Sastra dan Jurnalisme


Wartawan : Revdi Iwan Syahputra - Wartawan Padang Ekspres - Editor : Riyon - 04 June 2017 11:07:48 WIB    Dibaca : 127 kali

 

Sungguh terperangah saya mendengar kibasan kalimat yang mengalir begitu saja dari kawan. Kalimatnya ringan tentang sifat latah yang akhir-akhir mengharu biru di media sosial (medsos). Latah bersyair, berpuisi dan berpantun. Kadang, jikalau kelatahan itu menarik, maka akan viral di medsos, dia pun akan menjadi sumir. Sadar atau tidak, kondisi ini akan menjadi bahaya bagi dunia sastra dan jurnalisme.

Memang, akhir-akhir ini, ketika informasi bisa didapat dengan sekali klik, Sastra dan Jurnalisme seolah sedang diuji. Dan ujian itu saya kira akan bermuara pada satu pertanyaan besar; mampukah Sastra dan Jurnalisme tidak membunuh dirinya sendiri?

Pertanyaan besar ini saya lontarkan karena dengan tumbuhnya media sosial dan media daring, informasi bertebaran tanpa ada penyaring. Bagi sastra, dengan banyaknya tulisan yang bertebaran, kita semakin sulit membedakan mana karya sastra yang benar-benar nyastra, atau karya sastra yang hanya mengandung gumam.


Silahkan Login Untuk Lanjut Membaca

Username/ Email
Password
© 2014 Padek.co