Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

180 Ha Sawah Terancam Gagal Panen


Wartawan : Lumban Tori - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 19 May 2017 11:00:34 WIB    Dibaca : 98 kali

 

Tiga Bulan Jebol, Irigasi Belum Diperbaiki

Meskipun saluran bendungan persawahan di Nagari Bahagia Padang Gelugur, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman sudah tiga bulan jebol, namun hingga kini belum diperbaiki. Padahal sekitar 180 hektare areal pertanian sangat bergantung pada bendungan tersebut.

“Petani menjadi ragu, apakah musim ini masih bisa menanam padi atau tidak. Kegagalan panen menghantui petani. Sebab, sumber utama air persawahan masyarakat petani di daerah sini adalah aliran sungai bendungan tersebut,” ujar warga Nagari Bahagia Padang Gelugur, Firman kepada Padang Ekspres, kemarin (18/5).

Warga bertambah resah, apalagi belum ada kepastian perbaikan dari dinas terkait, dalam hal ini dinas Pekerjaan Umum (PU) Pasaman. Padahal, kata Firman, anggaran untuk perbaikan bendungan tak terlalu tinggi yakni hanya sekitar Rp50 juta.

“Anggaran Rp 50 juta bagi pemerintah daerah dan dinas terkait  tidak lah terlalu besar. Sayangnya, dinas terkait belum bisa memberikan kepastian perbaikan dan masih tahap pembahasan-pembahasan,” sesalnya.

Menurutnya, jika pemerintah daerah dan dinas terkait peduli dan merasa kasihan terhadap petani, maka perbaikan saluran bendungan persawahan tersebut akan jadi prioritas. “Kami berharap perbaikannya bisa dikerjakan dalam bulan ini,” harapnya.

Kepala Bidang Irigasi dan Pengairan PU Pasaman, Bujang mengatakan, persoalan saluran bendungan yang rusak tersebut sudah ditinjau oleh petugas juru air sejak dua hari lalu. Namun bagaimana hasilnya belum ada laporan rinci.

“Petugas juru air kecamatan mengatakan telah survei ke lokasi, dan laporannya akan diberikan pada hari Senin (22/5),” kata Bujang saat dihubungi lewat telepon, kemarin (18/5). Bujang berjanji akan turun ke lokasi pada Senin (22/5) untuk memastikan berapa anggaran perbaikannya. 

Terpisah, Kepala UPT Pertanian Tapus, Murdani mengatakan, dampak yang diakibatkan rusaknya saluran bendungan irigasi itu cukup besar. “Dampaknya, sekitar 180 hektare lahan pertanian akan kekeringan. Pendapatan masyarakat otomatis menurun, jika saluran dranaise bendungan tidak diperbaiki dalam bulan ini,” katanya.

Ia menjelaskan, dari segi analisis ekonominya dalam 1 kali musim panen bisa mencapai sekitar  Rp 4 miliar lebih. “Dalam 1 kali panen per hektare, bisa mencapai 5 ton padi. Jika dikalikan dengan harga gabah kering saat ini mencapai  Rp 4.500 per kilo, maka total  keuntungan yang bisa diraup  sekitar Rp 22, 5 juta,” bebernya. Lalu, kalau dihitung luas lahan yang terdampak yakni 180 hektare dikalikan Rp 2, 5 juta, maka kerugiannya per satu kali musim panen Rp 4, 050 miliar.  

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pasaman, Yasri Uripsah mengatakan, sejak adanya informasi soal rusaknya saluran bendungan persawahan di daerah itu, petugas juru air kabupaten telah turun ke lapangan meninjau lokasi.

Apakah saluran yang tersebut merupakan wewenang kabupaten atau provinsi. Sebab aliran di Batang Rambah memiliki dua pihak yang berwenang, yakni Dinas PU Kabupaten Pasaman dan Dinas PU Provinsi. (*)

 

© 2014 Padek.co