Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kehidupan Zul Firman, Pembersih Makam Tunggulhitam, Kota Padang


Wartawan : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 07 May 2017 10:48:12 WIB    Dibaca : 79 kali

 

Upah tak Menentu, Anggap Kerja sebagai Ibadah

Jerat kemiskinan selalu mengikat kuat masyarakat badarai. Terlepas dari kemiskinan itu sendiri tidak semudah membalikan telapak tangan. Itulah yang dirasakan Zul Firman, 54, warga Dadok Tunggulhitam, Kota Padang. Agar asap dapur tetap mengepul, laki-laki enam anak ini 27 tahun menjadi bekerja sebagai pembersih makam.

Pemakaman Tunggulhitam terlihat lengang saat Padang Ekspres berkunjung ke lokasi itu beberapa waktu lalu. Tak tampak orang yang berziarah. Begitu sunyi, hanya barisan makam yang menghampar luas. 

Di sebelah utara terlihat seorang lelaki bertopi. Kulitnya gelap seperti sering berpanasan. Dia duduk di bagian pinggir sebuah makam. Kepalanya tertunduk ke bawah, matanya terpejam, jelas terlihat ia sedang kelelahan. Lelaki bertopi itu tersentak, ketika Padang Ekspres menghampirinya.

Ia menyapa dengan ramah saat dihampiri. Laki-laki itu adalah Zul Firman akrab disapa Bujang Puruih. Perbincangan hangat terjadi antara Padang Ekspres dengannya hingga ia menceritakan kisah hidupnya. Sudah 27 tahun ia bekerja sebagai pembersih makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tunggulhitam. Persisnya pada tahun 1990 ia  mulai menjalani pekerjaan itu.

”Banyak cara mengais rezeki asalkan mau berusaha. Tidak penting apa pun itu pekerjaannya yang penting halal dan tidak merugikan orang lain,” ujarnya.

Tidak pernah ada rasa malu di hatinya bekerja dan mencari rezeki dengan cara membersihkan makam. Niatnya berusaha tulus untuk menghidupi istri dan enam anaknya. Zul tak pernah mengeluh, meski uang yang didapat sedikit, namun tetap disyukuri sebagai nikmat yang telah diberikan Tuhan. Sebab prinsipnya bekerja itu adalah sebuah ibadah.

“Dulunya saya kerja di SMA 8, sebagai petugas kebersihan halaman sekolah sejak tahun 1985 hingga 1990,” ucapnya sambil tersenyum.

Meski pekerjaan itu tidak membuat perekonomiannya keluarganya tercukupi, namun pekerjaan itu iklhas ia lakukan karena sudah tidak ada lagi pekerjaan lain yang bisa dikerjakannya.

“Saya sudah sering cari pekerjaan lain, namun mungkin karena belum jodoh jadi sekarang saya bekerja di sini saja,”  ujarnya.

Menjadi pembersih makam di TPU, hanya sekali setahun ia bisa mendapatkan uang lebih, itupun menjelang Ramadhan dan Lebaran, bak rezeki harimau. Kadang ada, kadang tidak.

“Sekarang ini belum ada dapat uang, karna belum ada orang yang ingin makam keluarganya dibersihkan,” sebutnya.

Dengan pendapatan yang tak menentu, Zul harus menghidupi istri dan keenam anaknya selama bertahun-tahun. Beruntung anak sulungnya pria 54 tahun ini sudah menikah dan bekerja. Jadi hanya lima anak yang menjadi tanggung jawabnya.

“Yang sekolah dua orang, masih SD. Yang lainnya tidak tamat sekolah, kerjanya juga tidak jelas. Jadi masih tanggungan bapak,” ucap Zul sambil sesekali membenarkan letak topi lusuh di kepalanya.

Ia sangat ingin anak-anaknya mengecap pendidikan sama seperti anak lainnya. Namun apa daya jerat kemiskinan terlalu kuat mengikatnya. Saat ini ia bertekad menyelesaikan pendidikan dua anaknya yang sedang bersekolah. dengan harapan kelak bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga.

Zul Firman sendiri sudah dua kali menikah, istri pertama ia nikahi pada 1993 silam, meninggal karena keracunan kandungan di tahun 1994. Kepergian istri dan anak pertamanya itu menjadi duka perjalanan hidup yang harus ditanggung.

“Waktu itu saya harus membayar rumah sakit Rp 4 juta lebih, sedangkan di kantong cuma ada uang Rp 185 ribu. Untung saja saya di tolong almarhum kepala rumah sakit M Djamil pada saat itu,” kenangnya.

Tahun 1995 Zul kembali menikah, dan dikaruniai enam anak. Kehidupan yang jauh dari kata cukup membuat Zul harus memutar otak,  agar bisa menghidupi keluarga. Apalagi sampai sekarang ia masih tinggal di kontrakan di daerah Dadok, Tunggulhitam.

“Sebulan itu saya harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 500 ribu, untuk sewa rumah, listrik, makan, hingga BPJS. Saya, istri, dan semua anak saya pakai BPJS,” sebutnya seraya mengatakan ia terdata sebagai keluarga kurang mampu dan mendapat jatah beras sejahtera (rastra) setiap bulannya. 

Pendapatan dari membersihkan makam yang tak jelas, harus dibaginya bersama dengan rekan sesama pembersih makam di pemakaman Tunggulhitam.

“Biasanya ahliwaris itu memberikan Rp10 ribu atau 20 ribu tiap satu makam. Itu kami bagi rata, kadang bisa bagi 10 orang. Karena semuanya ikut membersihkan makam,” jelasnya.

Selain membersihkan makam, Zul juga kadang diberi tugas untuk menyemen pinggir makam dan juga memasang keramik. Upahnya juga lumayan tetapi job seperti itu tidak setiap hari didapat. Beruntung  bagi Zul, karena beberapa ahli waris meminta Zul untuk rutin membersihkan makam keluarganya. Tiap bulan, ia mendapatkan upah Rp 50 ribu untuk satu makam. Namun tak banyak yang menugaskannya seperti itu, rata-rata makam dibersihkan setahun sekali ketika mau masuk bulan puasa.

Meski tidak berkecukupan, Zul tetap menjadi seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Dia tidak mewajibkan istri untuk bekerja. “Istri tanggung jawab saya, jadi saya tidak memaksa dia untuk bekerja,” sebutnya.

Zul mengaku bersyukur dengan kehidupan yang dijalani saat ini.  Baginya rezeki sudah diatur tuhan, dan sekarang bagaimana caranya ia tetap berusaha mencari uang dengan pekerjaan yang halal. “Dengan pekerjaan ini saya sudah beribadah. Saya ikhlas dan bersyukur,” ujarnya.

Rekan sesama kerjanya, Misna, 42, yang  memiliki kedai kecil di trotoar depan pemakaman Tunggulhitam menuturkan, kehidupan Zul lebih susah darinya. Kadang, apabila tiak dapat uang dalam satu hari, Zul mengutang  makanan kepadanya dan dibawa pulang untuk keluarga.

“Saya sedih melihatnya. Jadi saya menolong sebisanya saja,” ucap wanita berambut pendek itu. 

Banyak kehidupan warga miskin lainnya yang miris. Namun banyak juga dari mereka yang berjuang dan bekerja untuk mendapatkan rezeki halal. Meski sering dianggap rendah oleh orang, namun itulah mereka yang berada di bawah. Bekerja untuk keberlangsungan hidup dan tidak kelaparan. (*)

© 2014 Padek.co