Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Warga: Tidak Gengsi Tidur di Palanta


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 02 July 2017 11:13:49 WIB    Dibaca : 45 kali

 

Wakil rakyat mesti merakyat. Kiranya kalimat itu tertanam betul dalam diri Syaiful Ardi baik sebelum menjadi pejabat legislatif, maupun setelah menjadi orang besar.

Apabila telah berbaur dengan masyarakat, apalagi ada kegiatan bersama, putra Pesisir Selatan kelahiran Pelangai Gadang, 10 Mei 1971 tersebut tidak pernah pernah merasa sebagai pejabat. ”Kadang lalok gai di palanta samo pemuda,” kata warga Balai Selasa Kabupaten Pesisir, Meliadi Arrahman saat menyebut nama Syaiful Ardi.

Ya, begitulah kerendahan hati ayah tiga anak tersebut. Kesederhanaan dalam penampilan memudahkannya dapat diterima oleh masyarakat. Keterpautan hati sudah terjalin jauh sebelum berencana akan mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Pengakuan Meliadi, saat masih menjadi dosen sikap yang sama sudah ditunjukannya.

Setelah diberi kepercayaan nyaris tidak ada perubahan dari diri suami Desmiwerita SE MSi tersebut. Bahkan lebih leluasa untuk berbaur bersama warga. Tidak heran bila hubungan baik terbangun dengan kelompok kesenian di Pesisir Selatan.

Ia selalu meluangkan waktu untuk menghadiri kegiatan kesenian tradisional di Pasisia, seperti sanggar Ambun Sarasah di Pasisia atau sanggar Arai Pinang di Surantih. Bahkan akademisi yang terjun ke dunia politik itu berencana mendirikan kelompok seni di setiap nagari, satu nagari, satu kelompok seni.

Menjadi anggota dewan cukup menguras waktu. Cerita Syaiful Ardi, dalam sebulan, tidak lebih dari delapan hari waktunya di Padang. Dikurangi lagi dengan undangan kegiatan masyarakat Pesisir Selatan. ”Ini konsekuensi dari pilihan untuk menjadi wakil rakyat. Ada kepuasan tersendiri bagi saya,” katanya.

Mengingat sedikitnya waktu untuk keluarga, ia lebih mengutamakan kualitas pertemuan keluarga dari pada kuantitas pertemuan. Keluarga pun, sebutnya, sudah mengikhlaskan dan mendukung semua kesibukannya.

Bahkan sebelum mencalonkan diri, ia sudah meminta izin pada keluarga dan mengatakan, kalau dirinya bukan lagi milik keluarga secara totalitas, sebagian milik masyarakat apabila nasib baik menjadi anggota dewan.

Niatan dikabulkan, Syaiful Ardi menjadi wakil rakyat. Janji pengabdian harus dituntaskan hingga akhir masa jabatan. Selain pembangunan fisik, pembangunan mental tidak luput dari programnya. Karena itulah pemberdayaan masyarakat melalui kelompok seni menjadi program prioritasnya.

Seperti halnya dalam pendidikan, menurutnya, sentuhan hati juga dibutuhkan untuk menyukseskan pembangunan di daerah pemilihannya. Program pembangunan tidak akan jalan tanpa dukungan masyarakat.

Dukungan warga hanya dapat diperoleh lewat keterpautan hati antara masyarakat dengan pemimpinannya. Karena itu Syaiful tidak menginginkan ada jarak antara rakyat dan pemerintah.

”Sentuhan hati itupun tidak dipaksakan. Apa adanya saja. Alhamdulillah, masyarakat menerima masukan, usulan untuk memajukan daerah. Sehingga program kerja yang ditawarkan tidak terkendala di lapangan. Selain itu, berkumpul sama masyarakat memang sudah bawaan sejak kecil, kita orang kedai,” jelasnya. (*)

© 2014 Padek.co