Amuk Massa dan Edukasi Nirkekerasan


Wartawan : Faisal Zaini Dahlan - Dosen Studi Agama-agama UIN Imam Bonjol Padang - Editor : Elsy - 09 August 2017 13:04:27 WIB    Dibaca : 122 kali

 

Tragedi kemanusiaan berupa pembakaran hidup-hidup “MA”, tertuduh pencuri amplifier mushala Al-Hidayah Hurip Jaya, Bekasi, Selasa (1/8/2017), menambah argumentasi bahwa budaya kekerasan masih laten di tengah masyarakat. Terlepas dari fakta dan hasil proses hukum, tindakan yang viral di media itu tidak dibenarkan oleh agama dan budaya beradab manapun. Fenomena itu selain potret buruk dari kondisi riil patologi sosial yang tengah menjangkiti, juga bisa jadi sebagai contoh kecil letupan emosional kolektif yang potensi sesungguhnya jauh lebih sadis dan tragis.  

Quo Vadis Peri Kemanusiaan dan Keadilan

Bangsa ini sejatinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Pancasila sebagai falsafah dan jati diri bangsa menempatkannya pada prinsip kedua setelah diktum teologis (ketuhanan). Artinya, dalam konteks sosiologis, nilai-nilai itu menjadi prinsip utama, sebagai fondasi bagi bangunan sosio kultural bangsa ini. Sejauh mana penghormatan atas harkat dan martabat manusia adalah indikator keberadaban yang harus dijadikan kesadaran kolektif dan nilai komunal.

Meski secara konseptual telah termaktub pada falsafah negara, namun berbagai bentuk pelanggaran kemanusiaan dan tindak kekerasan kolektif masih fenomenal terjadi. Fakta itu dengan sendirinya menjadi pembenaran demi pembenaran atas pernyataan Freek Colombijn dan J Thomas Linbald, penyunting Roots of Violence in Indonesia, yang menyebut “Indonesia is a Violent Country”, sebagaimana dikutip Sukidi dalam Very J Manik (2003). 


Silahkan Login Untuk Lanjut Membaca

Username/ Email
Password
© 2014 Padek.co