Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Menyikapi Serangan Virus RansomeWare WannaCry


Wartawan : Nuzuwir Joni - Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP UA - Editor : Riyon - 18 May 2017 12:00:26 WIB    Dibaca : 114 kali

 

Kemajuan teknologi tak serta merta selalu membawa manfaat bagi manusia. Ada yang betul-betul memanfaatkan untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, seperti penyimpanan data, percepatan sampainya informasi ke penerima informasi dan lain-lain. Kemudian ada juga yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok demi mengeruk keuntungan sesaat dengan cara-cara yang tidak baik, seperti memanfaatkan kelemahan suatu teknologi komputer dengan meretas atau merusak sistem yang ada didalamnya, kemudian meminta sejumlah uang tebusan, yang mana kalau tidak dipenuhi data atau dokumen penting instansi baik pemerintah atau swasta akan hilang atau tidak bisa lagi di buka lagi. 

Seperti yang terjadi baru-baru ini, negara-negara di dunia disibukkan dengan adanya serangan Cyber Internasional terhadap sistem komputer Microsoft dengan memanfaatkan kelemahan dan kerentanan windows yang ada pada Microsoft tersebut, di mana kita terlambat untuk mengupdate sistem microsoft-nya.

Serangan tersebut dimulai pada hari Jumat (12/5) dan telah menyerang ratusan ribu komputer di 150 negara di dunia. Kaspersky Lab international menjelaskan bahwa virus itu berupa RansomeWare WannaCry yang menginfeksi korbannya dengan memanfaatkan kerentanan sistem operasi windows terutama pada sistem operasi Microsoft yang lebih tua.

Virus tersebut masuk ke komputer melalui lampiran Email atau Link Website yang tidak jelas atau menjalar ke seluruh komputer yang tersambung dengan sistem Local Area Network (LAN). Ketika berada dalam sistem, penyerang memasang rootkit sehingga mereka bisa mengunduh perangkat lunak untuk mengenkripsi data. Virus Ransome Ware jenis WannaCry ini menyerang sistem server dan perangkat lunak Windows 8 kebawah atau versi 2008 ke bawah.

Virus ini tidak menyerang data, tapi mengenkripsi data sehingga tidak dapat dibaca. Hingga kini belum ada antivirus yang dapat mengembalikan file data dengan sandi tersebut. 

Bahkan, pada jendela komputer yang terkena serangan virus WannaCry itu menampilkan informasi-informasi yaitu bagaimana mengembalikan data dan bagaimana membayar uang tebusan untuk pembuat WannaCry, di situ juga terdapat hitung mundur batas waktu penghapusan dokumen jika tebusan tidak dibayar. 

Berbicara mengenai permintaan uang tebusan tersebut, mengingatkan kita pada kasus penyenderaan warga negara asing, termasuk juga warga Negara Indonesia oleh militan Abu Sayaf yang berada di Filipina Selatan. Di mana militan Abu Sayaf merompak kapal-kapal yang lewat di perairan laut Filipina Selatan dan menyandera orang-orang yang berada di atas kapal tersebut. Para sandera dibawa ke pulau-pulau daerah kekuasaan para militan.

Kemudian, para penyandera meminta sejumlah uang kepada pemerintah atau pihak swasta yang bertanggung jawab terhadap orang yang disandera, sebagai uang tebusan untuk membebaskan para sandera. Para sandera akan dibunuh seandainya permintaan mereka tidak dipenuhi atau sejumlah uang tebusan tidak dibayar.

Segala upaya pun telah dilakukan oleh pemerintah, seperti bekerjasama dengan pemerintah Filipina, bekerjasama dengan pimpinan muslim Moro yang moderat, memanfaatkan pihak ketiga seperti orang yang pernah berhubungan dengan militan Abu Sayaf dan juga bekerjasama dengan negara-negara yang berdekatan seperti Malaysia dan Brunei dalam rangka menangkal perompak militan Abu Sayaf. Dengan cara-cara seperti itu akhirnya pemerintah Indonesia berhasil membebaskan para sandera warga negara Indonesia dengan selamat.

Kalau kita bandingkan dengan kasus serangan Virus RansomeWare WannaCry, terdapat ada kesamaan dan ada perbedaan modus operandinya. Dalam hal ini, mereka sama-sama mencari keuntungan pribadi atau kelompok, demi  mencari kekayaan yang instan atau demi memenuhi tuntutan mereka untuk dibayarkan sejumlah uang tebusan.

Bedanya kalau Abu Sayaf terangan-terangan, orangnya jelas sementara penyerang Cyber International orangnya tidak kelihatan dengan siapa kita akan bernegosiasi. Kalau militan Abu Sayaf jangka waktunya bisa panjang dan penyerang Cyber International waktunya pendek kalau tidak ditebus maka seluruh data-data penting akan hilang atau tidak bisa dibuka lagi. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi operasional kerja dari instansi pemerintah suatu negara atau perusahaan swasta. 

Kejadian seperti ini akan terus berulang tanpa ada batasannya. Semakin canggih teknologi atau semakin meningkat ilmu pengetahuan tentang teknologi maka semakin meningkat pula kejahatan cyber dalam menggerogoti kecanggihan ternologi tersebut. Ibarat pengobatan sebuah penyakit, semakin canggih obat yang ditemukan oleh para ahli obat, semakin canggih pula kuman atau virus yang akan menimbulkan penyakit karena penyakit tersebut akan berevolusi atau menyesuaikan diri dengan keadaan tempat dia hidup dalam tubuh manusia. 

Begitu juga dengan virus komputer ini, apabila nantinya ditemukan antivirus yang dapat mengembalikan data-data yang hilang, maka para penyerang akan menyiapkan virus yang lebih berbahaya dari virus malware ini. Para ahli pun sudah memprediksi bahwa suatu saat akan terjadi lagi serangan yang lebih besar dari pada serangan virus sebelumnya.

Jadi apa yang dapat pemerintah perbuat untuk melindungi instansi-instansi pemerintah dari serangan  cyber tersebut, tentunya akan terasa sulit apabila dilakukan oleh negara kita sendiri. Kalau kita berkaca pada keberhasilan pemerintah Indonesia dalam membebaskan para WNI yang disandera militan Abu Sayaf, mungkin saja salah satunya dapat diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Selain melakukan kerjasama dengan negara-negara di dunia dalam menangkal serangan cyber internasional, juga dapat memanfaatkan jasa pihak ketiga atau pihak yang mengerti seluk-beluk sebuah komputer. 

Masih ingatkah kita dengan kasus, peretasan situs Polri atau situs Traveloka yang hanya dilakukan oleh seorang pemuda yang tamatan SMP, yang tidak pernah mengecap pendidikan tentang bagaimana memprogram sebuah komputer atau berhubungan dengan teknologi komputer? 

Pada hari itu, semua orang mungkin tidak menyangka dan terkejut akan kepandaian yang dimilikinya oleh anak tersebut. Ya! bagaimana bisa orang yang tidak pernah sekolah komputer bisa meretas situs-situs perusahaan ternama di Indonesia. Memang ilmu yang ia dapat, diperoleh dari belajar secara otodidak, atau belajar dari hasil pencarian Google.

Akan tetapi kalau pemerintah kita bijak, alangkah baiknya kalau pemerintah kita bisa membina dan mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik dan tidak lagi mencari uang dengan cara yang tidak baik. Katanya memang, mereka berbuat seperti itu, karena alasan ekonomi, tidak punya pekerjaan yang tetap untuk membiayai hidup mereka sehari-hari. 

Di sinilah peran pemerintah seharusnya muncul, yakni dengan memberdayakan mereka dan memanfaatkan kepandaian mereka atau bahkan merekrut mereka menjadi bagian dari Tim Cyber Nasional Indonesia dalam rangka menangkal setiap serangan cyber international. Dalam kasus serangan virus RansomeWare WannaCry ini, pemerintah sudah seharusnyalah membentuk sebuah Tim Cyber Nasional yang gunanya melindungi sistem informasi dan komunikasi kita dan menangkal setiap ancaman serangan Cyber yang tidak bertanggung jawab baik dari dalam negara maupun dari luar negara. Hal ini akan sangat berbahaya jika mereka bisa meretas sistem pertahanan negara kita dan mengorek semua informasi rahasia negara kita. Terima kasih. (*)

© 2014 Padek.co