Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perjuangan Satu Keluarga Menghadapi Virus HIV


Wartawan : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 18 June 2017 11:18:54 WIB    Dibaca : 67 kali

 

Harta pun Habis untuk Berobat, Butuh Uluran Tangan

Kisah pilu datang dari sebuah keluarga di Padang. Mereka didiagnosa menderita HIV. Bak disambar petir, keluarga yang semula sehat dengan kehidupan cukup, tiba-tiba kehidupan mereka berubah 180 derajat. Penyakit yang belum ditemukan obatnya itu juga menyerang balita yang masih berumur 1,8 tahun di keluarga tersebut.

Bocah itu berusia satu tahun delapan bulan itu, merangkak ke sana kemari di pelataran Masjid Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr M Djamil Padang. Tubuhnya kurus untuk ukuran anak seusianya. Kepalanya botak dengan rambut tipis, namun senyum cerahnya menunjukkan bahwa ia masih tetap ingin sehat seperti anak-anak lainnya.

Sesekali kepala anak itu menoleh kiri dan kanan seperti mencari-mencari seseorang. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki dewasa keluar dari toilet masjid. Rambutnya basah sambil memegang handuk.

Setelah menjemurkan handuk ke pagar masjid, dengan sigap ia mengangkat bocah kecil tersebut. Anak itu dimandikannya dengan penuh kasih sayang. Tergurat kesedihan di wajah pria itu ketika memandikan si bocah.

Anggap saja nama pria itu Yoyok, lelaki 23 tahun itu adalah ayah si bocah lelaki. Di usia yang masih cukup muda, ia telah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki. Saat dihampiri Padang Ekspres, Jumat (16/6) Yoyok tampak sibuk mengenakan pakaian si anak yang baru saja ia mandikan itu.

Dengan sabar, lelaki itu membedaki anaknya dan membersihkan telinga si anak dari sabun yang masih menempel. Perbincangan hangat terjadi antara dirinya dengan Padang Ekspres. Hingga akhirnya ia menumpahkan keluh kesahnya serta berbagi cerita kisah hidupnya.

“Saya, istri, dan anak saya ini positif HIV,” tuturnya pelan.

Yoyok mengatakan, saat ini istrinya, (sebut saja Mawar, red)  tengah terbaring dan menjalani perawatan di ruangan penyakit dalam RSUP. Sudah empat hari istrinya terbaring di rumah sakit dengan kondisi semakin parah.

Selama empat hari pula ia dan sang anak tidur di Masjid RSUP. Hanya itu yang bisa diperbuat, karena keterbatasan biaya tidak memungkinkan baginya menyewa tempat tinggal.

Istrinya berasal dari Pariaman, sedangkan Yoyok berasal dari Riau. Pautan umur Yoyok dan Mawar terbilang cukup jauh, yakni 11 tahun. Yoyok saat itu masih berumur 18 tahun, merantau ke Batam dengan harapan dapat mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Di kota itulah mereka berdua bertemu dan menikah pada tahun 2014 lalu.

Mawar bekerja sebagai tukang pijat, sedangkan Yoyok sebagai cleaning service. Bertemu di Batam, menumbuhkan benih-benih cinta antara keduanya. Tidak peduli perbedaan umur, mereka siap untuk menikah.

Bagi Yoyok, Mawar adalah istri pertamanya, sedangkan bagi Mawar, Yoyok adalah suami ketiga. Sebelum menikah dengan Yoyok, Mawar sudah memiliki empat anak dari suami pertama dan kedua.

“Di Batam istri saya tinggal hanya dengan satu anak. Sebenarnya mertua kurang suka dengan pernikahan kami, namun kakak lelaki istri saya setuju saya menikah dengan Mawar,” cerita Yoyok.

Setelah keduanya membina rumah tangga, keseharian Yoyok dan Mawar bahagia, apalagi hadirnya sang buat hati, Alif (bukan nama sebenarnya, red). Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama bagi mereka. Pada bulan Januari 2017, sang istri tiba-tiba sakit dan tak kunjung sembuh.

Melihat kondisi Mawar, yang semakin buruk. Keluarga ini kembali pulang ke kampung halaman Mawar di Pariaman untuk melakukan rangkaian pengobatan. Yoyok yang berperan sebagai kepala keluarga, tak ingin berlama-lama menumpang di rumah mertua. Seminggu setelah berada di rumah mertua, lelaki ini kembali ke Batam untuk bekerja.

Hanya terpaut seminggu, Yoyok menerima pesan bahwa kondisi istrinya kian memburuk dan tak bisa berjalan. Mendengar kabar seperti itu, Yoyok segera memesan tiket pesawat kembali ke Pariaman.

“Hari itu saya ketinggalan pesawat, sebelum berangkat saya sempatkan membeli oleh-oleh dan popok anak saya. Namun karena lokasi tempat tinggal dan bandara yang cukup jauh, saya tertinggal,” kenangnya.

Hal itu membuat Yoyok harus merelakan tiket pesawat yang ia beli seharga Rp 300 ribu dan kembali memesan tiket pesawat untuk esok harinya. Sesampainya di Pariaman, Yoyok terkejut melihat badan istrinya yang semakin kurus.

Tak mau tinggal diam, ia segera membawa istri berobat ke Puskesmas di daerah mereka. Keluarga istri yang juga tak berkecukupan membuat Yoyok harus berusaha keras mengumpulkan biaya untuk pengobatan. Namun karena kondisi yang parah Mawar dirujuk kerumah sakit yang lebih besar.

“Istri saya dibawa ke rumah sakit Pariaman. Sempat dirawat beberapa kali dengan rentang waktu seminggu,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja, kepedihan Yoyok semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba anaknya juga jatuh sakit. Tiap minggunya Yoyok harus memberikan Alif obat. Apabila obat yang dikonsumsi Alif habis, bocah itu kembali sakit. 

Salah satu perawat puskesmas merasa heran dengan kondisi Alif dan menyarankan melakukan tes darah bagi Alif dan Yoyok. Yoyok yang saat itu juga merasa heran dengan kondisi anaknya, setuju untuk melakukan rangkaian tes. “Dari sanalah, saya tahu bahwa saya dan anak saya positif,” ujarnya.

Mengetahui hal itu, Yoyok langsung berpikir bahwa istrinya juga pasti mengidap penyakit yang sama. Hal itu membuat ia mengerti kenapa istrinya tidak kunjung sembuh dan kondisinya terus memburuk.

Ia menyebut, kondisi istri yang buruk juga disertai dengan TB Paru, virus CMV dan virus toxoplasma, sedangkan anak menderita TB paru dan gizi buruk dan pernah dirawat di bangsal anak RSU M Djamil Padang selama dua minggu pada dua bulan yang lalu. Kondisi dua orang yang ia cintai ini membuat Yoyok harus berjuang untuk kesembuhan mereka walaupun ia sendiri juga mengidap HIV.

Yoyok sendiri bingung dari mana asal penyakit yang mereka derita. Lelaki ini mengaku, saat masih bujang ia pernah terbawa pergaulan yang kurang sehat saat bekerja di Batam.

Namun, melihat kondisi seperti ini, membuat Yoyok tak ingin memikirkan dari mana asal penyakit yang ia dan keluarganya derita. Baginya kesehatan istri dan anak adalah yang utama. Setidaknya Mawar bisa berjalan dan mereka akan kembali ke Kota Batam untuk bekerja mengingat telah berbulan bulan Yoyok menjadi pengangguran.

Seluruh harta miliknya sudah hadis terjual untuk biaya pengobatan, itu baru untuk pengobatan istri dan anak. Sementara untuk pengobatan dirinya sendiri Yoyok tidak memikirkan.

Ia menyebut, saat istrinya dalam proses rawat jalan, Yoyok mengaku harus bolak balik Pariaman, Padang untuk mengurus dan mengambil obat. Ditambah tunggakan BPJS yang membuatnya harus kembali memutar otak bagaimana mencari dana dengan kondisi ekonomi yang sangat buruk.

“Alif tidak bisa saya tinggal di rumah mertua, tidak ada yang mengurus. Dan entah bagaimana masa depan anak saya nanti,” ucap Yoyok pelan sambil menatap Alif yang tengah asyik minum susu formula dengan gelas plastik yang dipegangnya sendiri.

Saat ini Yoyok hanya bisa pasrah dengan cobaan tersebut. Tidak ada lagi harta yang ia punya. Hanya baju di badan yang tersisa. Ia ikhlas kalau suatu saat malaikat maut mengambil nyawa keluarganya. Meski begitu ia berharap ada dermawan yang mau membantunya. Setidaknya membantu pengobatan anaknya yang masih kecil.

Baginya tidak ada kebahagiaan selain melihat orang yang dicinta terbebas dari rasa sakit. Kemudian mereka bisa tersenyum manis menghadapi hari-hari yang dinilai semakin rumit.

Ia berharap, agar tidak ada keluarga lainnya yang menderita penyakit yang sama dengannya. Selain itu ia berpesan agar remaja dan masyarakat banyak tidak terjerumus dalam pergaulan bebas yang bisa menularkan penyakit tersebut.

Salah seorang teman yang ikut membantu Yoyok dalam proses pengobatan anak dan istrinya bernama Budi (bukan nama sebenarnya, red) juga menderita penyakit yang sama. Lelaki yang juga berasal dari Pariaman ini memang rajin menolong pasien HIV yang ada di Kota Padang.

“Selama ini saya aktif melakukan kegiatan membantu pasien dengan penyakit yang sama seperti saya, baru kali ini saya melihat satu keluarga positif terkena HIV,” ucapnya.

Budi mengaku, kondisi Yoyok sangat memprihatinkan, ditambah ibu dari Mawar tak begitu banyak membantu. Tak hanya sibuk mengurus istri, Yoyok juga harus mengurus anak dan rangkaian administrasi pengobatan. “Saya berharap adanya bantuan bagi keluarga mereka. Jujur, mereka sangat butuh pertolongan,” pungkasnya. (*)

© 2014 Padek.co