Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Wisata di Bulan Ramadhan


Wartawan : Heri Sugiarto - Wartawan Padang Ekspres - Editor : Riyon - 11 June 2017 11:52:15 WIB    Dibaca : 64 kali

 

Pada pekan lalu, penulis kebetulan diajak menemani pimpinan dari Sentral Bisnis Unit Riau Pos Group (SBU RPG) Jakarta, Suripto berkunjung ke Sumbar bersama dua rekannya dari Universitas Trisakti dan Australia. Sesampainya di Padang, tujuan pertama ke objek wisata Batu Malin Kundang di Pantai Aiamanih. Di sini, rasa penasaran mereka tak pupus karena batu Malin yang sedang tertelungkup tidak ada. Menurut seorang warga sekitar, lagi dipugar. 

Setelah berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan melalui jalan darat. Sesampainya di Tarusan, belok kanan mendaki ke Puncak Mandeh. Dalam perjalanan, jalan yang dilintasi di pendakian tengah rusak berat. Jika tak hati-hati, pengunjung bisa celaka, masuk lubang di sebelah kanan atau terjun ke jurang di sebelah kiri jalan. 

Namun demikian, sesampainya di puncak, pengunjung langsung terkagum-kagum dengan pesona gugusan pulau dan birunya lautan serta kapal nelayan yang berjejer. 

“Wah, indah sekali,” ujar Juniarti dari Universitas Trisakti. Rekannya, Heather Crawfort dari Australia juga merasakan hal serupa. “Cantik sekali,” ungkap wanita asal Perth itu sambil berselfie ria dengan Juniarti dan Suripto.

Setelah puas menikmati pesona alam dari atas, kami menuruni perbukitan dan belok kanan ke Pelabuhan Carocok untuk menaiki kapal yang telah disewa. Siang itu di bawah sinar matahari yang terik, kami berlayar ke Pulau Setan, lalu ke Pulau Sironjong dan naik ke tangga lokasi cliff jumping. 

Jelang sore, pelayaran dilanjutkan ke Baga Beach Cottage, penginapan yang sudah di-booking untuk menginap semalam. Setelah sampai dan meletakkan tas di cottage, ada yang memilih berenang di pantai, bersantai di ayunan dan menikmati dayung sampan ke Sei Nyalo, perkampungan wisata yang menawarkan pesona nan eksotis. 

Ketika mata hari mulai turun ke ufuk barat senja itu, pengelola cottage bersama pemandu kami, menyiapkan menu berbuka puasa yang dipesan ke masyarakat setempat. 

Di sebuah pondok mungil di teras cottage, disajikan berbagai takjil dan kuliner lokal. Heather ikut menemani kami berbuka saat masuknya waktu azan Magrib. Wanita yang baru pertama kali ke Indonesia itu juga menikmati kolak pisang dan onde-onde, yang baru kali ini ditemukannya seumur hidup. “Kuenya enak sekali. Alamnya eksotis. Rasanya saya ingin berlama-lama di sini. Saya merasa seperti di surga,” ujar Heather.

Berbuka puasa Ramadhan di pulau seraya menikmati matahari terbenam dan lampu-lampu kapal nelayan di lautan, menjadi sensasi baru yang tak terlupakan. 
“Kalau berbuka puasa di kota itu biasa, kalau di sini sungguh terasa luar biasa nikmatnya. Barusan saya posting foto-foto ke grup WA, banyak teman yang komplain karena tak dikasih tahu mau ke sini. Mudah-mudahan, tahun depan bisa ke sini lagi,” ungkap Suripto.

Malamnya, jika ingin shalat tarawih, kita bisa naik perahu ke Sei Nyalo, perkampungan wisata nan eksotis yang tidak begitu jauh dari cottage. Di kampung itu, kita bisa pula ikut tadarusan di masjid bersama masyarakat setempat. 

Jelang tengah malam, pengelola cottage mengajak kami bakar ikan segar yang dipesan ke nelayan yang pulang melaut. Setelah itu tidur. Sekitar pukul 04.00 kami bangun dan di pondok tadi sudah tersaji menu sahur. “Nikmat sekali berbuka dan sahur di sini. Setelah Lebaran nanti, saya akan ke sini lagi bawa keluarga,” ungkap Dicky Junaidi, Manager Iklan Padang Ekspres yang baru kali ini ke Mandeh.

Bulan Ramadhan, biasanya memang musim sepi bagi industri pariwisata atau sering disebut low season. Kunjungan wisatawan ke destinasi wisata praktis menurun. Begitu pula dengan tingkat hunian hotel, ikut anjlok dan membuat pihak hotel ramai-ramai menurunkan tarif menginap. Kawasan wisata sepi pengunjung. Masyarakat yang biasanya berusaha di objek wisata, banyak yang alih profesi sementara hingga “musim” libur Lebaran tiba.

Namun demikian, Sumbar sebagai daerah yang telah ditetapkan sebagai destinasi wisata halal dunia sejak tahun lalu, seharusnya tetap berupaya menarik kunjungan wisatawan pada momentum bulan puasa ini. 

Banyak cara kreatif yang bisa dilakukan pemerintah daerah bekerja sama dengan travel agent dan industri perhotelan serta masyarakat. Bisa saja mengemas paket berbuka puasa dan sahur bersama di pulau, wisata religi dan bermalam di perkampungan masyarakat sambil mengikuti aktivitas spiritual atau tradisi masyarakat lokal. Potensi itu ada dan tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumbar.

Apabila itu dilakukan, maka aktivitas masyarakat yang biasanya bergerak di sektor pariwisata seperti jualan suvenir, nakhoda kapal wisata, pemandu wisata dan lainnya, tetap bisa mendapatkan pendapatan di bulan Ramadhan.

Setidaknya kita bisa menoleh ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang telah dua tahun ditetapkan sebagai destinasi wisata halal. Daerah yang sering disebut sebagai negeri seribu masjid itu, membuat program khusus Pesona Khazanah Ramadhan.

Pemimpin daerah itu menginginkan kegiatan pariwisata tetap bergerak saat Ramadhan. Ada 28 rangkaian kegiatan yang dikemas kreatif  selama satu bulan Ramadhan. Salah satunya mendatangkan imam besar dari Syiria, Libya, Lebanon, dan Mesir. Keempat imam itu akan memimpin tarawih dan tadarus yang jadi atmosfer spiritual seperti di masjid Masjidil Haram. 

Begitu pula halnya di Nanggroe Aceh Darussalam. Pengunjung yang berwisata ke Aceh bisa menyaksikan festival Ramadhan dan beragam perlombaan, mulai dari lomba azan, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) serta hafiz Al Quran. Ada pula Kampung Ramadhan yang digelar di bantaran sungai, tempat masyarakat menjajakan aneka menu buka puasa. 

Pegiat pariwisata Sumbar Zuhrizul menyebutkan, sebagai destinasi wisata halal dunia memang Sumbar sudah seharusnya tidak lagi sekadar berkutat pada pembicaraan seputar masterplan dan perda. Sudah seharusnya ada langkah konkret dalam mendatangkan wisatawan ke daerah ini. Misalnya saat Ramadhan ini, banyak potensi wisatawan yang bisa digarap, seperti Eropa yang tengah liburan, Timur Tengah, Malaysia dan Singapura untuk menikmati suasana Ramadhan di ranah Minang. “Targetnya tidak hanya wisatawan muslim saja. Bule-bule di Eropa dan Australia juga tertarik berkunjung ke Sumbar di bulan Ramadhan ini jika kita kemas dengan paket yang menarik,” katanya.

Travel agent sebetulnya bisa menggarap pasar itu, tapi kata Zuhrizul, perlu campur tangan negara atau pemerintah dengan mengikutsertakan mereka promosi ke pasar tujuan lewat asosiasi seperti Asita. Selain itu, agar wisatawan atau travel agent dari luar negeri yakin, perlu diajak mereka melihat langsung destinasi yang dipasarkan. Hal itu lebih efektif dibandingkan jor-joran habiskan anggaran studi banding ke luar negeri. (*)

 

© 2014 Padek.co