Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Pencurian Umur Atlet


Wartawan : Hendri Parjiga - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 23 April 2017 12:02 WIB    Dibaca : 35 kali

 

Kasus pencurian umur atlet merupakan penyakit kronis dalam pembinaan setiap cabang olahraga. Anehnya, kendati telah diberi sanksi, kasus ini terus saja terjadi pada iven berikutnya. 

Di cabang bulutangkis nasional, misalnya. Pada tahun 2015 terungkap dua atlet terbukti mencuri umur, namun di tahun berikutnya kasus sama terjadi lagi.
Jumlahnya bukan bekurang, malah meningkat menjadi empat atlet. 

Padahal, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selaku pemilik otoritas bulutangkis nasional sudah menjatuhkan sanksi tegas kepada atlet bersangkutan dengan larangan tidak boleh ikut iven nasional dua tahun berturut turut.

Setali dua uang dengan bulutangkis, di sepakbola juga terjadi hal yang sama. Bahkan, Menpora Imam Nahrawi sempat “marabo” dan mengancam akan memberikan sanksi tegas kepada pelanggar. Ketika akan menggulir turnamen sepakbola usia muda Menpora Cup 2016, Imam Nahrawi menggandeng polisi untuk mengusut tuntas bila ditemukan kecurangan pencurian umur. 

Celakanya,  kasus pencurian umur ternyata meruyak mulai dari daerah. Insan sepakbola Sumbar mungkin tak kan pernah lupa dengan kasus pencurian umur yang dilakukan Sekolah Sepak Bola (SSB) Padangalai, Padangpariaman di Festival Danone 2015 silam. Mewakili Sumbar di tingkat Nasional, SSB Padangalai harus pulang sebelum berlaga. Mereka didiskualifikasi karena beberapa pemainnya terbukti melakukan pencurian umur. 

Hukuman tidak hanya diberikan kepada SSB Padangalai, tapi segenap insan sepakbola ranah Minang kena getahnya. Hak Sumbar sebagai penyelenggara Danone tahun berikutnya dicabut. Untuk bisa merebut tiket ke nasional, SSB Sumbar mesti berlaga terlebih dulu pada tingkat regional di Palembang, Sumatera Selatan.  Mereka mesti bersaing dengan utusan Riau, Kepulauan Riau, Sumsel dan beberapa daerah lainnya di Sumatera.

Padahal sebelum sanksi, SSB terbaik Sumbar langsung melenggang ke kancah nasional secara otomatis. Sanksi tersebut ternyata tidak membuat mereka jera. Kasus pencurian umur kembali terjadi di iven yang sama di tahun berikutnya. Dan pelakunya juga dari SSB Padangalai, serta beberapa SSB lainnya.

“Kami tidak akan menolerir lagi kasus pencurian umur. Sudah cukup kita dipermalukan di tingkat nasional tahun lalu (2015). Kasihan SSB lain yang melakukan pembinaan dengan jujur dan benar,” tegas penanggung jawab Danone Zona Sumbar 2016, Yulius Dede, ketika itu. 

***

Kasus pencurian umur selain mencoreng sportivitas yang mengandung nilai kejujuran di dalamnya, aksi tersebut jelas mengganggu program pembinaan atlet. Terganggunya program pembinaan karena pemalsuan umur sangat berpengaruh pada program latihan yang diberikan. Bila usia atlet tidak teridentifikasi dengan benar maka program latihan yang diberikan juga tidak benar. 

Demi kepentingan atlet, harus ada langkah tegas dari pihak terkait. Ketegasan itu untuk melindungi atlet yang jujur akan usianya sekaligus menindak berbagai perilaku tak terpuji yang mencederai nilai kejujuran dan keadilan.

Berapa langkah preventif perlu dilakukan seperti mengoptimalkan penerapan sistem informasi dengan memperketat tahap verifikasi data kelahiran. Misalnya seorang atlet wajib menyerahkan tiga data primer yakni akta kelahiran, kartu keluarga dan ijazah. Bila diperlukan meminta data-data sekunder seperti NISN, surat kenal lahir, dan dokumen terkait lainnya. Serta, tidak ada salahnya memeriksa biologis pemain seperti pemeriksaan gigi,  misalnya.

Namun terlepas dari itu,  yang terpenting semua berpulang kepada kejujuran orang tua, pelatih, manajer dan pihak terkait lainnya. Keluarga tidak hanya menjadi sasaran mendapatkan pemain, juga ruang penanaman nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme. Mestinya dari ruang lingkup terkecil ini praktik-praktik positif dimulai. Jangan sampai nafsu orang tua membesarkan anaknya justru kontraproduktif dan malah membunuh karirnya. (*)

 

© 2014 Padek.co