Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Saras Dewi: Puisi untuk Keadilan


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 18 May 2017 10:32:23 WIB    Dibaca : 125 kali

 

Hampir enam tahun Saras Dewi menjadi ketua program studi S-1 filsafat UI. Mulai akhir tahun lalu jabatan itu sudah berakhir. Di luar mengajar, Saras punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan karya-karya lain. Salah satunya, menulis buku. 

Sulung di antara 10 bersaudara putri pasangan Nyoman Dhamantra dan Lilik Kelana Putri tersebut baru saja menerbitkan buku kumpulan puisi Kekasih Teluk pada 6 Mei lalu.

Acara launching Kekasih Teluk diisi dengan pembacaan puisi. Selain oleh Saras Dewi, ada Djenar Maesa Ayu, Okky Madasari, Agus Noor, dan beberapa penyair muda lainnya.

Karya tersebut menjadi buku kelima Saras. Sebelumnya, dia menulis Jiwa Putih (2004) serta tiga buku filsafat: Hak Asasi Manusia (2006), Cinta Bukan Cokelat (2010), dan Ekofenomenologi (2015).

Kumpulan puisi di dalamnya lahir dari pergelutan individual Saras pada isu-isu lingkungan. Dia aktif menyuarakan Bali Tolak Reklamasi. Dia juga terinspirasi perjuangan masyarakat Kendeng, Jateng, untuk menghentikan penambangan karst yang dinilai merusak lingkungan.

Ada pula salah satu puisi di dalam Kekasih Teluk yang berkisah tentang spesies-spesies di Indonesia yang populasinya menipis karena habitat mereka tergerus oleh pembangunan yang kurang memperhatikan aspek ekologi.

“Berpuisi adalah cara saya menjangkau mereka yang punya kekecewaan sama, punya harapan yang sama untuk keadilan ekologi di Indonesia,” papar Saras yang beberapa kali membuat kolaborasi folk akustik bersama Coki, sang suami.

Saras juga melakukan banyak riset untuk pengabdian masyarakat. Melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI, mereka tengah membangun museum bersama warga desa adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali. Museum Sang Hyang Dedari tersebut ditujukan untuk konservasi budaya dan ritual tari yang hampir punah.

Tarian Sang Hyang Dedari yang menunjukkan kelekatan kehidupan ritual masyarakat Bali dengan tradisi pertanian mereka tersebut masuk warisan dunia oleh UNESCO. “Kebudayaan adalah kekuatan Indonesia. Bagaimana cara kita merawat, termasuk kegiatan pengarsipan dan dokumentasi,” ujar Saras. (*)

© 2014 Padek.co