh Kota dan Muhammad Hadi dari Kota Payakumbuh itu, tengah diupayakan pembebasannya oleh KBRI dari lokasi penahanannya di Kantor Kepolisian Kota Aga.

Duta Besar Indonesia di Kairo Helmy Fauzi menyebutkan, sehari setelah penangkapan terhadap Nurul dan Hadi, pihaknya langsung mengirim nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Mesir dengan tembusan Kementerian Dalam Negeri dan Dinas Keamanan Nasional Mesir. ”Kami mempertanyakan penahanan dan keberadaan dua WNI tersebut,” kata Helmy saat dihubungi koran ini, kemarin (10/8).

Helmy mengatakan, kendati penahanan sudah dilakukan cukup lama, hingga saat ini pihaknya masih belum menerima notifikasi resmi dari aparat keamanan Mesir. 

Dua staf KBRI Kairo juga telah berkunjung ke Samanud, tempat dua mahasiswa itu ditangkap, dan ke Kantor Kepolisian Kota Aga yang berdasarkan informasi tidak resmi merupakan tempat penahanan kedua mahasiswa itu.

”Namun jangankan dapat bertemu dengan para mahasiswa yang ditahan tersebut, KBRI meski telah berkunjung secara resmi, tidak memperoleh keterangan atau informasi dari aparat keamanan setempat terkait keberadaan mereka,” terang Helmy.

Dia menuturkan, saat ini pihaknya telah mendapat konfirmasi informal bahwa kedua mahasiswa tersebut benar ditahan di Kantor Kepolisian Kota Aga. Hal ini terus dikomunikasikan dengan pihak Kemenlu, Dinas Keamanan, dan aparat kemanaan Mesir.  ”Kami juga mengirim lawyer (pengacara) untuk membebaskan mereka,” ucapnya.

Menurut Helmy, besar kemungkinan kedua mahasiswa itu akan dideportasi. Sebelumnya, kata dia, KBRI telah mengeluarkan imbauan agar seluruh mahasiswa Indonesia untuk meninggalkan Samanud dan tidak lagi mondok, mengkaji dan belajar ilmu agama dengan para ulama yang tidak berafiliasi dengan Al Azhar dan malah berseberangan dengan pemerintah Mesir.          
              
Bahkan, kata Helmy, KBRI juga telah menawarkan bantuan untuk memfasilitasi pengambilan barang-barang milik mahasiswa Indonesia yang masih tertinggal di Samanud. Namun, para mahasiswa Indonesia tersebut menolak bantuan dan mengatakan bisa mengambil sendiri barang mereka yang tertinggal di sejumlah pemondokan di Samanud.

Helmy menjelaskan, umumnya madrasah tempat pengkajian agama di Samanud dipimpin dan diasuh oleh para sheikh atau ulama yang tidak berafiliasi dengan Al Azhar, dan bahkan dinilai berseberangan dengan pemerintah Mesir. 

”Grand Sheikh Al Azhar sendiri telah mengimbau agar para mahasiswa yang selayaknya harus menimba ilmu di Al-Azhar dengan para ulama Al Azhar untuk meninggalkan Samanud dan tidak belajar ilmu agama dengan ulama non-Al Azhar di sejumlah madrasah di daerah tersebut,” jelas Helmy. 

Di sisi lain, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mendesak Kemenlu untuk segera membantu pembebasan dua mahasiswa Al Azhar Kairo asal Sumbar, Nurul dan Hadi yang ditahan otoritas keamanan setempat.

”Saya hanya bisa mendesak Kemenlu supaya memfasilitasi Duta Besar Indonesia disana (Mesir) untuk segera menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya di sela-sela rapat koordinasi dengan bupati dan wali kota di Padang, kemarin (10/8).

Di samping itu, Irwan juga mengimbau, agar seluruh mahasiswa dari Indonesia, khususnya Sumbar, agar menjauhi kawasan konflik. Termasuk jangan terlibat dengan perselisihan konflik politik di Mesir. ”Peristiwa ini pelajaran untuk kita bersama, terutama mahasiswa. Jadi, kalau menuntut ilmu, ya kuliah saja dengan rajin. Jangan terbawa arus politik, apalagi masuk wilayah konflik,” imbaunya.

Dapat Beasiswa Kuwait

Sementara itu, Kakak Nurul Islami, Muhammad Khoironi di Jorong Kototinggi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota mengungkapkan, dia sekitar pukul 22.00 tadi malam (10/8), telah dihubungi orang yang mengaku dari KBRI Kairo, bernama Kuku. ”Beliau mengaku bernama Kuku dari KBRI Kairo. Setelah dicek nomor teleponnya memang kode negara sana,” kata Roni.

Kepada Roni, Kuku menyampaikan bahwa pihak KBRI Kairo sehari setelah penangkapan, Rabu (2/8), telah ke Samanud. Namun, tidak bertemu Nurul dan Huda. Lalu pada Jumat (4/8), mereka kembali lagi dan baru mendapatkan informasi dua warga Sumbar itu ditahan di Kota Aga. ”Tapi, pihak KBRI tidak bisa bertemu keduanya,” kata Roni menirukan keterangan Kuku.

Saat ditanya Roni kapan adiknya bebas, Kuku tak bisa memastikan. ”Beliau mengatakan, pihak KBRI tengah mengupayakan pembebasan,” imbuh Roni.

Terkait kemungkinan Nurul akan dideportasi ke Indonesia setelah dibebaskan nanti, Roni bersama keluarganya berharap hal itu tidak terjadi. Pasalnya, Nurul tidak lama lagi akan mengakhiri kuliahnya di Mesir. ”Oktober nanti Nurul masuk semester tujuh, sudah tanggung. Jadi, kami mohon tidak dideportasi. Apalagi, Nurul mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah S-2 (magister) ke Kuwait,” harap Roni. 

Masuk Wilayah Terlarang

Seperti diberitakan Padang Ekspres Kamis (10/8), dua orang mahasiswa asal Sumbar yang kuliah di Universitas Al Azhar Kairo, Nurul Islami dan Muhammad Hadi dikabarkan hilang sejak sepekan terakhir. Keduanya diduga ditahan aparat keamanan Mesir karena memasuki zona terlarang.

Muhammad Khoironi alias Roni, kakak Nurul Islami menuturkan, adiknya sudah seminggu tidak memberi kabar. ”Sudah seminggu saya tidak bisa hubungi adik saya. Saya dapat kabar dari teman adik saya yang kuliah di sana, kalau adik saya Nurul Islami dan temannya Muhammad Hadi ditahan pihak keamanan Mesir, tepatnya di Markaz Aga, Provinsi Ad-Daqohliyyah,” kata Roni, Rabu malam (9/8).

Keterangan yang diperoleh Roni dari Azan, teman adiknya di Mesir, pada 31 Juli lalu, Nuis (panggilan akrab Nurul Islami) dan Hadi (asal Tanahmati, Payakumbuh) pergi ke daerah Samanud. Daerah ini berjarak lebih kurang 150 km dari Kota Kairo tempat mereka tinggal sejak dua bulan terakhir.

Samanud ditetapkan pemerintah Mesir sebagai daerah terlarang untuk dilintasi bagi orang asing, termasuk asal Indonesia. ”Adik saya dan Hadi dulunya kos di Samanud, tempat kejadian. Karena di Samanud ada konflik antara Pemerintah Mesir dengan salah satu ormas lokal, dikeluarkan pemberitahuan kalau daerah Samanud adalah zona yang tak bisa dihuni WNA, termasuk mahasiswa asal Indonesia. Atas kondisi itu, adik saya pindah kos sejak dua bulan lalu,” kata Roni.

Meski sudah pindah kos ke Kairo, tapi Nuis dan Hadi terpaksa kembali ke Samanud pada 31 Juli lalu, untuk menjemput barang yang masih tertinggal. Saat berada di Samanud keduanya pergi membeli air minum dan makanan sekitar pukul 02.00, Selasa (1/8), karena merasa haus dan lapar. Saat itulah mereka diikuti polisi Mesir. 

”Kabar yang saya dapat dari Azan, adik saya dan Hadi awalnya dimintai memperlihatkan paspor. Kemudian, dibawa ke kantor polisi terdekat dan ditahan. Sejak 1 Agustus mereka sudah menghubungi teman-temannya di Kairo, serta ketua persatuan pelajar dari Sumbar/ KMM Mesir, kabarnya sudah dibantu oleh pihak KBRI Kairo. Namun, sudah tanggal 8 Agustus Hadi dan Nuis masih belum keluar,” kata Roni. (*) 

© 2014 Padek.co