Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kisah Penggiling Cabai di Pasar Raya Padang


Wartawan : Oktaria Tirta - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 02 July 2017 11:08:51 WIB    Dibaca : 64 kali

 

Dengan Batu Lado Antarkan Anak Berpendidikan

Banyak cara untuk mendapatkan rezeki halal. Selagi ada kemauan dan usaha uang akan mengalir dengan sendirinya. Hal itulah yang dirasakan dua perempuan di Pasar Raya Padang. Bekerja sebagai penggiling cabai, mereka mampu memenuhi kebutuhan hingga menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. 

Pagi kemarin, suasana Pasar Inpres II terlihat ramai. Hiruk-pikuk berlalu lalang di telinga, ketika Padang Ekspres berkunjung ke lokasi tersebut. Semangat para pedagang di pasar itu terlihat tidak pernah surut. Mereka berlomba-lomba menjajakan dagangannya kepada pengunjung yang melintas. Pasar ini menyediakan segala macam kebutuhan pokok.

Di salah satu sudut terlihat sekelompok ibu-ibu dengan formasi membentuk lingkaran. Usut punya usut, mereka sedang bekerja mengupas tangkai cabai.

Setelah terpisah, cabai diletakkan di atas batu lado. Masing-masing  mereka memiliki batu tersebut dengan ukuran lebar 60 cm yang berada di atas meja persegi.  Lengan perkasa para ibu-ibu itu mulai mengepal anak batu lado. Setelah itu mereka mulai menggiling cabai.

Tangan mereka berlumuran cabai yang sudah hancur, meski begitu, tidak ada rasa panas yang mereka rasakan. Beberapa orang ibu-ibu menyeka keringat. Butiran cabai hancur ikut menempel di kening mereka namun tidak diharaukan. Mereka terus menggiling cabai hingga lumat. Dari hasil menggiling cabai itulah mereka mendapatkan upah.  

Epianti, 48, warga pengambiran, Padang, salah seorang dari mereka selesai dengan tugasnya. Ia duduk sejenak. Ia bekeringat dan terlihat kelelahan. Kepada Padang Ekspres, dia menyebut sudah 13 tahun bekerja sebagai penggiling cabai di Pasar Raya Padang. Profesi itu ia lakukan sejak ditinggal suaminya. Sejak itu ia sudah mulai membiayai kehidupan tiga anaknya seorang diri.

“Saya sudah lama bercerai dengan suami. Sekarang saya harus menghidupi tiga anak yang masih bersekolah,” ucapnya.

Sekarang anak tertuanya sudah duduk di bangku kelas III SMK. Kemudian dua lainnya duduk di SMP dan SD. Untuk itu tidak ada kata malas baginya. Ia harus gigih bekerja walau harus banting tulang setaip hari.

Ini demi asap dapur tetap mengepul dan anak tumbuh dengan pendidikan. Epianti sendiri bertekad akan memasukkan anaknya ke perguruan tinggi. Dengan harapan kelak bisa mengubah nasib keluarga dan mengangkat martabat keluarga di masyarakat. 

Dalam sehari ia mampu menggiling cabai sebanyak 70 kilogram cabai dan paling sedikit sebanyak 34 kilogram. Upah 1 kilogram cabai giling yakni Rp 3 ribu, jadi dalam sehari ia bisa mendapat uang dari hasil menggiling sebesar Rp120 ribu itu pun jika ia mampu menggiling dalam jumlah yang banyak.

“Banyaknya permintaan menggiling tergantung musim, seperti banyaknya pesanan katering. Namun saya bersyukur dengan uang yang didapat. Ini hasil keringat untuk keluarga saya,” ujarnya.

Penghasilan tersebut ia gunakan untuk keperluan sekolah anak anak-anak dan biaya makan sehari-hari. Epianti sendiri mengakui kalau uang hasil menggiling cabai itu belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Maka dari itu ia berpandai-pandai mencari penghasilan salah satunya dengan berjualan sate setiap sore setelah pulang dari pasar.

”Kebetulan saya punya keahlian membuat sate, resepnya resep keluarga,” ujarnya.

Begitulah Epianti yang sangat gigih dalam bekerja, tidak pernah ada lelah baginya. Tangannya yang perih karena menggiling cabai setiap hari tidak pernah dihiraukannya. 

“Kalau menggiling cabai, tangan akan memerah dan lecet, rasanya perih sekali, serasa sampai ke jantung. Saya pernah demam seharian gara-gara menggiling, rasanya tidak kuat, tapi melihat anak, rasa letih itu terobati,” terangnya sambil membersihkan batu lado.

Ibu tiga anak ini, mengaku tidak selalu mendapat uang banyak saat menggiling cabai. Bahkan ia pernah membawa pulang uang Rp30 ribu dari hasil menggiling. Pembeli yang sepi biasanya di bulan puasa, tetapi bukan berarti tidak ada permintaan penggilingan cabai. 

“Tidak apa-apa dapat uang sedikit. Saya akan terus kumpulkan uang untuk mencukupi kehidupan kami,” sebutnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Jumniwati, 51. Usianya yang senja tidak menyurutkan niatnya mengumpulkan rezeki. Ia juga memilki tiga anak yang masih bersekolah. Meski terbelenggu kemiskinan ia optimis bisa menyekolahkan anaknya hingga sukses dari nuang hasil kerja kerasnya.

“Dengan batu lado saya bisa mengantarkan anak saya menempuh pendidikan sampai ke peguruan tinggi,” ujarnya sambil mengupas tangkai cabai. Wanita berusia 51 tahun ini, memiliki suami yang sudah tua, dan bekerja sebagai buruh, karena sering sakit, tubuh suaminya tidak kuat lagi untuk bekerja berat.

“Sekarang suami saya tidak bekerja, sebab tubuhnya tidak mampu mengangkut beban berat, semua kebutuhan rumah tangga, saya yang memenuhi,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, sejak anaknya TK sampai lulus kuliah dibiayai dengan uang menjadi buruh di pasar, semuanya dia kerjakan, tapi profesi yang rutin di lakukan adalah mengupas tangkai cabai dan menggiling cabai.

“Dulu saya sering bawa anak saya le pasar ini. Waktu ia masih TK. Walaupun sudah jadi mahasiswa dia tidak malu untuk membantu, sampai hari ini anak saya sudah menyelesaikan studinya di salah kampus,” paparnya.

Dalam sehari, ia mampu menggiling cabai hijau sebanyak 20 kilogram, dengan 10 kali penggilingan, waktu yang dibutuhkan dalam satu kali menggiling lebih kurang satu jam, untuk satu kilogram cabai.

“Upah dari menggiling cabai, sehari saya peroleh Rp 100 ribu, paling sedikit Rp 75 ribu. Dengan penghasilan ini saya berusaha berhemat,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski harus bekerja keras dan uang yang didapat sedikit, Epianti dan Jumniwati merasa bersyukur karena masih diberikan kemudahan oleh tuhan dalam mengumpulkan uang. Anak-anak mereka masih bisa bersekolah sama seperti anak lainnya.

Keluarga mereka juga tidak pernah kelaparan. Mereka tidak ingin meminta-minta, selagi tulang masih kuat mereka akan terus bekerja mencari nafkah. Banyak pesan yang ingin mereka sampaikan terutama jangan pernah menyerah dengan keadaan.

Bagi mereka nasib seseorang tidak akan berubah jika mereka tidak berusaha. Meski berkehidupan sederhana dan pas-pasan namun bagi mereka itu adalah rahmat yang patut disyukuri. (*)

© 2014 Padek.co