Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Konsen Membela Perkara Masyarakat (Struktural)


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 07 May 2017 10:50:16 WIB    Dibaca : 63 kali

 

Sudah Mandiri Sejak Masa Sekolah

Kelahiran Erizal Effendi sebagai tokoh tidak datang begitu saja. Anggota PERADI Padang yang telah beracara sejak 1992 itu, sudah berdiri bersama warga dan memperjuangkan hak masyarakat yang direnggut. Di Pasaman Barat contohnya. Melakukan pembelaan pada 500 kepala keluarga, anggota kelompok tani sejahtera menggugat ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Dastra tahun 2009. Atau sebagai advokat Partai Nasdem, membela sekitar 2000 pedagang pasar Padang Panjang yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Pasar Padang Panjang (P5), hingga masalah diselesaikan secara non letigasi. Pedagang tidak harus berurusan panjang dengan pengadilan.

Bukan cuma di Sumbar. Tahun 1997, suami Ismayenis itu bahkan menggugat Bupati Sarolangon, Bangko karena menerbitkan Surat Keputusan Pembongkaran 16 petak kedai di terminal bus bangko ke pengadilan tata usaha negara (PT TUN) Palembang karena bertentangan dengan hukum dan merugikan pemilik kedai. Setelah menjadi wakil rakyat, kehadiran alumni Fakultas Hukum UBH itu, juga dirasakan oleh anggota dewan, baik di DPRD Padang maupun DPRD Sumbar saat kusut terjadi di lembaga legislatif.

Semasa di legislatif, menjadi ketua Panitia Khusus (Pansus) sekitar 20 persen Peraturan Daerah yang dihasilkan. Salah satunya, Perda Tanah Ulayat. Hanya lewat satu aturan, berapa banyak hak ulayat masyarakat yang terbentengi. Apabila hanya menjadi seorang penasehat hukum, mungkin hanya beberapa persen warga saja yang dapat dibantu. ”Inilah salah satu alasan kenapa saya memilih terjun ke politik. Melalui jalan inilah saya dapat lebih banyak membantu masyarakat,” kenangnya.

Terbukti ketika menggugat Pemko Padang karena menerbitkan surat keterangan pembatalan Perda APBD pemberian tunjangan akhir masa jabatan di PTUN Padang, yang pada akhirnya dipakai di seluruh Indonesia. Melalui jalan politik, sebutnya, kesempatan mengabdi dan berkontribusi lebih terbuka. Asalkan, seorang kader berkarakter.

Sejak kecil, Erizal Effendi mengaku telah ditanamkan nilai-nilai jati diri Minang. Salah satunya, kejujuran. Lalu, tidak menyimpang. Berbekal nilai itulah kemandirian hidup dijalani mulai dari masa sekolah hingga kuliah. Untuk menamatkan sekolah di SMA 2 Bukittinggi, ia bekerja di sekitar Jam Gadang. Agar menyandang gelar sarjana, di Padang bekerja di salah satu hotel.

”Alhamdulillah, dari sana pendidikan dapat ditempuh. Kita harus berusaha untuk mandiri,” ungkap alumni program magister Ilmu Hukum Unand tersebut.
Selepas dari bangku perkuliahan, baru menerjuni dunia advokat sesuai bidang ilmu yang digeluti. Sejak 1992 hingga sekarang, masih aktif melakukan pembelaan. 

Sekitar tahun 1994 hingga 1996, juga juga menjadi pembela umum di LBH Padang dan sekretaris LPBH Pagaruyung sejak 1995 hingga 1999. Memberikan bantuan hukum dilakoni sembari menggeluti dunia politik.

Ia berharap, lewat jalan politik, lebih banyak dapat membantu kepentingan umat. Terlepas apakah masih menjabat, atau sedang tidak menjabat, kontribusi pada masyarakat, harus tetap jalan. (*)

© 2014 Padek.co