Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Bom Waktu


Wartawan : Rommi Delfiano - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 07 May 2017 11:09:43 WIB    Dibaca : 99 kali

 

Entah apalah yang salah di negeri ini. Dulu, orang masuk penjara dianggap aib oleh keluarga. Bahkan tak sedikit sanak keluarga mengucilkan ataupun membuang sepanjang adat bagi yang bersalah. Menariknya, nyaris tak ada terdengar bentrok imbas atas ketidaksenangan pelaku kejahatan atas putusan itu. Mereka sepertinya pun tahu diri pula dengan meninggalkan kampung halaman.

Namun, sekarang zaman sudah berputar 360 derajat. Hal-hal yang dulunya dianggap tabu, sekarang malah dipertontonkan secara gamblang di depan publik. Lihatlah bagaimana raut muka seseorang yang sudah ditetapkan jadi tersangka, terdakwa atau terpidana. Mereka nyaris tanpa dosa. Senyumnya tetap saja menyeringai lebar. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.

Malahan muncul imej sekarang ini, berurusan dengan persoalan hukum di negara ini tak lagi menakutkan. Bukan apa-apa, semuanya tergantung uang di kantong. Bila toh punya uang berlebih, yakinlah proses hukum bisa “dikendalikan” sesuai keinginan. Mulai awal kasus tersebut muncul  sampai keluar putusan tetap, prosesnya bisa “dimainkan”. Lagi-lagi, alat ukurnya hanya satu. Uang.

Bahkan, sudah punya putusan tetap pun, jangan pulalah berkecil hati dulu. Pasalnya, tetap saja masih ada “peluang” menjalani hidup normal dalam penjara. Lagi-lagi, ukurannya tetap uang. Uang banyak, fasilitas mewah bisa dibeli. Di beberapa kasus, terpidana kakap masih bisa berjualan narkoba melalui kaki tangannya di luar penjara.

Tak tanggung-tanggung omsetnya bisa pun sampai puluhan miliar sebulan. Biar pun dilakukan razia dalam penjara, namun nyaris tak menyentuh seluruh penghuni penjara. Lebih banyak menyasar napi atau tahanan kere. Paling-paling barang-barang yang disita, sekadar handphone dan benda-benda yang tak telalu bernilai. Sedangkan pelaku kakap, “seakan” baik-baik saja.

Para tahanan atau napi kere, tentu tak bakal bisa seluruhnya memperoleh fasilitas “wah”. Malahan, kerap menjadi “bulanan-bulanan” oknum petugas. Kendati kerap dibantah institusi terkait, namun fakta di lapangan tak bisa dibantah. Tentu kasus paling anyar, kabur massalnya tahanan dan napi di rumah tahanan (Rutan) Pekanbaru, Jumat (5/5). Tanggung-tanggung, jumlahnya melebihi 200 orang.

Kendati hanya disebutkan pemicunya bentrok antar-napi di salah satu blok. Namun, pengakuan beberapa napi atau tahanan Rutan Pekanbaru, bentrok diikuti kaburnya ratusan napi dan tahanan, puncak luapan emosi yang tak tertahanan selama ini. Perlakuan kurang manusiawi yang diduga dilakukan oknum petugas penjara, menjadi pemicu utamanya.

Nah, ketika salah seorang oknum petugas diduga melakukan kekerasan terhadap seorang tahanan sewaktu berupaya melerai tawuran antartahanan, mematik solidaritas antar-tahanan. Akhirnya, kerusuhan berakibat kaburnya ratusan tahanan pun tak bisa dihindarkan (biarpun informasi terakhir, sebagian besar di antaranya sudah ditangkap lagi).

Harus diakui bahwa kerusuhan dalam penjara atau pun kaburnya tahanan, bukanlah kali ini saja terjadi. Kondisi ini juga kerap terjadi di sejumlah  penjara di Sumbar. Belajar dari kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, semuanya tak terlepas dari adanya ketidaknormalan yang terjadi dalam penjara. Ketidaknormalan itu, memicu rentetan persoalan yang bila tidak tertangani dengan baik, memicu masalah lebih besar. Ya, seperti terjadi di Rutan Pekanbaru.

Semua kalangan jelas tak menginginkan kasus kerusuhan dalam penjara berulang. Namun, jelas tak mudah. Mengingat, hampir keseluruhan penjara di Indonesia kelebihan kapasitas yang membuatnya rawan rusuh. Nah, merujuk ini, pemerintah harus memikirkan persoalan tersebut mulai sisi pencegahan kejahatan di masyarakat. Bila perlu, ada garisan yang tegas terhadap kasus-kasus tertentu, pelakunya tak mesti masuk penjara. Selain itu, profesional petugas dalam penjara juga perlu lebih ditingkatkan. Bagaimanapun, pendekatan humanis lebih menguntungkan ketimbang kekerasan. (*)

© 2014 Padek.co