Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Elliza, si Pemandi Jenazah di Kota Padang


Wartawan : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 23 April 2017 11:30 WIB    Dibaca : 106 kali

 

Ikhlas Bersihkan Jasad Hancur, Korban Pembunuhan dan Kebakaran

Mengabdikan diri sebagai pemandi jenazah, bukanlah hal mudah. Namun tidak bagi Eliza, 48, warga Jalan Andalas Timur. Baginya memandikan jenazah adalah ibadah. Profesi tersebut sudah digelutinya selama 28 tahun.

Tidak semua orang berani bersentuhan langsung dengan jenazah apalagi sampai memandikannya. Namun jika hal itu merupakan panggilan hati dan bisa membantu orang lain, rasa takut akan pudar dan berubah menjadi rasa ikhlas serta tanggung jawab. Hal itulah yang dirasakan Eliza, saat ini. Tidak pernah ada keraguan di hatinya untuk memandikan jenazah. 

“Saya bekerja ikhlas, fardu kifayah,” ucapnya saat ditemui Padang Ekspres, Rabu (12/4), di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumbar. Kini, sudah 28 tahun sudah ia menjadi pemandi jenazah dan pemandu, mengajarkan banyak orang agar bisa memandikan jenazah sesuai tuntunan agama. Wanita yang akrab disapa Eli ini merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sumatera Barat.

Meski sibuk dengan profesi kepegawaiannya, namun Eli tidak pernah menolak jika dipanggil masyarakat untuk memandikan jenazah. Berbadan kecil tetapi bernyali besar itulah Eli. Tidak ada yang istimewa darinya, namun kepeduliannya terhadap banyak orang patut dipuji dan ditiru. Itulah kenapa banyak orang menganggapnya sangat istimewa. Apalagi ia dikenal orang sebagai wanita ramah nan murah senyum.

Tidak hanya jenazah yang meninggal karena sakit biasa yang pernah dimandikan Eli. Jenazah korban kecelakaan dengan kondisi tubuh hancur pun juga pernah ia mandikan. Selain itu jenazah korban kebakaran, pembunuhan, tenggelam, bayi yang meninggal dalam kandungan dan beberapa faktor lainnya.Tidak ada rasa jijik dan takut, semua diniatkan Eli karena ibadah, membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan. 

Keinginan dan kepedulian Eli untuk memandikan jenazah bermula ketika ia duduk di bangku kelas III SD. Saat itu ia mendengar pengumuman orang meninggal di masjid. Mendengar informasi itu ia langsung bergegas ke rumah duka. Rasa ingin tahunya semakin besar saat melihat jenazah tetangganya meninggal. Dari proses menyiapkan kain kafan, memandikan, mengafani hingga mengantarkan ke liang lahat ia perhatikan dan diikutinya.

“Saya tidak takut saat itu. Namun saat malam hari rasa takut itu baru muncul. Ke kamar mandi saja saat itu minta ditemani orangtua,” kenangnya sambil tertawa.

Meski begitu, rasa ingin tahunya semakin memuncak, hingga ia meniatkan hati untuk bisa menguasai prosesi penyelenggaraan jenazah. Tidak hanya melihat, saat mendengarkan materi tentang penyelenggaraan jenazah ketika masih berada di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di salah satu masjid tempatnya mengaji, Eli mendengarkan dengan serius dan tekun.

Berawal dari melihat, ia mulai  memberanikan diri ikut memandikan jenazah bersama rombongan ibu-ibu. “Ketika itu saya baru ikut membersihkan bagian kaki saja, lalu pelan-pelan ikut memandikan bersama keluarga almarhum. Barulah saat umur 20 tahun, saya menjadi pemandu memandikan jenazah sekaligus ikut memandikan,” jelasnya.

Alumni Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang ini, mengatakan sudah mulai menekuni pekerjaan  tersebut sejak tahun 1990 hingga sekarang.

“Memandikan jenazah Itu kan ibadah, fardu kifayah,” tuturnya. 

Untuk masalah bau yang tak sedap, ia tidak menghiraukan karena memandikan jenazah adalah tanggungjawab yang besar karena ketika dimakamkan jenazah itu harus suci. Ia menceritakan, 15 hari pasca-gempa pada tahun 2009, Eli terus mendapatkan panggilan untuk memandikan jenazah baik itu di rumah sakit ataupun di rumah duka. Dari pukul 08.00 hingga pukul 18.00, tak terhitung berapa jenazah yang ia mandikan saat itu. 

“Kadang ada empat jenazah dalam satu hari saya dimandikan usai kejadian gempa itu,” ujarnya.

Selain itu, Eli juga pernah memandikan jenazah korban kecelakaan yang tubuhnya sudah hancur. Cara memandikan jenazah itu berbeda. Tidak perlu diikat lima, seperti mengafani jenazah pada umumnya. Ia mempraktikkan bagaimana cara memandikan jenazah dengan tubuh yang sudah hancur dengan media koran. Pertama, potongan tubuh di letakkan diatas kain kafan, kain kafan itu dilipat, setelah itu diperas agar kering. 

“Nah, tubuh yang kering itu akan menyatu, jadi saat dipidahkan ke kain kafan yang baru, saya satukan lagi dengan tubuh yang lainnya,” sebut wanita asal Pariaman itu.

Banyak pelajaran yang didapatnya dalam memandikan jenazah. Kemudian itu sampaikan saat berceramah di Masjid dan ketika menjadi pemateri atau narasumber dalam seminar penyelenggaraan jenazah.

“Saya pernah memandikan jenazah seorang wanita berusia 80 tahun ke atas. Saat meninggal wajahnya bersih dan bersinar, keluar bau wangi dari tubuhnya. Wanita itu seorang yang taat beribadah, bertutur kata dan berhati baik. Bukan itu saja, saya juga pernah memandikan jenazah seorang lintah darat (rentenir, red). Saat meninggal perutnya biasa saja, namun semakin lama, perut jenazah tersebut semakin mengembung seperti orang hamil,” sebut Eli.

Ia mengatakan perbuatan yang dilakukan di dunia, dapat diperlihatkan saat meninggal. Untuk itu, ketika berceramah ia selalu menekankan kepada pendengar agar berbuat baik saat hidup di dunia, jangan pernah meninggalkan yang wajib. Meminta minta maaf apabila kita memiliki kesalahan, kemudian jangan menjadi orang pendendam, bergunjing karena akan berdampak buruk terhadap diri sendiri.

Bekerja sebagai pemandu dan memandikan jenazah, tidak pernah dilarang oleh suami dan ketiga anaknya. Bahkan Eli sering membawa anaknya saat tengah memandikan jenazah. Si bungsu yang baru duduk di bangku kelas 6 SD juga suka membantu mempersiapkan kain kafan ketika hendak memandikan jenazah.. 

“Mengajak anak-anak biar mereka mengerti bagaimana cara penyelenggaraan jenazah. Karena nantinya saat saya sudah meninggal, mereka yang akan memandikan dan mengafani saya,” tuturnya. 

Dimata para sahabat, Eli terkenal dengan pribadi yang baik dan ramah. Pekerjaannya sebagai pemandi jenazah sudah diketahui semua orang. 

“Bukan hanya memandikan jenazah di Padang saja, namun sudah pernah ke daerah-daerah lainnya. Ini adalah pekerjaan yang mulia,” tutur Gusnidar, salah seorang rekan kerja Eli. 

“Selain memandikan jenazah, buk Eli juga memberikan nasehat dan materi kepada keluarga yang di tinggalkan. Itu dapat diterapkan nantinya saat ada keluarga yang lain meninggal. Setiap anggota keluarga yang meninggal, sebaiknya di mandikan oleh keluarga terdekat,” tambahnya.

Eli sudah juga sudah mempunyai kader penyelenggaraan jenazah. Termasuk kader laki-laki. Namun untuk kader wanita sangat jarang sekali yang berminat. Beruntung ada beberapa yang mau belajar darinya.

Meski sedikit kaum wanita yang berminat belajar, Eli berharap agar kader-kader yang dibina dapat mengajarkan ilmu tersebut kepada banyak orang. Dengan begitu, orang yang bisa melakukan penyelenggaraan jenazah semakin banyak dan bermanfaat untuk kerabat dan mayarakat luas. (*)

© 2014 Padek.co