Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kepala Perwakilan BI Sumbar, Puji Atmoko


Wartawan : Tim Padang Ekspres - Editor : Riyon - 18 June 2017 11:24:39 WIB    Dibaca : 88 kali

 

Waspadai Kenaikan Inflasi Pasca-Lebaran

Inflasi Sumbar berfluktuasi dari tahun ke tahun. Apalagi pasca-Lebaran, angkanya cenderung naik di kisaran 1,1 persen hingga 1,6 persen. Jika dirata-ratakan, kenaikan inflasi Sumbar sekitar 1,25 persen dalam tiga tahun terakhir. Meski begitu, Kepala Perwakilan BI Sumbar, Puji Atmoko menilai, inflasi di Sumbar masih kategori baik.

”Tahun ini nampaknya akan lebih baik,” kata Puji Atmoko saat ditemui Padang Ekspres di ruangannya, Rabu (14/6). Indikator asumsi kenaikan inflasi lebih baik pasca-Lebaran 2017 ini, karena Sumbar mampu menjaga stabilitas harga pada 10 besaran yang kerap memicu gejolak inflasi di Sumbar.

Seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, beras, telur dan daging ayam ras, termasuk singkong. Dari pengamatannya, petai, jengkol dan ikan pada beberapa kesempatan turut memicu gejolak inflasi.

Nah, berkaca pada Ramadhan kali ini, harga bawang merah, cabai merah dan beras relatif stabil. Malah bawang merah cenderung turun. Ke depan, harga-harga kebutuhan tersebut diprediksi akan tetap stabil mengingat pola tanam yang sudah cukup bagus di Sumbar.

Kemudian adanya gerakan ASN menanam cabai di poliback oleh pemerintah. Meski kebutuhan dari tahun ke tahun tidak berubah. Malah cenderung lebih banyak, Sumbar mampu memenuhi kebutuhan sendiri sehingga kebutuhan pasar tidak terserap. Serapan melimpah otomatis akan menekan harga di pasaran.

Begitu juga kebutuhan akan daging. Selain daging segar, ada pilihan daging beku dengan harga yang lebih murah. Memang, ada beberapa produk yang dikhawatirkan untuk masyarakat Sumbar apabila memutuskan membeli daging beku. Namun, sebut Puji, itu semua tergantung pilihan masyarakat saja.

Terlebih sekarang telah ada Satgas Pangan. Ketika pasar distribusi ada distorsi, terjadi spekulasi barang kebutuhan pokok, diharapkan Satgas Pangan dapat mengontrol kenakalan spekulan yang cenderung melakukan penimbunan barang. Apabila sewaktu-waktu harga jual tinggi dapat distabilkan kembali lewat operasi pasar. Ada instrumen lain yang ikut mengawal.

Walau lonjakan harga tidak diharapkan, kejatuhan harga secara terus menerus juga tidak selalu berdampak baik. Anjloknya harga akan berdampak pada penghasilan petani. Di sisi lain kondisi ini tidak bagus juga bagi pertumbuhan perekonomian.

Harus ada yang ikut menjaga ketika hasil panen murah, tidak diserap pasar, pemerintah harus mencarikan cara agar hasil panen tetap terserap. Lalu dijualkan kembali ketika harga sudah stabil.

Apabila Sumbar mampu melaksanakan secara berkesinambungan, ia optimis kenaikan harga dapat diawasi. Selama kenaikan harga terawasi, inflasi juga akan terkendali.

Sebab, inflasi merupakan kenaikan harga barang secara terus menerus dan berlaku umum. Bukan seketika, atau hanya berlaku pada barang tertentu. Inilah yang disebut dengan inflasi. ”Selama ketersediaan pasokan tetap terjaga dan jalur distribusi terkontrol, ketercanggungan harga dapat diawasi, dapat dijaga,” ungkap Puji.

Menurut Puji, gejolak inflasi akan menggerus kemampuan daya beli, mempengaruhi pola konsumsi dan berpengaruh pula pada sektor produksi. Inflasi juga berdampak pada minat investasi.

Kondisi ini harus menjadi catatan. Mesti diantisipasi. Sebab, katanya, akan membuat rakyat menjadi miskin. Bagi yang sudah kategori miskin, akan menjadi semakin miskin lagi.

”Inflasi sebaiknya rendah dan stabil. Inflasi yang bergejolak terus menerus tidak mejadi syarat yang baik bagi pertumbuhan ekonomi,” ungkap Puji. Menurutnya, ada dua bentuk inflasi. Yakni, inflasi inti dan inflasi non inti.

Inflasi inti yaitu komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental.

Seperti interaksi permintaan-penawaran, nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang dan sebagianya. Inflasi non inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh komponen bergejolak (volatile food).

Khusus di Sumbar, ada 10 kelompok pangan bergejolak yang mempengaruhi inflasi. Di antaranya, beras, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang putih, pete, jengkol dan ikan pada beberapa kesempatan.

Selain itu, juga dipengaruhi oleh harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices). Sebut saja bahan bakar minyak (BBM), tarif angkutan dan tarif dasar listrik (TDL) di samping tiket pesawat atau kontrakan.

Setiap kali Lebaran, yang perlu diantisipasi ialah harga tiket pesawat. Apalagi di Sumbar dengan budaya pulang basamo yang menyebabkan suasana pulang kampung (mudik) lebih panjang. Tahun lalu suasana harga tiket Lebaran mencapai 32 hari. ”Tahun ini saya kurang tahu. Apakah pulang basamonya lebih panjang atau gimana,” lanjutnya.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga tiket akan lebih mahal pasca-Lebaran (arus balik) dibandingkan sebelum Lebaran (arus mudik). Pasalnya, arus balik terjadi secara serentak, sementara arus mudik, biasanya dilakukan secara bergantian.

Ada yang pulang lebih awal, ada pula yang mendekati Lebaran. Otomatis harga tiket Padang-Jakarta setelah Lebaran, lebih tinggi dari pada Jakarta-Padang sebelum lebaran. Sementara inflasi pesawat dihitung dari tempat pembelian tiket (Padang) bukan tujuan.

Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Sumbar. Dianggap sudah terdampak secara nasional. Bahkan menurut Puji, yang terbesar itu Provinsi Bangka Belitung, lalu Bengkulu, Sumbar, Jambi dan Kepri. Hanya saja, Puji mencemaskan budaya khas pulang basamo inilah yang akan memicu Lebaran terasa lebih panjang.

Mengantisipasi hal itu, Bank Indonesia (BI) Sumbar sudah menyuarakan kecemasan itu pada pihak perhubungan melalui BI pusat. Diharapkan Garuda menetapkan harga tiket di batas bawah, bukan batas atas. Apabila Garuda menurunkan harga tiket, diprediksi maskapai lain juga akan menurunkan harga tiket.

”Mudah-mudahan ada upaya pemerintah untuk menangani,” harapnya.

Kurun lima bulan terakhir, sebelum Lebaran 2017, inflasi Sumbar disebabkan oleh komoditi petai sama jengkol, kemudian tarif pulsa. Komoditi inilah yang diprediksi akan menjadi penyebab inflasi di Sumbar untuk jangka panjang.

Berbeda dengan tiket pesawat yang hanya sesaat. Untuk itu, Puji berharap masing-masing daerah menyiapkan pasokan, mengawal perjalanan distribusi dan tidak mengonsumsi secara berlebihan.

BI Sumbar memprediksi, untuk triwulan II, April-Juli, pertumbuhan ekonomi Sumbar akan lebih baik. Berada di kisaran 5,3 hingga 5,7 persen. Hal ini dipicu oleh aktivitas Ramadhan dan tradisi pulang basamo.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini diharapkan tidak tereduksi oleh oleh inflasi. Dalam artian, pertumbuhan ekonomi naik, namun inflasi tidak bergejolak. Dengan begitu masyarakat akan betul-betul menikmati pertumbuhan ekonomi di 2017 ini. Kesejahteraan masyarakat tidak akan berubah meski perekonomian meningkat apabila harga-harga juga naik. (*)

© 2014 Padek.co