Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Kehidupan Sofyan, Pematung yang telah Berkarya sejak1980-an


Wartawan : Oktaria Tirta - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 30 April 2017 11:15 WIB    Dibaca : 57 kali

 

Karya Seni untuk Hidup, Pernah Ditipu dan Rugi Puluhan Juta

Tidak banyak orang yang mengetahui seni keterampilan mematung, terutama di Sumbar. Namun Sofyan Harimunir, 60, warga Jalan Muara Labu, Kecamatan
Kototangah terus menduniakan seni mematung hingga menjadi bisnis menjanjikan. Dari keahlian menjadi karya seni, kini patung buatannya tidak saja beredar di Sumbar namun sudah menembus level Nasional.

”Karya seni untuk hidup. Setiap karya seni yang diciptakan memberikan semangat untuk hidup seseorang. Biasanya seseorang ingin menyampaikan aspirasinya melalui karya dan saya menyampaikannya melalui patung,” sebut Sofyan saat ditemui Padang Ekspress beberapa waktu lalu.

Pria paruh baya yang akrab disapa Sofyan itu sudah menggeluti seni patung ini sejak tahun 1980. Saat ini dia terus mengeksistensikan seni mematung. Berbagai macam patung sudah pernah dibuat dengan kedua tangannya.

Karya-karya yang dilahirkan Syofyan bisa dilihat tempat usahanya di “Selaras Serba Seni” berlokasi di Jalan Adinegoro, Muaro Penjalinan, Kototangah. Meski tempat usaha miliknya sangat sederhana, namun di lokasi itu sudah banyak patung ciptaannya diborong pembeli.

“Rezeki harimau”. Begitu ungkapan darinya. Meski tidak terjual setiap hari, namun ketika terjual uang yang diperoleh tidaklah sedikit, sanggup memenuhi kebutuhan dan membeli barang mewah.

Saat Padang Ekspres berkunjung ke tempat usahanya itu, jelas menggambarkan sejuta cerita perjuangan Syofyan menjadi seorang pematung andal. Isi ruangan terlihat bersih. 

Sejumlah cat dan semen tertata rapi di sebuah sudut. Berbagai macam patung batu hasil ciptaannya terlihat berjejer. Ada patung Pangeran Diponegoro, prasasti, patung bangau, patung Bundo Kanduang, patung karakter binatang berupa tupai, kelinci dan masih banyak lainnya. 

Syofyan menjelaskan, peminat patung biasanya langsung datang ke toko miliknya tersebut, bahkan ada yang memesan via handphone. Pria dua anak ini menyebut, pembuatan patung bisa memakan waktu 10 hari untuk satu patung. Itu adalah waktu paling cepat baginya. Bahkan ada juga patung yang dibuat menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan.

Misalnya, pembuatan patung Bundo Kanduang, ukurannya setinggi orang dewasa. Dalam pembuatan patung itu bisa menghabiskan 3 sak semen dan satu keleng cat warna isi 2,5 liter.

Untuk membuat patung bukanlah perkara mudah. Syofyan terkadang harus memutar otak untuk menciptakan sebuah patung yang dinilainya sulit. Seperti patung Pangeran Diponegoro, patung orang sedang basaluang, dan patung orang sedang bermain biola.

”Kadang sudah hampir selesai harus dirombak lagi karena tidak sesuai selera si pemesannya,” ujarnya.

Pemesan yang datang kepadanya dari beragam kalangan dan perusahaan. Seperti hotel-hotel yang memesan 8 patung sekaligus bahkan ukurannya tiga kali orang dewasa.

“Untuk pemesan dengan ukuran besar dan jumlah banyak itu uang yang saya dapat mencapai Rp 200 juta. Kami juga langsung mengantar ke alamatnya,” ujarnya.

Sementara sekolah-sekolah juga ia lirik, karena banyak sekolah membutuhkan tampilan baru, misalnya pembenahan taman dengan konsep kolam ikan. 
Di taman sekolah itu bisanya akan dibangun patung bangau dan air mancur. Tujuannya sederhana, agar banyak murid yang mendaftar ke sekolah tersebut.

“Saat pembuatan kami berjuang membuat patung dan tatanan taman sebaik mungkin sehingga berdampak positif terhadap sekolah itu,” sebutnya.

Katanya, harga patung paling mahal adalah patung perunggu, pembuatannya sangat ribet, modal yang dikeluarkan untuk membuat patung itu juga mahal. Patung juga bisa ditawarkan hingga miliaran rupiah.

Perjuangan Syofyan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Agar karya patungnya bisa dikenal banyak orang, berbagai pagelaran seni patung terus diikuti.

Ia juga pernah ikut andil dalam pagelaran pesta budaya, pameran patung keliling Sumatera, pameran di Taman Budaya, dan terakhir ikut pameran di Solo tahun 2016.

Berkat pejuangannya itu, pesanan patung miliknya sudah menyebar di beberapa daerah. Seperti, patung Bung Hatta Bukittinggi, PLTA Maninjau, PLTA Singkarak, patung Pangeran Diponegoro berlokasi di Muaro Bungo, patung sapi di TMII Jakarta,” ungkapnya.

Sofyan menceritakan berbagai rintangan yang pernah dihadapi saat merintis usaha patung. Salah satunya pembeli yang iseng. Memesan bermacam patung, namun patung tidak ditebus. 

“Ada pemesan patung melalui handphone. Orang itu memesan patung peraga berupa patung kancil, padahal awalnya dibilang sudah deal dan harga telah ditentukan sesuai kesepakatan. Setelah patung selesai orangnya tidak datang padahal patung sudah selesai. Ujung-ujungnya kita yang rugi puluhan juta,” kenangya.

Selain itu, ia juga pernah putus asa dalam mengembangkan usaha patungnya, karena tidak ada pesanan lebih dari tiga bulan. Bahkan rintangan terparah yang pernah dihadapi adalah, banyak yang mengolok kalau usaha patung tidak menjanjikan dan uang yang dihasilkan juga tidak jelas. 

Meski begitu, ia tetap ikhlas, karena merintis setiap usaha pasti ditemukan rintangan. Baginya rezeki sudah diatur sang pencipta untuk itu, setiap menjalankan usaha harus dibarengi dengan doa. Selain itu, ketika kondisinya usahanya terpuruk keluarga terutama istrinya terus memberikan semangat dan dukungan. 

Kini di usianya yang senja, Sofyan terus bersemangat, banyak orang terutama pelajar dan mahasiswa seni yang diajarkannya supaya mengerti cara mematung.

Karena dalam mematung bukan rupiah saja yang diincar, namun bagaimana karya seni yang dihasilkan sangat bagus dan bisa memuaskan hat terutama bagi orang lain. Baginya itu adalah harga yang tidak bisa dibayar.

Harapannya saat ini adalah, pematung-pematung hebat bisa lahir dari didikannya sehingga namanya kelak bisa dikenang sebagai salah seorang pekerja seni dari Sumatera Barat. (*)

© 2014 Padek.co