Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Banyak Ditunggangi Kepentingan


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon - 02 July 2017 11:22:17 WIB    Dibaca : 92 kali

 

Reuni jangan Salah Sasaran

Pada prinsipnya temu alumni (reuni) merupakan hal positif. Para alumni ingin menunjukkan baktinya dalam kemajuan almamater. Namun tak bisa dipungkiri akan muncul hal-hal negatif. Begitu juga akan ditumpangi berbagai kepentingan individu alumni itu sendiri.

Misal saja ada alumni yang menjadi calon legislatif, atau kepala daerah. Ini bisa dijadikan ajang kampanye. Atau bisa saja merusak hubungan keluarga anggota alumni itu sendiri. Tak jarang akan mengungkit kisah percintaan semasa sekolah atau kuliah dulu.

Dosen Sosiologi FISIP Unand, Dwiyanti Hanandini menyebutkan kecenderungan anggota reunian memilih tempat yang lebih expensive untuk pertemuan. Biasanya mereka berkumpul di tempat yang elite-elite seperti hotel, sehingga dana yang dikeluarkan cukup besar. 

Hal ini berdampak terhadap anggota alumni yang tergolong ekonomi rendah. Pasalnya, keterbatasan ekonomi menjadikannya tidak bisa mengikuti acara perkumpulan tersebut. Sehingga yang hadir hanya golongan yang mampu saja dari segi ekonominya.

Dia berpendapat agar tidak terjadi kesenjangan sosial dalam perkumpulan alumni tersebut, panitia alumni mungkin bisa mengkondisikan pertemuannya. Baik dari segi tempat maupun dress code-nya. Misal pertemuan bisa diadakan di tempat pariwisata alam. Sehingga tidak begitu banyak mengeluarkan dana, dan ekonomi ke bawah pun bisa ikut serta. 

“Begitupula dress code-nya, kita bisa mengenakan baju kaos putih biasa dengan sepatu kets sehingga tampilan terlihat sederhana,” tuturnya.

Terkait manfaat, Dwiyanti Handini, menambahkan, manfaat sosial yang sering dihasilkan setelah pertemuan. “Saat pertemuan inilah kita paham dan tahu bagaimana kondisi teman-teman dahulu. Misal ada salah satu anggota yang anaknya tidak sekolah. Sehingga anggota bisa berdistribusi untuk membantu membiayai sekolah anak tersebut. Begitupula dengan teman yang lain yang sedang sakit kita bisa membantunya untuk biaya rumah sakit, dan kegiatan positif lainnya,” jelasnya.

Sosiolog dari Unand Afrizal menyebutkan fenomena reunian ini seharusnya menghindari berbagai aspek negatif. Seperti sebagai ajang pamer keberhasilan, memperlihatkan kekayaan serta juga berpotensi bisa merusak hubungan keluarga akibat cinta lama bersemi kembali alias CLBK.

”Saya dengar, ada beberapa acara reunian ini cenderung dijadikan sebagai ajang pamer dan sebagainya. Dan juga selama ini, saya melihat tujuan utama dari acara reunian sudah mulai beranjak dari marwah dan tujuan utamanya,” ujarnya.

Seharusnya, menurut Afrizal, acara reunian tersebut mesti dijadikan sebagai ajang silaturahmi dan sebagai wadah bersosialisasi sesama alumni. Sehingga setiap permasalahan yang dialami oleh salahseorang alumni, secara bersama-sama dapat dibantu. 

Dengan diadakannya acara reunian itu sebetulnya bisa menambah keakraban sesama alumni. Seharusnya panitia acara bisa membatasi terjadinya hal-hal negatif seperti ajang pamer. Panitia bisa membuat konsep yang bisa menggambarkan kesederhanaan.

Misalnya dalam pemakaian busana yang tidak boleh glamor. Serta di dalam pelaksanaan acara, panitia harus bisa merangkul semua alumni. Jangan sampai ada diantara alumni merasa kurang diperhatikan.

Afrizal juga mengimbau rekan-rekan media untuk mengingatkan hal tersebut agar marwah reunian itu tetap terjaga. “Selama ini, peran media cukup efektif dalam mengungkap sejumlah kejanggalan serta berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Diharapkan dengan pemberitaan oleh berbagai media, bisa mengingatkan kembali masyarakat tentang tujuan utama dalam acara reunian” jelasnya.

Dia juga melihat banyak para alumni yang merasa minder untuk datang. Atau hanya sekali saja datang, dan tahun depan tak mau lagi datang. Pasalnya saat reuni tadi, ada muncul kesan menonjolkan keberhasilan dan lainnya.

Padahal tujuan dari reuni itu baik, menjalin silaturahmi dan hubungan masyarakat. “Hal seperti pamer dan lainnya tak bisa terlepas dari ajang reuni ini. Tinggal bagaimana cara menyikapi ego tersebut,” katanya.

Ajang reunian juga bisa dijadikan tempat berkampanye bagi para pengusaha atau calon legislatif yang akan menjadi pejabat, karena lingkungan link yang luas menjadikannya bisa dikenal, hal itu disampaikan oleh dosen  Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol M Taufik.

Dia bisa menggambarkan bagaimana anggota reuni membantu dalam mempromosikan calon tersebut untuk naik menjadi anggota legislatif, eksekutif dan lainnya.

“Biasanya saat proses pertemuan bersama alumni dana terbesar akan di tanggung atau disponsori oleh pihak yang punya kepentingan tertentu, salah satunya caleg tersebut. Pertemuan inilah yang dijadikan ajang membangun jaringan seluas-luasnya,” ujarnya.

Hal itu terbukti ketika seorang calon bupati mampu menjadi bupati. “Pengaruh alumni sangat berefek, ketika seorang calon bupati meminta suara kepada anggota alumninya, ternyata dia mampu meraih suara terbanyak dan rata-rata itu suara bersumber dari para alumninya,” ungkapnya.

Pengamat politik lainnya, Asrinaldi menyampaikan acara reunian disinyalir menjadi sarana untuk meraih dukungan dari rekan-rekan sesama alumni demi suatu kepentingan politik. Hal tersebut dinilai wajar dan tidak melenceng dari segi etika dalam berpolitik. 

Sebetulnya hal tersebut sah-sah saja dan tidak perlu juga dipermasalahkan. Tidak ada salahnya juga di antara peserta alumni ketika acara reunian itu minta izin sekaligus minta dukungan moril kepada rekan-rekan sesama alumni. 

“Hanya saja, kalau memang acara reuni tersebut salahsatunya dijadikan ajang kampanye, menurut saya hal tersebut kurang efektif. Dikarenakan jumlah peserta yang terbatas. Kampanye yang efektif itu dilakukan bila sang calon langsung terjun ke masyarakat,” ujarnya.

Dia menyebutkan saat reuni itu, akan muncul secara tak langsung kampanye. Menyebutkan kalau ada anggota alumni yang akan menjadi calon legislatif atau kepala daerah. Ajakan untuk mendukung dan memilih akan disampaikan. Baik dilakukan secara sengaja atau tak sengaja.

Katanya, ada yang sengaja mengakomodir kegiatan reuni tersebut. Apalagi ketika memasuki tahun politik. Salah satu cara mengaet dukungan dengan menjalin kedekatan emosional. Satu almater termasuk hal yang dilakukan.

Dilihat dari segi ekonomi, temu alumni yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu cara untuk menciptakan kegiatan berwirausaha. Hal ini dituturkan Dosen Fakultas Ekonomi, Unand, Elfindri, terkait rendahnya inisiatif para anggota untuk berwirausaha. 

“Masih kurang keinginan para anggota, semangat berwirausaha untuk awal ada, namun saat sudah terjadi pergantiaan ketua, kegiatan itu mulai jarang dilakukan,” ungkapnya.

Misalnya mendirikan koperasi atau unit usaha lainnya. Alumni yang belum mapan bisa dirangkul untuk bisa terlibat langsung. Apalagi pengalaman dari alumni yang telah berhasil ini tentu bisa dikembangkan.

Dia berharap kesadaran ini bisa muncul sehingga ada pergerakan ekonomi setiap tahunnya. Reuni bisa dijadikan langsung ajang evaluasi usaha yang telah dbentuk tadi.

Dari segi agama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padang, Duski Samad, mengungkapkan, perihal reunian yang salah sasaran, seperti halnya terjadi CLBK.

“Kalau manfaat reuni adalah menjalin silaturahmi, namun perilaku anggota alumni ini yang harus diwaspadai. Jangan sampai ajang reunian malah menimbulkan mudarat bukan manfaat, seperti halnya CLBK,” ujarnya.

Sekiranya solusi dari fenomena CLBK tersebut adalah harus ada benteng diri, dan terkait hal itu, Duski Samad, mengimbau agar anggota reuni mampu mengontrol diri. Membanggakan diri dan kekayaan bukanlah tujuan dari reuni atau berkumpul tersebut. Banyak hal yang bermanfaat lainnya yang bisa dimunculkan. 

”Sebaiknya saat pertemuan alumni bawa semua keluarga, baik itu istri, maupun anak, jangan sendiri, itu salah satu cara supaya tidak terjerumus ke prilaku yang kurang baik,” jelasnya. (*)

© 2014 Padek.co