Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Syaiful Ardi SSos M.Hum, Anggota DPRD Sumbar


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 02 July 2017 11:16:25 WIB    Dibaca : 56 kali

 

Lahirkan Panutan, Kembangkan Industri Otak di Sumbar

Dunia pendidikan di Sumatera Barat (Sumbar) diharapkan mampu melahirkan calon-calon orang hebat yang dapat dijadikan panutan. Bukan sebaliknya, melahirkan lulusan berpendidikan tinggi namun gersang ketokohan.

Untuk itu, anggota Komisi V DPRD Sumbar yang menggawangi pendidikan, Syaiful Ardi SSos MHum menilai, pengembangan industri otak di Sumbar sudah harus diseriusi.

Menurut mantan Pembantu Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UNES Padang itu, banyak faktor terkesampingkan dalam proses pendidikan di Sumbar. Apalagi setelah sistem peringkat hasil Ujian Nasional (UN) dianggap sebagai tolok ukur prestasi sekolah.

Sebagian tenaga pendidik berasumsi jumlah lulusan menentukan kualitas para gurunya. Semakin banyak siswa dan mahasiswa yang lulus, maka sekolahnya dianggap bagus. Padahal selain mengejar kuantitas, kualitas juga penting.

Terlebih di jenjang sekolah, sangat disayangkan apabila jumlah lulusan dijadikan alasan untuk menutupi kekurangan para guru. Agar para guru dianggap berkredibilitas maka diupayakanlah kelulusan tinggi dengan cara yang terkadang tidak menurut semestinya.

Seakan ada ketakutan bagi para guru, mereka dianggap tidak bagus apabila jumlah kelulusan sedikit. Padahal jumlah lulusan tidak mutlak dapat dijadikan takaran kualitas tenaga pendidik dan lembaga yang menangunginya.

”Selain jumlah lulusan, perhatian penting kita bersama adalah kualitas para lulusan. Kelulusan meningkat, kualitasnya juga meningkat,” kata Syaiful Ardi saat ditemui Padang Ekspres, Kamis (29/6).

Dalam arti lain, jangan sampai tenaga pendidik mengabaikan kualitas lantaran mengejar kuantitas. Pengabaian ini akan berdampak pada Sumber Daya Manusia (SDM) ke depannya.

Pengamatannya, proses pendidikan yang dikembangkan saat ini lebih banyak kepada pendidikan formal tanpa dibarengi oleh pendidikan informal. Akhirnya lembaga pendidikan berlomba meningkatkan kecerdasan intelektual. Kalaupun ada kegiatan penunjang kecerdasan emosional, belum menyentuh pada aspek esensial.

Dicontohkan pada kegiatan Ramadhan, pelatihan adat dan sebagainya yang digelar di daerah-daerah di Sumbar. Sebagian besar hanya sebatas rutinitas. Para peserta didik dan masyarakat belum banyak yang memahami maknanya. Alam takambang juga belum banyak yang dijadikan guru.

”Pemahaman makna ini yang kurang. Ini kan persoalan juga yang mesti dituntaskan. Pendidikan formal tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus sejalan dengan pendidikan nonformal,” jelasnya.

Apabila pendidikan informal ditinggalkan, lembaga pendidikan, hematnya, hanya akan melahirkan orang pintar baru, bukan panutan yang baru. Para cendikiawan yang memiliki ilmu tinggi, namun semakin tidak dapat dijadikan panutan.

Lazimnya, lulusan seperti itu tidak dapat membuktikan apa yang disampaikan dengan buah pekerjaannya sehingga sosok ketokohan gersang dari dirinya.

Ke depan, lembaga pendidikan harus lebih serius menjadikan Sumbar sebagai negeri industri otak. Melahirkan cendekiawan berpemikiran bagus dan memiliki kecerdasan emosional.

Mereka berbuat sesuai kesadaran hati nurani. Generasi inilah yang kelak akan tampil sebagai tokoh-tokoh penggerak baik di sistem pemerintahan, ekonomi, politik dan sektor lainnya dalam kehidupan.

Pemerintahan yang tengah berkuasa memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan dalam sistem pendidikan. Sebab, peluang pemilik kekuasaan dalam melakukan perubahan lebih terbuka dari pada pemilik ide namun tidak memiliki kekuasaan.

Alangkah baiknya pemerintah mengoreksi ulang uforia peringkat kelulusan. Membuat sebuah sistem baru yang betul-betul memperhatikan kualitas lulusan, berpemikiran dan berhati nurani. Penting bagi semua pihak melahirkan kesadaran kolektif sehingga pembenahan itu dapat dilakukan.

Jangan sampai ada keterpaksaan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Begitu pula bagi pihak pendidik yang bergelut langsung di lembaga pendidikan. Perpaduan antara kecerdasan emosional dan intelektual juga penting bagi kepala daerah dalam menetapkan para kepala OPD dan kepala sekolah.

Sudah tidak saatnya lagi memberikan ”jatah” tersebut kepada orang-orang yang dianggap berjasa saat pencalonan kepala daerah. Harus ada batasan antara tim sukses dengan kepala daerah terpilih.

Bagaimanapun pendidikan tidak hanya menyangkut daerah hari ini, tapi penentu masa depan daerah puluhan tahun kedepannya. Memang sulit dan butuh waktu lama. Tapi kesadaran bersama harus ada sejak saat ini dan dilakukan secara berkesinambungan demi generasi harapan masyarakat ke depannya.

Perguruan Tinggi (PT) diharapkan tidak mendahulukan kepentingan ekonomi kampus dari pada tujuan pendidikan. Selama PT masih mementingkan kepentingan kampus, maka kualitas lulusan akan dipertanyakan. Padahal lulusan inilah yang akan mengisi dan mengatur roda kehidupan di kemudian hari.

”Dalam dunia pendidikan, kepala daerah dapat melakukan pendekatan hati sekalipun memiliki kekuasaan. Kepala dinas juga begitu, para guru juga sama, melakukan pendekatan hati pada muridnya,” ungkapnya.

Syaiful Ardi mengaku rindu akan keterpautan hati antara guru dan pelajar, atau sesama pelajar masa lalu. Saat seorang guru mengajak murid yang lain menjenguk teman yang sakit lebih dari tiga hari. Tidak ada aturan yang mengikat, hanya sentuhan hati, sistemnya dapat berjalan.

Tanpa perintah kepala OPD, atau kepala sekolah, kesadaran bersama lahir dengan sendirinya. Sentuhan hati dapat menjalankan sistem lewat kesadaran, sementara ”tangan besi” hanya akan melahirkan ketakutan.

”Pendekatan hati, bukan pendekatan kekuasaan sekalipun memiliki kekuasaan. Makanya menurut saya, kecerdasan hati jangan sampai kalah dari kecerdasan pemikiran,” pungkasnya. (*)

© 2014 Padek.co