Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Senior Pertelevisian, Maman Suherman


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 11 June 2017 11:26:03 WIB    Dibaca : 49 kali

 

Jangan Remehkan Media Sosial

Maman Suherman, sekarang karyanya sangat banyak di dunia pertelevisian, terutama memproduksi beberapa acara, memandu acara. Menurutnya, sepanjang orang-orang televisi tidak mau mengakui keberhasilan media sosial seperti YouTube dan sebagainya, maka itu akan menjadi kuburan untuk televisi. Malah dia curiga, lima sampai sepuluh tahun mendatang televisi akan ditinggal. Orang akan lari ke YouTube, Facebook dan sebagainya.

Itu karena dengan satu karya yang sangat besar, memiliki subscribe (pelanggan) mencapai 1 juta, bertahan terus sampai 10 tahun, maka mereka bisa bertahan hidup. Rata-rata anak stand up comedy yang sangat kuat dan tidak laku di televisi menciptakan trend dan kesuksesan di YouTube dan tidak bergantung pada televisi.

Sekarang mereka yakin betul di televisi masuk saja, yang penting mereka terlihat masih mempunyai album atau single. Yang mereka utamakan adalah off air. Jadi bagaimana menggabungkan teori konvergensi media berupa ‘C4’ yaitu, Content, Creative, Crowd, Celebration artinya kita rayakan saja di tengah-tengah keramaian. Jadi harus betul-betul menggabungkan sosial media dengan off air.

Pendapat Maman Suherman ini telah dilansir oleh Perspektif Baru beberpa waktu lalu. Menurutnya, kondisi sekarang terbalik. Banyak oase tapi oasenya zonk atau kosong. Hal ini yang membuat penonton televisi tidak dapat membedakan program yang satu dengan yang lain.

Selain itu, orang-orang kreatif saat ini menjadi sulit untuk berkembang karena dilarang menciptakan sesuatu yang baru dan bermutu karena tidak ada jaminan untuk rating.

Jika 3 sampai 5 episode dinilai gagal maka langsung ditutup. Zaman dulu masih ada upaya untuk menayangkan hingga 12 sampai 26 episode, kalau tidak berjalan baru akan ditutup. Nah kalau sekarang benar-benar tergantung rating.

Setiap Ramadhan banyak artis yang kecewa. Biasanya meraka sudah merasa aman mempunyai uang saku untuk keluarga saat lebaran karena berpikir telah dikontrak satu bulan. Namun sekarang acaranya baru 10 hari sudah bisa ditutup.

Begitu tidak mendapat iklan dan rating langsung ditutup acaranya padahal mereka sudah dikontrak sedemikian panjang. Itu menyedihkan. ”Kalau kita lihat tren yang rating-ratingnya tinggi, terbalik dengan tahun 1995,” kata Maman Suherman.

Mungkin fenomena Donald Trump dan Hillary Clinton menjadi sebuah hal menarik, yaitu yang berisi dan dianggap membosankan akan ditinggal, sedangkan yang kosong dan hanya joget-jogetan malah akan diambil.

Misalnya, sekarang era joget-jogetan berkurang, era stand up comedy (komedi tunggal) sedang naik, tetapi stand up comedy dan Komika (pelawak tunggal) yang sangat berkualitas tidak bisa masuk televisi.

Komika tidak harus bermutu tapi popular, betulkah?

Populer dan ringan bahkan kemudian ada yang menjurus ke slapstick (komedi fisik), sesuatu yang justru dulu ditentang oleh kaum-kaum komika ini. 

Sebagai insan televisi produser atau talent, dimana memposisikan diri dalam lingkungan itu? 

Sepanjang orang-orang televisi tidak mau mengakui keberhasilan media sosial seperti YouTube dan sebagainya hal ini akan terus terjadi. Ini akan menjadi kuburan untuk televisi.

Malah saya curiga lima sampai sepuluh tahun mendatang televisi akan ditinggal. Orang akan lari ke YouTube, Facebook dan sebagainya. Itu karena dengan satu karya yang sangat besar, memiliki subscribe (pelanggan) mencapai 1 juta, bertahan terus sampai 10 tahun, maka mereka bisa bertahan hidup. Rata-rata anak stand up comedy yang sangat kuat dan tidak laku di televisi menciptakan tren dan kesuksesan di YouTube dan tidak bergantung pada televisi.

Apakah masuk ke dunia media sosial memang lebih mudah daripada dunia televisi?

Ya, tidak ada kendala sedemikian rumit di media sosial. Di televisi kita harus menciptakan ide. Ide diterima tapi kitanya ditolak, kemudian diubah sedikit lalu menjadi hak cipta milik televisi. Jika membandingkan sosial media dengan televisi, apakah memang sama kelasnya? 

Sekarang mungkin tidak terasa karena yang melawan adalah individu-individu, tetapi bayangkan kalau individu-individu kreatif malah memilih untuk tidak masuk ke televisi. Mungkin televisi masih bangga tiga bulan pertama mereka mendapatkan iklan masuk Rp 24,1 triliun, naik 33 persen dari tahun sebelumnya. Namun lama kelamaan mereka sadar iklan-iklan tersebut sudah mulai pindah ke YouTube, dan itu harus disadari sejak awal oleh televisi bahwa meliriklah ke media sosial.

Misalnya, fenomena hari ini yaitu pergantian menteri saja sampai mengutip dan menulis di twitter saya. Suara netizen adalah suara Tuhan. Kalau diabaikan oleh televisi, iklan-iklan akan berpindah ke YouTube. Beberapa teman di periklanan sudah menghubungi kami (orang-orang kreatif di dunia audiovisual) untuk membuat iklan buzzer (pemberi pengaruh) di media sosial.

Ketika kami tanya kenapa sudah tidak muncul di TV? Mereka merasa jika beriklan melalui sosial media bisa langsung merasakan dampaknya. Yang terpenting kita tahu dimana kelas kita, ciri khas kita, target market kita. Sosok seperti Raditya Dika dengan 12 atau 13 juta followers di twitter banyak dipilih sebagai tempat beriklan dari pada mereka pasang iklan tetapi tidak tahu kemana sasarannya.

Apakah harga memasang iklan di media sosial dengan televisi sama?

Misalnya, kita membuat video 3-6 menit dan diunggah ke YouTube, kemudian YouTube akan mencarikan pengiklan dengan presentase bagi hasil. Kita mendapat 70 persen dan Youtube 30 persen. Lalu kalau kita buka-bukaan, honor saya sebagai buzzer di twitter sudah sama dengan honor saya sebagai penulis script di sebuah acara televisi. Kalau sudah seperti itu, pada satu titik saya harus memilih media sosial, saya dapat menjadi diri saya dan menjadi media itu sekaligus.

Apakah sudah ada rencana pertahanan televisi terhadap media sosial?

Dalam dua tahun ini mereka sudah membuat divisi media sosial. Mereka baru sadar bahwa potensi-potensi mereka yang dulu sudah dicuri oleh media sosial. Misalnya acara televisi, teman saya sangat pintar dari dulu kalau membuat acara televisi tidak akan menjual hak ciptanya, hanya hak tayangnya saja.

Itu karena begitu selesai ditayangkan di televisi, mereka akan potong-potong menjadi tiga menit dan memasukkannya ke YouTube. Ada yang berpenghasilan US$ 2000 per bulan. Sementara jika dijual ke televisi acara itu hanya laku Rp 16 juta - 18 juta setiap episodenya.

Televisi baru sadar bahwa mereka kecolongan dalam hal itu, sehingga kontrak mereka sekarang semakin ketat. Kalau kamu muncul di televisi maka kontraknya termasuk untuk ditayangkan ke media sosial mereka. Orang yang sudah punya nama besar pasti akan menolak hal itu. Beberapa diantaranya adalah kakak-beradik Da Lopez dengan channel YouTube Skinnyindonesian24 dan Adriano Qalbi, komika politik yang sangat saya kagumi, lebih memilih untuk berkarya di media sosial.

Menarik sekali. Apakah mereka mengandalkan iklan atau kekuatan mulut ke mulut, apakah perlu kita cari atau sudah muncul sendiri seperti iklan jika saya mau lihat mereka?

Langsung muncul, itu yang menguatkan. Hanya saja mereka harus betul-betul bisa diperkuat oleh tim pemasaran untuk memperkenalkan dia. Jadi begitu saya sebut nama WW pun sudah langsung tahu bahwa oh ternyata orang ini seperti yang saya sebutkan dengan karakter tertentu.

Apakah itu sesuai keinginan kita bisa ditonton kapan saja?

Itu yang masih menjadi salah satu kelemahan mereka, kadang-kadang tergantung mood. Itu persoalan besar gen Y dan gen Z.

Bagaimana dengan tayangan di TV saat ini. Saya melihat banyak tayangan sinetron, pernihakan bahkan persidangan yang durasinya sangat lama?

Benar, bisa 3 - 6 jam dan TV percaya bahwa ratingnya tinggi. Sementara itu saya selalu mengategorikan penonton tersebut sebagai penonton yang malas, yang ada di rumah dan bukan pembeli sebenarnya. Jadi tidak merefleksikan kemampuan membelinya. Saya masih bingung dengan pengiklan-pengiklan Rp 24,2 triliun di TV.

Yang menjadi nomor satu adalah iklan rokok, itu berarti di jam sepuluh malam, yang ratingnya sebenarnya tidak tinggi, hanya saja kesempatan cuma ada di situ. Kedua, iklan yang paling saya tidak sukai dengan nilai Rp 1,1 triliun dalam tiga bulan, yaitu iklan perawatan rambut.

Apa sebenarnya medium yang penonton paling banyak nikmati?

Televisi sudah ditinggal oleh banyak produser. Menarik untuk melihat sejarahnya, ketika hanya ada TVRI semua menghamba pada Eddy Sud karena dia pengelola Aneka Ria Safari. Kalau musiknya tidak masuk ke acara itu maka pasarnya jelek. Dulu acara itu menjadi semacam ikon. Jika lagu sudah masuk ke sana, pasti lagunya bagus. Padahal itu selera Eddy Sud, termasuk saat mendapat istrinya di acara itu. Tetapi pada waktu itu orang harus mengorbankan ideologinya sampai harus memilih Golkar untuk masuk ke Aneka Ria Safari, misalnya.

Luar biasa. Jadi bagaimanapun sekarang lebih bagus?

Nah, begitu reformasi, kemudian TV swasta banyak muncul, orang-orang seperti menghamba pada acara-acara musik di TV. Memasukkan videoclip-nya kalau perlu menyogok pun mau. Apalagi dengan orang-orang yang membuat acara tangga lagu di jawara musik bisa kaya raya dengan diam-diam menerima uang dari bawah dan produser-produser rela untuk itu. Sekarang tidak.

Buas sekali kalau dikaitkan dengan buku Anda mengenai kehidupan underground, pasti banyak orang yang diperas dan terkena sexual harassment.
Betul, namun sekarang sudah tidak. Sekarang mereka yakin betul di televisi masuk saja, yang penting mereka terlihat masih mempunyai album atau single.

Yang mereka utamakan adalah off air. Jadi bagaimana menggabungkan teori konvergensi media berupa ‘C4’ yaitu, ada Content, ada Creative, ada Crowd, dan Celebration artinya kita rayakan saja di tengah-tengah keramaian. Jadi harus betul-betul menggabungkan social media dengan off air.

Apakah bisa dipisahkan antara pembuat konten dan penyebar konten?

Iya seharusnya seperti itu. Saya jadi ingat dengan buku karya Arswendo Atmowiloto bahwa stasiun televisi hanya menjadi bagian penayang, itu sudah dipikirkan sejak 1990-an saat bukunya tentang televisi muncul. Hanya saja saat itu televisi ingin menguasai semua, dan akhirnya banyak televisi yang jumlah karyawannya banyak menjadi rugi karena harus membiayai kebutuhan karyawan yang besar.

Padahal kalau ia hanya penayang saja, bisa hidup production house (PH) yang ada. Kita membagi risiko akhirnya. Ini yang terlambat disesali, dan mungkin banyak PH yang mati, namun tetap banyak juga yang hidup dengan memanfaatkan sosial media.

Apakah dalam 4C tadi (content, creativity, crowd, dan celebration) untuk crowd bisa terpisah dari konten yang diciptakan sendiri?

Menciptakan sendiri. Itu bisa diciptakan dan bisa juga kita yang bentuk. Orang-orang seperti Raditya Dika takut tua karena dia sudah punya crowd dan dia tidak mau keluar dari situ. Dia harus jaga betul itu. Buku-bukunya tidak perlu lari terlalu jauh sehingga orang menertawai kualitasnya, tetapi penggemarnya tidak akan berubah. Saya membayangkan untuk apa saya masuk televisi kalau membuat buku seharga Rp 50.000, tetapi terjual satu juta. Artinya, jika mendapat royalty sebesar 10%, satu juta dikali lima ribu sudah mendapat lima miliar. Jadi untuk apa saya muncul di televisi?

Betul, saat ini televisi adalah pilihan, kalau dulu adalah syarat untuk menjadi terkenal dan mendapat penonton. Atau tidak ada pilihan lain karena masyarakat dulu tidak sekreatif anak-anak muda zaman sekarang yang bisa mengelola media. Misalnya, saya selalu iri dengan generasi Gen Y dan Gen Z sewaktu menonton Popcon Asia kemarin di JCC.

Itu saya melihat betul bahwa umur saya hanya tinggal 3-4 tahun bila dibanding umur mereka yang melangkahnya sangat jauh ke depan. Tinggal saja Gen Y Gen Z ini berhenti bekerja berdasarkan mood, selesai.

Tapi, apakah penontonnya juga tidak ada segmentasi yang terdiri atas Gen Y dan Gen Z, atau baby boomers membuat hilang sama sekali pasaran orang yang lebih tua?

Tayangan untuk orang tua cukup di jam 10.00 ke bawah. Saat ini televisi sedang berusaha merangkul anak muda pada jam 19.00 – 20.00, ketika rating masih kuat maka mereka akan melanjutkannya hingga jam 21.00. Yang menarik ketika ada dua acara siaran langsung di dua stasiun televisi yang berbeda dengan segment anak muda, mereka akan memasang empat televisi untuk saling mengawasi.

Mereka akan melihat jangan sampai mereka menayangkan iklan di saat yang bersamaan untuk menjaga rating, sambil mengintip iklannya untuk anak muda atau bukan. Itu karena begitu sama-sama berhenti, memiliki rating sama, dan iklan sama isinya, pasti satu ada yang terbunuh. Begitu dibuktikan, yang bertahan adalah yang target marketnya anak muda.

Kita sebut saja Indosiar dengan Stand Up Comedy Academy (SUCA) memiliki rating lebih tinggi jika dibandingkan dengan acara-acara lain. Lawan-lawannya kalau live akan memasang TV menunggu apakah SUCA sedang jalan atau iklan. Kalau iklan maka dia baru akan menaikkan lagi untuk merebut pasar di televisi yang memiliki rating kuat.

Kita bicara hiburan, misalnya olah raga, apa orang masih menonton di media sosial?

Karena tidak ada televisi yang secara langsung meliput, maka orang tidak menonton. Namun ketika saya mengatakan pasangan ganda campuran Tontowi dan Liliyana masuk ke final bulu tangkis Olimpiade kemudian viralnya naik dengan sangat cepat. Yang mereka inginkan adalah proses yang sudah jadi, sehingga proses yang menjadikan Tontowi-Liliyana seakan-akan dilupakan. Itu ciri Gen Y dan Gen Z yang sangat instan. Itu yang betul-betul mereka harapkan sehingga ini yang harus dijaga betul untuk tidak terlalu dimanjakan.

Bagaimana dengan berita politik?

Berita politik justru jika ada sensasi akan tinggi secara rating karena menjadi hiburan. Misalnya, ada beberapa acara talkshow yang memelihara orang-orang yang kosong pemikirannya tetap dipertahankan karena itu menyangkut rating. Jadi ahli hukum tata negara yang benar-benar pintar dan sangat hebat pemikirannya kurang laku.

Saya pernah datang ke satu talkshow, ada tokoh-tokoh yang biasa hanya menjadi pengganggu, kalau di Indonesia Lawak Klub maka saya tokohkan itu sebagai Komeng, asal Komeng datang saja tanpa tidak tahu tema malah diarahkan oleh sutradaranya, ”Ketika tokoh itu bicara samber yah.” Politikpun sudah didramatisir seperti itu. Ini yang bahaya.

Yang menakutkan adalah sewaktu era Sri Mulyani jatuh belum ada petualang-petualang yang menganalisa media, tapi sekarang sudah banyak yang menawarkan seperti itu. Ketika Anda menjadi menteri sudah ada kelompok-kelompok yang mengatakan dikelolah dong medianya supaya Anda ada di posisi ini sehingga Anda kami kasih jaminan tidak akan diganti.

Jadi kalau media analisis yang benar malah susah diterima dan tidak bisa memberikan informasi yang sensasional. Sekarang media analis yang laku adalah yang ‘asal bapak senang saja’. Itu yang bahaya. Padahal sudah ada fenomena-fenomena orang yang menggunakan media analisis di-reshuffle oleh Jokowi.

Terakhir, bagaimana Maman Suherman tetap laku, apa resep yang Anda pakai, apa tema yang Maman sekarang angkat, apa lebih ke komedi atau yang lain?

Sebenarnya tidak ke komedi. Saya sebenarnya bisa membuat cerita komedi namun tidak bisa menyampaikannya. Di luar negeri sekalipun, Mr. Bean mempunyai penulis naskah, bahkan Jerry Lewis dan lainnya memiliki 10 penulis naskah, dan Seinfeld adalah orang yang mengucapkan bahwa jika ia telah menulis sesuatu di dalam buku, maka ia tidak akan mengucapkan hal itu lagi dan menulis yang lain.

Nah saya berada dalam posisi di belakang layar. Saya berharap betul, tapi malah bagian kriminologi saya yang muncul. Itu karena asal-usulnya dari kriminologi, dan ramalan Arsendo terbukti lagi.

Bahwa kondisi seperti sekarang, yaitu kriminalitas menjadi sebuah hiburan. Jadi, Jessica (kasus kopi sianida) akan menjadi tontonan yang sangat menarik, dan saya curiga ini akan menjadi proses yang panjang karena KUHP membatasi suatu sidang selama enam bulan. Ini sebenarnya kasus kecil namun akan selalu diekspos selama enam bulan. (*)

© 2014 Padek.co