Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Diskon Tarik Minat Beli Masyarakat


Wartawan : Novitri Silvia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 18 June 2017 11:32:27 WIB    Dibaca : 102 kali

 

Harga jadi Patokan, Kualitas Diabaikan

Seakan menjadi kebiasaan masyarakat ketika Lebaran, mesti menggunakan pakaian baru. Hal ini dimanfaatkan pedagang pakaian melariskan dagangannya. Salah satunya memajang istilah diskon, cuci gudang, banting harga, atau lainnya.

Upaya ini memang ampuh. Mulai dari toko hingga pedagang kaki lima gencar memberikan diskon dan harga murah. Biasanya, puncak penjualan akan terjadi seminggu jelang Lebaran.

Penjualan bisa meningkat hingga dua kali. Hal ini ditunjang sifat masyarakat banyak yang tak mementingkan kualitas produk. Asal sudah baru dan bisa untuk gaya, kualitas dinomor duakan.

Menurut fashion desainer, Novia Hertini tidak semua barang yang didiskon merupakan barang murahan atau kualitas rendah (KW). Barang KW merugikan pembeli. Ini akan menimbulkan kerugian kepada pembeli maupun penjual. Ini berdampak pada penjualan selanjutnya.

“Seseorang yang telah membeli barang KW tentu akan merasa kecewa. Tidak trauma untuk membeli produk pada tempat yang sama,” katanya.

Untuk membedakan antara barang KW dengan barang asli dapat dibuktikan dengan cara membakar benang dari bahan tersebut. Seperti bahan kulit binatang asli dan bahan kain sutra ulat. Apabila dibakar akan tercium bau seperti rambut terbakar.

Jika tercium bau karet terbakar, ini bukti kalau bahan tersebut merupakan kulit sintesis. Begitu pun dengan bahan kain kualitas nomor satu, akan dapat dibedakan jika dipegang. Karena bahan kualitas baik tersebut memiliki dasar yang lembut dan jelas terasa beda dengan kualitas di bawahnya.

Kebanyakan pedagang, khususnya pakaian akan memberikan diskon pada produknya setelah sebagian barang tersebut terjual atau tinggal sisa saja. Seperti diskon pada busana muslim, produk suatu pabrik sekitar 50 unit. Kemudian terjual sekitar 30 unit dan sisa 20 unit. Sisa tersebutlah yang nantinya diberi diskon. 

Tujuanya untuk menghabiskan sisa barang tersebut agar diganti dengan barang baru. Secara bisnis hal tersebut tidak merugikan karena pada penjualan pertama (30 unit sebelumnya, red) modal produksi telah tertutupi. 

Umumnya masyarakat akan lebih tertarik dengan diskon menjelang Ramadhan. Karena penawaran diskon tertinggi biasanya terjadi menjelang Lebaran. Ini juga dikarenakan adanya pergantian mode yang biasa terjadi setelah Lebaran.

Saat ini, kiblat fashion masih mengarah pada urban. Dengan tampilan lebih tren dan simpel, pakaian ini jadi buruan pembeli. Khususnya wanita muda yang memiliki karir di luar rumah. Yang mengharuskan mereka bergerak dengan lincah. Sehingga para desainer banyak melempar mode urban ke pasar namun tetap dapat digunakan dikeseharian.

Hal serupa juga djelaskan oleh fashion desainer lainnya, Ade Listiani. Konsumen harus teliti dalam membeli suatu produk. Tidak sekadar memburu diskon. Tapi juga tetap memperhatikan kualitas produk yang akan dibeli.

Ia membeberkan fenomena diskon tersebut, sebenarnya tidak begitu berperngaruh terhadap produsen maupun desainer. Namun berpengaruh terhadap pedagang emperan karena mereka memberikan harga tidak terlalu mahal. Sehingga keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar. 

Mereka berharap dengan harga rendah akan menarik pembeli. Dengan adanya diskon besar-besaran dari mal atau pasar modern tentu pelanggan akan mencari tempat yang nyaman untuk memilih. Untuk mode busana muslim, ia menyarankan mode yang nyaman, longgar dan warna-warna lembut. 

Untuk pakaian yang diproduksi oleh desainer dengan pabrik jelas berbeda. Desainer hanya memproduksi unit terbatas sehingga kualitas lebih baik dan harga lebih mahal dibanding pabrik maupun konveksi.

Dari sudut pandang pengamat ekonomi Universitas Andalas, Rahmy Fahmi berpendapat fenomena tersebut merupakan hal yang wajar dan selalu terjadi ketika memasuki Lebaran. Bahkan kondisi tersebut juga dapat menimbulkan ekonomi. Sementara seperti munculnya berbagai pasar kaget yang menawarkan diskon kepada pembeli.

Banyak bermunculan orang-orang baru (pedagang baru, red), yang memicu adanya lapangan kerja yang bersifat sementara dengan penghasilan yang cukup menggiurkan. Adanya fenenomena cuci gudang adalah dimana kondisi suatu produk lama yang masih banyak.

Namun harus segara dijual agar diganti dengan produk baru agar tidak tertinggal mode. Biasanya para pedagang akan berlomba memberikan penawaran diskon tinggi pada kondisi tersebut.

“Dunia bisnis tidak mengenal kata rugi. Mereka berprinsip dari pada rugi 100 persen lebih baik menjual produk di bawah harga modal. Artinya kerugian dapat diminalisir dengan penjualan 50 persen dari harga modal,” ujar Rektor Unidha ini.

Adanya diskon yang ditawarkan oleh pedagang seperti 50 persen +20 persen +10 persen. Ini merupakan suatu strategi pemasaran dalam mengaet konsumen untuk bebelanja. Biasanya hal ini terjadi di pasar modern.

Ia menyarankan agar konsumen tetap jeli dalam memilih produk yang akan dibeli dan tidak tergiur dengan diskon ditawarkan. Terutama pada produk pakaian jadi yang biasanya lebih banyak penawaran diskon menjelang Lebaran.

Dari sudut pandang sosial, Rinaldi Ekaputra menjelaskan adanya prinsip “Lebaran harus serba baru” pada kebanyakan masyarak membuat fenomena diskon kian menjamur. Hal ini dimanfaatkan oleh pedagang sebagai suatu strategi pasar dalam meraup untung besar dengan waktu singkat. 

Akibat prinsip tersebut dampak akan dirasakan setelah Lebaran. Karena adanya esensiter di Sumbar. Yang harusnya Lebaran berhemat malah high cost atau pengeluaran yang tinggi. Sehingga memaksakan suatu keadaan dengan biaya yang ada.

“Hal ini tidak wajar, sebenarnya karena substansi yang tidak sesuai,” katanya. Diskon merupakan hal yang wajar. Diskon merupakan fenomena wajib yang menjadi strategi marketing.

Pada kondisi ini diskon terjadi akibat permintaan pasar yang meningkat terhadap suatu produk. “Saat ini gaya hiduplah yang memberatkan seseorang bukan beban hidup,” ujarnya sambil tertawa.

Beberapa mal dan supermarket jelas memanfaatkan momentum Ramadhan dan menjelang Lebaran sebagai upaya untuk memanen keuntungan penjualan yang berlipat.

Karena pada umumnya tingkat konsumsi dan kebutuhan masyarakat meningkat. Berbagai bentuk promosi yang ditawarkan dibuat semenarik mungkin untuk memikat hati para konsumen.

Demi menarik perhatian konsumen, pusat perbelanjaan biasanya sengaja memberi diskon mulai dari 10-90 persen. Bahkan, ada sebagian barang tertentu yang dijadikan bonus cuma-cuma tanpa harus dibayar hanya dengan membeli produk atau barang tertentu terlebih dahulu.

Penawaran promo buy 1 get 1 atau buy 2 get 1 pun tak kalah menggiurkan. Berbagai promo yang ditawarkan membuat barang yang dibandrol dengan harga mahal sekalipun dapat dimiliki dengan harga miring. Sehingga membuat pembeli berduyun-duyun memenuhi pusat perbelanjaan dan rela berdesak-desakan demi berburu barang yang mereka inginkan.

Berburu diskon disaat Ramadhan dan menjelang Lebaran ini mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang. Terlebih, apabila diskon yang ditawarkan sangat menggiurkan.

Fenomena diskon besar-besaran yang ditawarkan hampir serentak disejumlah pusat perbelanjaan tanpa disadari sebenarnya dapat membuat sebagian besar orang menjadi konsumtif. 

Terutama pada bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran, keputusan membeli sesuatu cenderung hanya bersifat dorongan emosional semata. Orang-orang bukan hanya membeli sesuatu karena kebutuhan, tapi juga karena suatu motif yang didorong emosi dan status sosial. (*)

© 2014 Padek.co