Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perjuangan Putra Effendi, Pelajar Penjual Palai Bada


Wartawan : Oktaria Tirta - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 21 May 2017 11:54:34 WIB    Dibaca : 114 kali

 

Cari Uang agar Bisa Makan dan Sekolah 

Nasib mujur belum memihak kepada Putra Effendi, 11, bocah asal Rambai, Kasang, Padangpariaman. Dia adalah anak yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Kedua orangtua bercerai.

Ayah dipanggil Sang Pencipta dan ibu berangkat ke Jakarta. Kini dia tinggal bersama nenek. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah dia harus bekerja mencari uang.

Padang Ekspres bertemu dengan Putra Effendi, 11, di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Lubukbuaya, Kota Padang, belum lama ini. Saat itu ia berjualan palai bada. Makanan khas itu dibawanya dengan sebuah wadah dan diletakan di kepala.

Saat menjajakan masakan itu, ia ramah dan murah senyum meski sedang kelelahan. Berpanas-panasan sudah hal biasa baginya. Putra sapaan akrabnya adalah seorang bocah yang seharusnya bermain dan belajar sama seperti anak-anak lainnya dan belum saatnya di usia itu ia harus bekerja. Namun karena kerasnya kehidupan membuatnya harus menghiraukan keinginan untuk bermain.

Saat itu, jualan Putra laris. Entah pembeli kasihan melihatnya atau memang palai bada yang djualnya sangat enak. Konon masakan yang dijualnya itu memang terkenal terutama di lingkungan tempat ia tinggal. Makanan tradisonal itu dibuat oleh neneknya dan sudah sangat diakui masyarakat.

Padang Ekspres sempat bercengkrama dengannya. Putra menyebut, hasil dari penjualan palai bada digunakan untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Di rumah ia tinggal bersama nenek dan seorang adiknya.

Keterampilan nenek dalam membuat palai bada  adalah anugrah terindah bagi Putra. Dengan keterampilan itu, saat ini keluarganya masih serba berkecukupan.

Putra menyebut, dalam mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat palai bada, biasanya nenek mengumpulkan semua bahannya pada malam hari. Seperti mempersiapkan daun pisang, parutan kelapa, ikan bada basah, dan bahan lainnya. 

Palai sendiri dimasak pada pukul 04.00, tentu Putra selalu setia membantu neneknya dalam memasak karena di rumah mereka memang hanya bertiga. Itulah Putra, ia berbeda dengan anak lainnya. Disaat anak-anak lainnya tertidur pulas pada jam tersebut, Putra disibukan dengan bara api untuk membakar palai.

Putra mengaku tidak menyesal dan mengeluh dengan pekerjaan yang dilakukannya itu. Kepada siapa lagi dia akan bergantung, kedua orangtuanya sudah tidak berada didekatnya. Jika tidak bekerja begitu maka ia dipastikan tidak bisa bersekolah. Tekatnya sangat kuat untuk bersekolah.

Bersekolah ke tingkat yang paling tinggi, menjadi TNI dan membahagiakan keluarga itulah cita-cita yang harus ia gapai. Selain itu ia tidak iri dengan anak-anak lainnya yang lebih mampu daripadanya.

“Kalau tidak jualan tidak dapat uang, nanti kami makan apa di rumah, lalu nanti baiaya beli buku, pena dan lainnya bagaimana,” sebut Putra polos.

Neneknya juga berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan sekolah ia dan adiknya. Diantaranya uang jajan, beli seragam yang baru, buku, dan lainnya, Itu adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi sesuai yang disampaikan nenek kepadanya.

Putra sendiri ingin melihat lagi keluarganya berkumpul tetapi hal itu mustahil terjadi. Kedua orangtuanya bercerai disaat ia duduk dibangku kelas satu SDN 19 Kasang.

Di sanalah awal mula ia bersama kakak, dan ibunya berpisah karena sang ibu memilih pergi merantau ke Jakarta. Sementara ayah memilih untuk bertahan di Kasang sambil bekerja sebagai buruh pabrik.

Di saat bekerja sebagai buruh pabrik, ayahnya terkenal sangat rajin. Bahkan ayahnya sering menekankan kepadanya bekerjalah dengan rajin dan semangat maka pekerjaan itu akan terasa ringan dikerjakan apalagi disertai dengan niat yang tulus.“ Makanya saya rajin jualan,” ujarnya.

Akan tetapi saat berada di bangku kelas III SD ayahnya terserang penyakit tifus disebabkan karena kelelahan. Kondisi ayahnya tidak stabil dan tidak kunjung sembuh.

Seminggu setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, ayahnya meninggal dunia. Perasaannya bertambah hancur, orang yang disayang telah pergi. Kini tinggal nenek dan adik kerabatnya.

Karena ayah yang menjadi tulang punggung keluarga sudah tidak ada, akhirnya nenek memutuskan untuk berjualan palai bada. Karena neneknya senang membuat palai untuk dimakan saat bersama-sama.

Darisanalah datang ide untuk menjual palai bada tersebut. Awalnya dijual ke tetangga kemudian akhirnya dijajakan Putra bersama adiknya ke rumah-rumah hingga ke SPBU.

Putra untuk mencoba menjajajakan Palai Bada disekitar SPBU Lubuk Buaya, SPBU Padang Utara dan Pasar Raya. Satu palai dijual dengan harga Rp2 ribu. Dua hari mencoba berjualan di lokasi itu palai yang dijualnya laris manis. Dibawa sebanyak 80 bungkus satupun tidak tersisa karena sangat diminati.

Penghasilan yang didapat kadang mencapai Rp 200 ribu dalam sehari dan uang hasil penjualan langsung diberikan kepada neneknya. Sebagai seorang siswa yang punya kewajiban dalam menuntut ilmu, nenek tidak terlalu memaksakan dirinya untuk berjualan. 

“Jika sekolahnya masuk pagi, maka mulai jualan palai badanya pada jam pulang sekolah, dan biasanya harus pulang dulu ke sekolah, dan langsung lanjut jualan, begitu juga jika sekolahnya masuk siang, maka paginya dari pukul 08.00 sudah mulai jualan, dan pulang jualan pada pukul 11.00,” ujar Putra.

Walau disibukan dengan pekerjaan tersebut, Putra tidak pernah membolos sekolah. Malam harinya dia belajar bersama adiknya. Dia sangat senang masih ada nenek yang sayang kepadanya.

Harapannya saat ini bisa bertemu lagi dengan ibunya, karena sudah empat tahun lamanya tidak bertemu dan memandang wajah ibu. Kemudian dengan berjualan palai bada bisa membuat nenek bahagia dan bisa menjadikannya menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kedewasaan Putra di usianya yang masih kecil patut diacungi jempol. Ia sadar kalau ia berasal dari keluarga kurang mampu sehingga ia tidak banyak keinginan apalagi sampai memaksakan. Baginya, bisa makan dan bersekolah sudah lebih dari cukup. Kelak ia ingin menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. (*)

© 2014 Padek.co