Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Teguh Maulana Efendi, Garin Muda di Masjid Al Qadar, Siteba


Wartawan : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 11 June 2017 11:36:25 WIB    Dibaca : 55 kali

 

Mandiri sejak Kecil, Ajarkan Ilmu Agama

Mengabdikan diri untuk belajar dan mengajarkan ilmu agama menjadi pekerjaan mulia yang dijalani Teguh Maulana Efendi, 18. Kini ia menjadi  garin muda di salah satu masjid di Siteba.

Padang Ekspres berkesempatan berkunjung  ke Masjid Al Qadar yang terletak di Jalan Teknologi Raya, Kelurahan Suraugadang, Kecamatan Nanggalo beberapa waktu lalu. Saat itu masyarakat baru selesai melaksanakan shalat Zuhur berjamaah.

Para jamaah masjid kembali ke rumah masing-masing. Hanya ada satu orang remaja laki-laki yang tinggal di masjid itu. Dia terlihat sibuk membersihkan karpet masjid. Tubuh tinggi dengan mengenakan kopiah hitam di kepala menambah kegagahan remaja itu. 

Dialah Teguh Maulana Efendi,18, garin masjid tersebut. Ia tersenyum dan menyambut ramah saat Padang Ekspres berkunjung. Perbincangan hangat terjadi dengannya hingga membahas seputar kehidupannya.

“Ini sudah tugas saya membersihkan masjid,” tuturnya pelan dengan senyuman yang tak pernah hilang di wajahnya.

Selain membersihkan masjid, Teguh juga sering dipercaya mengumandangkan azan dan menjadi protokol saat ada kegiatan masjid serta ceramah shalat Jumat dan Ramadhan. Karena rajin dan aktif masyarakat sekitar menunjuknya menjadi garin masjid sejak 2016 lalu. Ia pun diberi honor dalam menjalankan kegiatan di masjid.

“Alhamdulillah pekerjaan ini bisa meringankan beban ekonomi nenek dan kakek yang sudah merawat saya sejak kecil. Sekalian ini juga untuk ibadah bagi saya,” tuturnya.

Remaja berdarah Jawa-Minang itu menyebut seluruh honor yang didapat dari kegiatan di masjid diberikan kepada nenek Murni yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Sehari-hari neneknya itu bekerja sebagai buruh cuci, sedangkan kakek Lukman bekerja sebagai nelayan. Rumah nenek dan kakek dekat dengan masjid tempat ia beraktivitas.

Teguh tidak ingin mengeluh dengan kehidupan yang ia jalani karena kehidupan yang sekarang adalah nikmat yang patut disyukuri. Ia juga tidak mau mengalah dengan keadaan. Meski banyak aral dan rintangan yang harus dijalani.

”Yang bisa mengubah hidup itu adalah kita sendiri. Jadi berusahalah sekuat mungkin untuk mengubah hidup itu,” ujarnya.

Bukan hanya sekedar membersihkan masjid, Teguh juga fokus belajar agama di masjid itu. Sesekali ia juga turut mengajarkan ilmu agama kepada warga selagi itu diketahuinya.

Menurutnya, setinggi-tinggi ilmu agama seseorang jika tidak diajarkan kepada orang lain, maka itu tidaklah bermanfaat. Hal itulah yang membuat Teguh Maulana giat belajar agama kemudian mengajarkannya kembali kepada masyarakat.

Meski ia baru lulus SMA, namun keinginannya sangat kuat untuk belajar agama. Saat ini juga sudah mendaftar ke Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang dengan tujuan memperdalam pelejaran agama. 

“Saya mengambil jurusan Hukum Keluarga. Pengumuman kelulusan tanggal 19 Juni ini. Mudah-mudahan saya diterima kuliah di sana,” harapnya.

Kelak jika kuliah, Teguh tidak mau menyusahkan nenek dan kakeknya. Ia akan mengumpulkan uang sendiri untuk membiayai kuliah dengan cara mencari kerja sampingan. Tentunya ia akan tetap menjadi garin di masjid Al Qadar, karena ia merasa sangat senang bisa belajar dan berbagi ilmu agama di masjid itu.

“Apa yang saya kerjakan dan saya lakukan di masjid itu semoga menjadi ibadah bagi saya,” ujarnya.

Teguh juga menceritakan sedikit kisah hidupnya. Ia sudah di tinggalkan orang tua ke Jawa sejak usia 10 bulan. Sejak ditinggalkan orangtua, Teguh tumbuh menjadi laki-laki teguh sesuai dengan namanya. Teguh sendiri tidak tahu pasti kenapa ia ditinggalkan orangtuanya. Teguh hanya bisa menerka-nerka alasan ia ditinggal orangtua.

Ibunya berdarah Jawa dan ayah berdarah Minang, Ayahnya berangkat ke Pulau Jawa bersama ibunya dan membuka usaha rumah makan. Karena merasa sepi, makanya nenek dan kakeknya meminta Teguh ditinggal di Padang saat usia 10 bulan.

Karena bersusah payah membesarkannya, Teguh berjanji akan membahagiakan nenek dan kakeknya karena sudah menjadi tanggung jawab baginya. Ditinggal kedua orangtua tak membuat Teguh tumbuh menjadi anak yang nakal, ia tetap berbakti kepada nenek dan kakek dan tak menaruh rasa kekecewaan kepada kedua orangtuanya.

Pada tahun 2015 lalu, Teguh berkesempatan berkunjung ke Bogor selama dua minggu ditemani sang nenek. Disana ia bertemu dengan kedua orangtua dan tiga orang adik kandung perempuannya.

“Senang bisa bertemu, karena sudah lama sekali tidak bertemu. Terakhir bertemu dengan ayah tahun 2012 saat nenek buyut meninggal. Tapi ibu dan adik-adik saya tidak bisa ikut,” ceritanya.

Di saat usia nenek dan kakeknya yang sudah lanjut, Teguh  berupaya membalas budi dengan menjaga dan meringankan beban kedua lansia yang sudah berjasa merawat dan membesarkannya sejak kecil itu. 

Sejak menjadi garin, Teguh tak perlu lagi meminta uang kepada nenek dan kakek untuk kebutuhan sekolah. Ia bisa mencukupi dengan gaji yang ia terima tiap bulannya. 

“Alhamdulillah cukup dan juga bisa Bantu nenek,” katanya sambil tersenyum. 

Lelaki yang hobi bermain musik ini pun juga bercerita, kedua orangtua yang keseharian menjual nasi uduk di daerah Bogor. Meski jarang mengirim uang namun ia tidak pernah memintanya bahkan ia lupa kapan terakhir kali dikirimi uang oleh ayah dan ibunya.

Hal itu tak membuat Teguh berkecil hati. Ia tetap yakin bisa menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang yang lebih tinggi lagi yakni bisa melanjutkan pendidikan hingga  S2 dan bergelar doktor.

“Saya ingin membahagiakan keluarga saya dan membuktikan bahwa saya bisa sukses. Cita-cita saya ingin menjadi dosen. Karena pekerjaan paling mulia itu menurut saya adalah bisa berbagi ilmu,” katanya dengan nada yakin.

Menjadi seorang garin ingin terus di lakukan Teguh hingga ia menyelesaikan S2nya nanti. Pekerjaan ini memberikan banyak manfaat karena bisa memperdalam imu agama dari ustad-ustad yang datang ke masjid. Teguh sendiri dikenal baik dan akrab dengan masyarakat.

Ia dinilai salah satu remaja yang rajin beribadah terutama di masjid. Sholat lima waktupun tidak pernah ditinggalkannya. Tak jarang para orangutan menjadikannya contoh teladan bagi anak-anak mereka. 

Salah seorang jamaah Masjid Al Qadar, Mainar Yetti, menuturkan Teguh adalah anak yang baik. Dua anak laki-lakinya menjadi teman akrab Teguh, terkadang Teguh dan anak-anaknya sering bermain di rumah dan melakukan salat berjamaah.

“Dia sopan dan baik. Dua anak laki-laki saya berteman akrab dengan Teguh,” tuturnya.

Wanita 46 tahun ini mengatakan, Teguh juga merupakan anak yang mandiri dan rajin. Ia yakin kalau suatu saat teguh bisa sukses dan mampu menggapai cita-citanya.

Kisah Teguh Maulana patut menjadi inspirasi banyak remaja. Tanpa orangtua teguh belajar agama secara ototidak kemudian mengajarkannya kembali kepada orang banyak. Tidak ada keluhan meski dalam kekuangan. Selagi berusaha pintu rezeki akan dibukakan oleh tuhan. (*)

© 2014 Padek.co