Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kesuksesan Antonius Steven, Peternak Kambing Etawa dari Sungaipua


Wartawan : Rifa Yanas - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 14 May 2017 11:29:25 WIB    Dibaca : 87 kali

 

Dulu Petani, Kini Beromset Puluhan Juta

Setiap usaha tidak bisa berkembang jika tidak diiringi dengan kegigihan. Ingin mendapat untung banyak, harus kerja keras dan serius menekuni usaha yang digeluti, meskipun tidak dibarengi dengan modal yang banyak. Itulah yang dilakukan Antonius Steven, 31, bermula merawat satu ekor kambing Etawa, kini
berkembang menjadi ratusan kambing  

Anton, sapaan akrab Antonius Steven, warga Jorong Tangahkoto, Nagari Sungaipua, Kecamatan Sungaipua ini tidak pernah membayangkan akan memiliki ratusan kambing. Total ada 120 ekor kambing etawa yang ia punya saat ini.  

Panjang perjalanan yang dilaluinya menjadi seorang peternak. Dihadapkan dengan sejumlah rintangan harus dilewati. Berkat keuletan semua rintangan bisa diterjang. 

Cerita kesuksesannya saat ini, bermula setelah menamatkan pendidikan di SMKN 1 Bukittinggi jurusan Instalasi Listrik. Setelah lulus, Anton mulai bekerja serabutan sambil beternak sapi. Kemudian dia mengolah lahan milik keluarganya dan menanami dengan berbagai aneka sayuran.

Cukup lama ia menggeluti profesi menjadi petani tersebut. Terakhir Anton bertanam cabai  dan tomat. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, hasil panen cabai dia belikan seekor kambing tipe peranakan Etawa di Kota Payakumbuh. Dari situlah kemudian bisnisnya berkembang pesat.

“Saat itu, saya berpacaran dengan seorang gadis di Payakumbuh. Saat bertamu ke rumahnya, saya mengetahui ada salah satu keluarganya yang menjual seekor kambing berbadan besar. Saya tidak tahu ada kambing jenis itu. Saya kira kambingnya unik, makanya saya beli dan dibawa ke Sungaipua,” kenang Anton mengawali kisahnya kepada Padang Ekspres.

Karena kambing yang dibeli Anton betina, dia berupaya mencarikan seekor pejantan yang ukuran fisiknya sama besar. Dalam masa pencarian itu, tepatnya awal tahun 2014 dia malah menemukan sentra peternakan kambing jenis miliknya tersebut. Karena penasaran, Anton memilih untuk belajar ilmu cara betertank kambing di peternakan tersebut.

“Saya memutuskan untuk belajar selama enam bulan di kandang kambing milik Toni Farm di Pasar Ibuh, Payakumbuh. Genap enam bulan saya lalui. Suatu hari, di sana diadakan sekolah lapangan oleh Dinas Peternakan. Karena saya bukan warga asli Payakumbuh, saya tidak mendapat izin untuk ikut. Sejak saat itulah, saya bertekat untuk serius mengembangkan bisnis kambing ini,” ujarnya penuh semangat.

Tidak butuh waktu lama, usai belajar cara peternakan dari kandang kambing Toni Farm, Anton kemudian berkelana mencari bibit kambing dan menambah pengetahuan cara peternakan kambing Etawa.

Karena masih berpacaran dengan gadis pujaannya, Anton harus bolak-balik di sekitar Payakumbuh. Anton juga mendapat berbagai pengalaman dari peternak kambing lainnya, termasuk dari orang yang mengajarkan Toni Farm cara beternak.

Saat belajar dengan guru dari Toni Farm itu, Anton malah ditawarkan untuk memasarkan susu kambing Etawa di kawasan Sungaipua. Memiliki segudang rasa penasaran, ia kemudian menyanggupi tawaran tersebut. Mulailah dirinya menjajakan susu kambing dimulai dari lingkungan sekitar rumahnya.

“Saya menjadi agen susu kambing lintas kota. Saya beli susu ke Payakumbuh lalu saya jual di Sungaipua. Sepekan saja saya bisa meraup untung sekitar Rp 2 juta. Modal itulah yang kemudian saya belikan kambing untuk menambah koleksi kambing saya yang juga terus berkembang biak saat ini,” papar pria kelahiran 20 Januari 1986 ini.

Sertelah berjalan beberapa lama, usaha peternakan kambing yang ia tekuni itu mendapat perhatian dan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Agam. Pada tahun 2014 itu Anton mendapat kepercayaan menjadi perwakilan Agam untuk mengikuti kontes kambing Etawa tingkat provinsi di Kabupaten Dharmasraya.

“Saya masih pemula dan hanya coba-coba. Namun saat itu kambing yang saya bawa berhasil meraih juara pertama,” ungkapnya.

Kini, kambing yang dimiliki Anton mencapai 120 ekor. Sudah banyak susu kambing dipasarkannya, uang juga banyak didapat. Untuk membenahi kandang kambing, sebagian kambing yang telah berhenti menyusui (afkir,red) dijual untuk permintaan pasar guna memenuhi pasokan daging.

Selain itu, sepasang anak kambing usia tiga bulan yang baru saja berhenti menyusui, kalau ada permintaan, juga dijualnya seharga Rp 3 juta. Sedangkan induk kambing yang sedang bunting dibandrol Anton seharga Rp3,5 juta. 

Untuk makanan kambing ia memberinya ampas tahu. Dulu harganya Rp10 ribu/karung. Perlahan naik menjadi Rp25 ribu/karung. Kenaikan biaya pakan itu turut memicu naiknya harga susu kambing. Pada 2014, satu liter susu Etawa seharga Rp30 ribu. Saat ini perliternya yakni Rp 60 ribu. Uang yang didapatnya dikeluarkan untuk gaji tiga orang karyawan dan biaya operasional. 

Dulu Anton mengelola sendiri, namun karena beban kerja semakin banyak dan jumlah kambing terus bertambah, ia mempekerjakan orang guna memudahkan pekerjaan. Anton harus merogoh kocek Rp8 juta hingga Rp10 juta setiap bulan. Sementara, pendapatan bersihnya mencapai Rp 25 juta sebulan.

“Alhamdulillah, masih ada sisa pendapatan sekitar Rp10 jutaan sebulan untuk menghidupi keluarga dan menambah omset,” terang anak ke 13 dari 15 bersaudara ini.

Kehidupan Anton benar-benar berubah drastis. Kini dia mendadak berubah menjadi pengusaha muda yang menjadi kebanggaan rang Agam. Dua tahun membina rumah tangga bersama Witra Rizal, gadis asal Payakumbuh yang dulu dipacarinya, kini ia dikaruniai seorang putri. 

Sehari-harinya Anton masih bolak-bolak ke Payakumbuh karena istri bekerja dan menetap di sana. Sementara, bisnis peternakan kambing miliknya terus berkembang pesat dan ditangani oleh tiga orang karyawannya.

Menjelang Ramadhan ini dia harus memasok kambing dalam jumlah besar. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan permintaan daging pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Biasanya, Anton membeli kambing hingga ke Yogyakarta, Lampung dan Bogor.

“Saya bercita-cita menjadikan Kabupaten Agam swasembada daging. Untuk itu saya terus mendorong para pemuda di sekitar Sungaipua agar bergabung beternak kambing Etawa. Saya tidak ingin menikmati bisnis ini sendirian. Siapa saja yang datang ke sini, selalu saya motivasi untuk mengambil pelajaran dari pengalaman hidup yang telah saya jalani,” ujar Anton.

Kandang kambing milik anton telah mendapat pengakuan dari Pemkab Agam. Anton juga telah mendapatkan sertifikat higienis dari Balai Veteriner Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sumbar. Peternakan berlabel Antoni Farm ini juga sudah membina beberapa peternak lainnya dan membentuk kelompok ternak.

Anton benar-benar menginspirasi warga sekitarnya. Susu kambing tidak pernah kehabisan pasar. Bahkan permintaan susu terus saja berdatangan dari berbagai relasi yang telah dibinanya selama dua tahun belakangan. 

Dalam waktu dekat, Anton akan mendirikan sentra peternakan kambing etawa bekerja sama dengan sebuah perusahaan. Dia memang tipe pemuda yang bersemangat dan pantang menyerah.

“Filosofi beternak kambing adalah kerja sosial. Sambil mencari pakan, juga membersihkan ladang dan pekarangan rumah warga. Namun yang paling penting adalah kegigihan. Jangan berputus asa dan teruslah mencoba. Dari seekor kambing dua tahun yang lalu, saya bisa jadi seperti saat ini karena terus belajar dari peternak yang sukses. Siapa saja bisa menjadi seperti saya,” pungkasnya. (*)

© 2014 Padek.co