Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Khusni Nasirun, Dai dari Pulau Sipora Mentawai


Wartawan : Arif Rahmad Daud - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 04 June 2017 10:48:58 WIB    Dibaca : 92 kali

 

Dihadang Cuaca Buruk, tak Hentikan untuk Berdakwah

Mengembangkan dan mengajarkan Islam di sebuah pulau yang tidak berakses bukanlah perkara mudah. Apalagi harus menghabiskan umur hingga puluhan tahun. Tetapi Khusni Nasirun, 67, mengikhlaskan seumur hidupnya untuk kepentingan agama. Syiarnya agama Islam di Kabupaten Kepulauan Mentawai, terutama di Pulau Sipora tidak terlepas dari peranannya.

Khusni Nasirun sudah lebih dari 20 tahun mengabdikan hidupnya untuk membina umat muslim di Pulau Sipora. Pria kelahiran Semarang, 11 Maret 1950 ini adalah satu perantau tangguh dan memiliki komitmen.

Khusni Nasirun sendiri pertama kali menginjakkan kaki di tanah Mentawai pada tahun 1995, sewaktu menjadi warga transmigrasi Satuan Pemukiman (SP) 2, di desa Sido Makmur, Sipora, (sekarang, Sipora Utara, red). Saat itu, selain sarana dan prasarana yang masih belum memadai, akses transportasi dan informasi juga masih sangat terbatas di Mentawai.

Sebagai warga transmigrasi, Khusni yang waktu itu berusia 45 tahun, memang sudah bertekad memilih jalan hidup dengan berdakwah di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Tekadnya itu turut didukung bekal ilmu agama yang didapatnya semasa menuntut ilmu salah satu pesantren di Pulau Jawa, kampung asalnya.

Banyak rombongan transmigrasi SP 2 yang datang bersama ke Mentawai  tidak betah berada di pulau tersebut dan kembali memilih kembali ke kampung asal. 

“Jadi setiap rombongan warga transmigrasi itu dulunya kan ada ustad atau dainya. Jadi, beliau tidak betah, maka saya yang gantikan,” ungkap Khusni kepada Padang Ekspres di kediamannya yang berdekatan dengan Masjid Baituttaqwa Jalan Raya Desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara, Kamis (1/6) siang.

Perjalanan mengajarkan agama di Mentawai tidak semudah membalikkan telapak tangan seperti dibayangkan Khusni. Bantak aral dan rintangan yang harus ia hadapi. Namun besar pula harapan yang ia tumpangkan dari buah perjuangannya itu.

Salah satu rintangan itu,keterbatasan akses dan informasi sehingga menyulitkan dirinya untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan dunia luar. Selain itu dalam keterbatasan ia juga harus mencukupi kebutuhan hidup keluarga, tidak hanya dirinya tetapi juga pada warga yang ia ajarkan ilmu agama.

“Saya baru betul-betul menetap di Sipora tahun 1996. Saat itu saya baru menyadari, pembinaan agama Islam di Sipora masih sangat lemah termasuk kepada para mualaf. Begitu juga dengan perekonomian warga yang sangat lemah yang butuh peningkatan,” ungkap suami dari Siti Munzayanah ini. 

Lelaki yang masih terlihat energik diusianya yang senja ini kemudian bertekad untuk mengajak dan membina umat kembali kepada nilai-nilai keislaman. Mabuk laut, akibat mengendarai long boat untuk mengunjungi saudara-saudara seiman di pelosok pulau Sipora sudah menjadi makanan sehari-harinya.

Berhadapan dengan ombak besar saat cuaca buruk dan badai juga sudah menjadi santapannya saat berdakwah dari pulau ke pulau di Mentawai. Boat yang ia naiki saat hendak berdakwah juga pernah hampir terbalik diterjang ombak besar. Ia bersyukur, karena saat itu tuhan masih sayang dan masih memberikannya kesempatan mengajarkan Islam di pulau itu. 

“Berdakwah tidak boleh mengenal kata lelah meski dihadang badai. Saya percayakan semua hidup saya kepada yang Maha Kuasa,” ujarnya.  

Ia merasa bahagia masih terus bisa mengunjungi saudara-saudara yang berada di pelosok-pelosok Pulau Sipora dengan long boat. Tidak terhitung banyaknya ia mengelilingi lautan menghampiri masyarakat guna mengajarkan Islam. Kakek tujuh cucu ini mengaku Ikhlas dengan rutinitas itu, hatinya merasa bahagia ketika seseorang semakin dalam mempelajari agama.

“Diakhir hayat, saya ingin tetap seperti ini, mengajarkan agama kepada orang banyak. Meski sedikit akan terus saya sampaikan,” ujarnya. 

Menurut Khusni, pembinaan para dai dan muallaf di Pulau Sipora terbilang masih sangat lemah. Buktinya, pada tahun 2013, dua masjid di Tuapejat sempat tidak menyelenggarakan salat Jumat, karena tidak adanya seorang khatib jumat. Waktu itu, dia sendiri mengaku tengah berada di luar Mentawai. Hatinya miris mendengar kabar itu, masyarakat seakan kehilangan figur pemimpin agama.

Hal itu kata Khusni, salah satu dampak dari lemahnya pengkaderan atau pembinaan dai di Mentawai. Di samping itu, dai juga tidak hanya sekadar dibina namun, juga butuh peningkatan ekonomi. Begitu banyak persoalan minimnya sarana keagamaan yang ditemui di kawasan itu.

“Kalau kita lihat sekarang, di samping masih butuh dukungan buku-buku pengetahuan tentang keagamaan, para dai  juga masih lemah secara ekonomi. Ke depan, dai juga perlu dididik soal usaha untuk menopang ekonomi keluarga,” ujarnya.

Dulunya memanejemen pengorganisasian dan pembinaan umat muslim di Pulau Sipora begitu sulit. Barulah, pada tahun 2015 ditemukan format dan solusi terhadap masalah tersebut, dengan mengadakan pertemuan setiap tiga bulan sekali untuk memecahkan persoalan keagamaan.

“Alhasil, saya dan bersama 13 dai di pulau Sipora setiap tiga bulan sekali mengadakan pertemuan. Segala macam persoalan atau diskusi masalah umat kita bahas di sana. Laporan jamaah, kendala yang dihadapi dan pengkaderan bagaimana? Banyak hal yang kita bahas di sini,” paparnya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, kata Khusni, saat ini dai di Pulau Sipora dibantu oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Semen Padang. Pada tahun 2013, para dai hanya mendapat honor sebesar Rp100 ribu tiap bulannya, kini sudah mencapai Rp 750 ribu per tiga bulan.

“Sekarang, kita mulai lagi pada tahun 2015, dai sudah mendapat honor Rp750 ribu per tiga bulan dari LAZ Semen Padang sebagai penyandang dana,” ujarnya.

Di samping itu, kata Khusni, LAZ Semen Padang juga telah banyak membantu buku-buku agama untuk para dai dan umat muslim di Pulau Sipora. Terkait pembinaan mualaf di Kepulauan Mentawai, harus ada tempat dan kurikulum yang akan digunakan. Hal itu, rencananya akan dibantu oleh yayasan Pesantren Hidayatullah yang berada di jalan raya Tuapejat kilometer 8, Sipora Utara.

Membenahi keadaan muslim di Mentawai, menurut Khusni masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dalam pembinaan. Salah satu solusi, kata Khusni, yakni dengan mengaktifkan Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) di Kepulauan Mentawai. Hal itu nantinya dapat membantu syiarnya agama Islam di Kepulauan Mentawai.

Meski begitu, Khusni sendiri tetap berjuang dengan segala kemampuannya memperjuangkan muslim di Mentawai. Walau kesehariannya hanya bertani namun tidak ada kata lelah untuk mendukung dan menyemarakkan kegiatan keagamaan walau banyak kendala yang harus dihadapi.

Khusni merupakan satu dari banyak orang yang berani mengambil resiko untuk perbuatan yang mulia. Hanya berbekal ilmu agama, ia berani merelakan hidupnya untuk masyarakat yang bermukim diantara samudera dan laut lepas .

Perjuangannya patut dicontoh termasuk kemulian dan keikhlaskan hatinya dalam syiar agama tanpa mengharap  embel-embel pamrih. Masyarakat yang fasih agama adalah surga yang ia harapkan. Kelak perjuangannya itu bisa diikuti oleh banyak generasi. (*)  

© 2014 Padek.co