Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Erizal Effendi SH MH, Wakil Ketua DPW Sumbar Partai NasDem


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 07 May 2017 10:51:51 WIB    Dibaca : 13 kali

 

Majukan Sumbar Lewat Akses Tol Padang-Pekanbaru

Upaya pemajuan segala sektor di Sumbar, termasuk sektor pariwisata harus didorong dengan percepatan aksesibilitas antar-wilayah. Salah satunya membuat jalan tol agar laju keluar masuk Sumbar lewat darat semakin lancar. Selain menambah nilai tarik wisatawan ke ranah Minang, proses angkutan hasil alam juga semakin memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Karena itu, gagalnya pembangunan jalan Tol Sumatera Lintas Selatan, yang melewati Sumbar, sangat disayangkan Wakil Ketua DPW Sumbar Partai NasDem Erizal Effendi, yang pernah menjadi anggota DPRD Sumbar selama dua periode. Namun, ia tidak tinggal diam. Saat mendampingi Presiden Joko Widodo ke Sumbar, salah seorang pendiri Partai NasDem itu langsung mengusulkan pembangunan jalan tol Padang-Pekanbaru.

Mulutnya terbukti asin. Presiden langsung mengagendakan rapat dengan kementerian terkait. Usulan pembangunan jalan tol tersebut dipenuhi dan dianggarkan Rp 5 triliun tahun ini.

Selain jalan tol, pada kesempatan yang sama, Nasdem melalui Erizal Effendi juga berharap, akses jalan Pesisir Selatan-Solok dapat segera dituntaskan. Penuntasan akses jalan itu diyakini mampu mengurangi keterisolisoliran.

”Akses ini sangat penting untuk menggeliatkan pertumbuhan ekonomi Sumbar. Lalu lintas hasil bumi Sumbar akan semakin bagus hingga nilai jualnya lebih tinggi. Juga mendorong pariwisata,” hematnya.

Dicontohkan pada pembangunan tol Padang-Pekanbaru. Walaupun Tol Sumatera hanya melewati Lintas Timur, keberadaan Tol Padang-Pekanbaru akan menghubungkan wilayah Sumbar dengan tol Sumatera.

Otomatis moda transportasi tetap dapat dilewati melalui jalan tol. Kenyamanan dan ketepatan waktu orang-orang menuju, atau hendak meninggalkan Sumbar terwujud meskipun jalan Tol Sumatera gagal melewati Sumbar. Jujur, ia mengaku cukup kecewa atas kegagalan tersebut.

Setelah dipikir-pikir, akhirnya muncul inisiatif tol Padang-Pekanbaru dan diperjuangkan meski sekarang Erizal Effendi bukan lagi anggota dewan. ”Menjabat atau tidak, yang penting tetap berbuat untuk Sumbar. Pengabdian itu kan bukan karena jabatan. Hanya kadang kala, seorang yang mengabdi dipercaya memegang jabatan. Tapi pengabdi  an dulu, bukan jabatan dulu,” ungkapnya.

Semangat itulah yang diharapkan dimiliki oleh kadernya, anggota Nasdem di eksekutif dan legislatif. Diminta mengusahakan dan mengawal program yang berpihak pada masyarakat.

Program daerah yang berorientasi pada pengabdian. Kader Nasdem, sebutnya, harus selalu berkoordinasi dengan masyarakat. Sentuh kepentingan warga secara totalitas.

Semangat Erizal Effendi, juga semangat Partai Nasdem. Makanya, partai besutan Surya Paloh tersebut, mati-matian berupaya melahirkan pemimpin yang dapat menjadi panutan. Nasdem menyadari, hampir di banyak daerah gersang akan pemimpin panutan.

”Bukan cuma pemimpin berdarah Minang, tapi pemimpin berjati diri Minang. Kami rindu lahirnya pemimpin berjati diri Minang di Sumbar,” harapnya.

Di antara karakter pemimpin berjati diri Minang, menurutnya, punya karakter dan menanamkan asas kehati-hatian. Bakato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik. Artinya, setiap yang akan dikatakan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu, sehingga, perkataan itu tidak menyinggung orang lain.

Begitupun dalam setiap aktivitas, gerak dan perilaku hendaknya diawasi, jangan sampai merusak diri dan orang lain. Tetuah telah mengisyaratkan, bajalan paliharo kaki, maliek paliharo mato.

Begitu pun sanksi, sudah diingatkan. Muluik tadorong ameh timbangannyo, kaki tataruang inai padahannyo. Apabila jati diri ini tertanam pada diri pemimpin, akan dijumpai pemimpin berkarakter.

Kemanapun pergi, orang Minang akan selalu jadi panutan. Konsep itu sudah dibuktikan oleh pendahulu, seperti Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Hamka dan tokoh lain yang memiliki jati diri Minang.

Pemimpin dan tokoh berjati diri otomatis akan memiliki integritas. Menjunjung tinggi kejujuran, profesional, nasionalisme dan memiliki semangat kebangsaan. Semangat inilah yang akhir-akhir ini mulai kendor, mulai berkurang.

”Jadi jangan heran, kalau Nasdem tidak meminta mahar pada tokoh-tokoh yang ingin mengabdi pada masyarakat melalui jalan politik. Nasdem partai gagasan, ingin membawa perubahan, jadi tidak harus mempertanyakan mahar politik,” tegas Erizal Effendi.

Peluang melahirkan pemimpin berkarakter bagi NasDem sangat terbuka. NasDem, sebutnya, punya modal besar 2019 mendatang. Sedikitnya terdapat 15 ribu kader terstruktur mulai dari DPW, DPC hingga ranting.

Ditambah dengan kekuatan 57 anggota dewan, tujuh kepala daerah yang diusung, ia optimis menghadapi pesta demokrasi pemilihan legislatif ke depan. Semua kekuatan, akan ditopang oleh 12.100 saksi terlatih yang telah diberi pembekalan.

Tokoh-tokoh yang lahir itulah yang diharapkan membawa perubahan bagi Sumbar. Menciptakan pemerintah yang clear goverment, pemerintahan bersih, dan mengangkat masyarakat dari keterisoliran. Salah satu upaya untuk melepaskan masyarakat terisolir, dengan memajukan akses jalan dan transportasinya.

”Intinya, menyadari kalau kita pelayan masyarakat yang dituntut sebagai sosial service, memberikan kemudahan, dan berinisiasi untuk pengembangan dan pembenahan. Minside perubahan,” pungkasnya. (*)

© 2014 Padek.co