Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perjuangan Agusman, Penjual Ayunan di Pasar Raya Padang


Wartawan : Intan Suryani - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 28 May 2017 11:31:18 WIB    Dibaca : 124 kali

 

Tinggal di Masjid, Penuhi Kebutuhan Keluarga di Usia Senja

”Saya lebih baik bekerja banting tulang daripada harus minta-minta di jalanan. Selagi tulang saya masih kuat, saya akan tetap bekerja.” Pendirian teguh itu milik
Agusman, 74, asal Pariaman. Enam tahun sudah ia berjualan ayunan tali dari pasar ke pasar. Meski uang yang didapat sedikit tetapi ia bangga karena
diperoleh dari hasil keringat. 

Pasar Raya Padang terlihat ramai beberapa waktu lalu, saat Padang Ekspres berkunjung ke sana. Orang-orang berlalu-lalang, pedagang saling bersahutan, mereka begitu semangat, berlomba menjajakan barang dagangan meski mentari sudah mulai terik.

Di salah satu pojok tampak seorang pria tua dengan wajah lelah. Ia mengenakan kopiah bewarna hitam ditutupi topi lusuh bewarna hijau. Di pundaknya ada banyak rajutan tali berwarna-warni. Ada merah dan orange. Itu adalah ayunan tali barang dagangannya. Belum ada satupun pembeli yang menghampirinya.

Meski belum ada pembeli, namun ia tetap semangat menjajakan ayunan santai miliknya itu. Dalam menjajakan, ia tidak bersorak, suaranya sudah sangat serak dan sulit untuk berteriak. Dia hanya berdiri, sesekali menyodorkan barang kepada orang yang lewat. 

Saat ini Agusman tinggal di sebuah masjid Jalan Pohon Teduh di kawasan Jati, Kota Padang. Keluarganya berada di Pariaman. Ia belum mampu menyewakan kontrakan di Padang karena uang yang diperoleh pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Sudah enam tahun berjualan ayunan santai ia lakoni. Sudah banyak pula daerah yang ditelusurinya untuk berjualan. Mulai dari Medan, Pekanbaru dan Padang. Karena umur semakin tua, ia lebih memilih berjualan di Padang. Agusman memiliki lima anak. “Saya harus mencari nafkah untuk biaya sekolah anak-anak, walaupun kondisi penglihatan saya sudah kabur,” ucapnya.

Sebenarnya ia sudah dilarang anaknya untuk bekerja, tetapi ia tidak mau, karena berdiam diri dan tanpa bekerja bukan tipenya. “Anak saya sudah melarang saya berjualan, tapi saya tidak bisa diam saja. Sebab saya harus membiayai mereka, karena masih tanggung jawab saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Agusman bercerita, dia berjualan ayunan mulai dari pukul 09.00 sampai pukul 17.00. Untuk berjualan, pria asal Pariaman tersebut, menempuh jarak dari Jati hingga ke Pasar Raya dengan berjalan kaki. Sesampai di pasar pria itu mulai menjajalkan dagangannya, di sepanjang Jalan Permindo. Selain di Permindo, Agusman juga berjualan di Lubukalung dan Sicincin. 

“Ini adalah jualan saya dan saya tidak mengeluh meski uang yang didapat sedikit. Saya tidak merasa keberatan dengan kondisi ini. Bagi saya apapun yang dilakukan jika ikhlas, maka akan baik hasilnya,” ucap Agusman.

Satu ayunan ia jula Rp 50 ribu, modal tali untuk dirajut menjadi ayunan Rp 10 ribu. Meski modalnya murah namun membentuk dan merajutnya menjadi ayunan membutuhkan waktu empat jam. Itupun hanya untuk satu ayunan.

“Kebetulan saya pandai merajut. Saya terinspirasi membuat ayunan dari bentuk jaring nelayan. Ayunan itu mampu menanggung beban sebesar 60 kg,” sebutnya.

Untuk merajut, Agusman harus pulang terlebih dulu ke Pariaman. Di sanalah dia merajut ayunan ditemani istri dan anak. Untuk membuat ayunan ia membutuhkan waktu 15 hari sehingga banyak ayunan yang bisa dihasilkan.

“Selama 15 hari itu saya mampu membuat 40 buah ayunan,” ujarnya.

Meski peminat ayunan tersebut tidak seberapa, tapi ia tetap bersemangat berjualan. Bahkan dalam berjualan ia sering disangka pengemis oleh orang. Hal itu disebabkan karena dia tidak mampu lagi bersorak menjajakan ayunan.

“Saya terkadang dikasi uang Rp10 ribu oleh orang, padahal saya bukan pengemis,” kenangnya.

Meski kesulitan dalam perekonomian, namun Agusman tetap bersyukur, jika waktu shalat datang, semua aktivitas ia tinggalkan dan melakukan shalat berjamaah di masjid.

“Saya akan menunda berjualan kalau waktu shalat sudah masuk, sebab panggilan Allah lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya,” ujarnya.

Karena rajin ke masjid, sesekali ada jamaah yang memberinya uang Rp50 ribu, padahal awalnya jamaah itu bermaksud membeli ayunan, tapi ayunan tersebut tidak dibawa dan hanya meninggalkan uang.

“Saya bersyukur sekali, mungkin ini adalah salah satu pertolongan tuhan kepada saya dan masih banyak orang baik di dunia ini,” tukasnya sambil tersenyum ramah.

Dalam percakapan yang berlangsung dengan Padang Ekspres, tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya menghampirinya. Wanita itu, melihat dan memilih ayunan. Dengan wajah sedih ibu itu menanyakan harga dan membeli ayunan milik Agusman.

“Saya kalau melihat orang tua, sering kasihan, makanya saya beli ayunan ini,” sebut Eliana, seorang bidan klinik kesehatan kepada Padang Ekspres.

Agusman, terkenal ramah di Pasar Raya Padang. Banyak pedagang yang memuji kesungguhannya dalam berjualan. Bahkan beberapa hari baru selesai operasi katarak, Agusman langsung berjualan. 

“Sekitar tiga bulan lalu dia (Agusman, red) tidak bisa melihat, lalu selesai di operasi. Beliau bukannya istirahat, malah langsung berjualan,” jelas Elda, 34, salah seorang pedagang di Pasar Raya.

Jauh dari lubuk hati, Elida ingin sekali membantu Agusman tetapi kondisinya juga tidak berkecukupan, jadi dia bisa membantu dengan semampunya saja.
“Biasanya saya kasih nasi bungkus, kadang minuman,” sebutnya.

Meski baru selesai operasi, akhir-akhir ini penglihatan Agusman mulai kabur lagi dan sulit melihat dengan jelas. Kondisi itu saat ini membuatnya harus menggunakan tongkat dalam beraktivitas termasuk berjualan ayunan.

Perjuangan Agusman dalam mencari nafkah untuk keluarga patut ditiru. Ia tidak pernah lelah menghidupi keluarganya meski di usia senja harus bekerja banting tulang. Tanggungjawabnya sangat besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meski serba kekurangan, namun tidak pernah terlintas dipikirannya menjadi seorang peminta-minta. (*)

© 2014 Padek.co