Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Bundo Kanduang, antara Mitos dan Sejarah


Wartawan : Siti Fatimah - Ketua Pusat Studi Gender, Perubahan Sosial dan Multikultural FIS UNP - Editor : Riyon - 21 April 2017 11:46 WIB    Dibaca : 65 kali

 

Dalam perspektif sejarah, mitos menjadi penting kehadirannya, karena ia merupakan abstraksi dari realitas dalam komunitas masyarakat tertentu secara ideologis dan filosofis. Ia sarat dengan pesan-pesan, misalnya Kaba Sabai Nan Alui, Cindua Mato, Bundo Kanduang, Asal Usul Alam Minangkabau dan cerita-cerita lainnya tentang Minangkabau. 

Di samping itu, mitos pun erat kaitannya dengan tradisi lisan. Cerita yang disampaikan secara turun temurun, di mana penutur tidak tertutup kemungkinan menambah dan mengurangi isi ceritanya tanpa bergeser dari ide yang ada di dalamnya. 

Sejalan dengan kerangka analisis yang dikemukakan oleh Roland Barthes, mitos adalah satu jenis tuturan. Ia merupakan pesan atau penanda ketimbang fakta sosial yang sebenarnya, sebagai sistem semiologi dari sistem nilai daripada sistem fakta. Oleh karena itu, Barthes (1972) berpendapat bahwa pendekatan yang dinamis untuk membaca mitos ialah dengan baralih dari pemahaman semiologi ke pemahaman ideologi  dengan cara menghubungkan mitos dengan sejarah yang menjelaskan bagaimana mitos mewakili kepentingan sebuah masyarakat.

Bila diterjemahkan kata bundo kanduang, maka dapat dimaknai antara lain: bundo berarti ibu, sedangkan kanduang berarti kandung atau sejati. Dalam lagenda dan tambo Minangkabau, bundo kanduang dilambangkan sebagai seorang perempuan yang terhormat (previllage). Hal tersebut tercermin dalam pepatah adat berikut:

-Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang (ibu yang berfungsi sebagai penyanggah dari extended family)
-Umbui parui pegangan kunci (pemegang kunci harta kekayaan) 
-Umbun parui alun bunian (sumber segala titah)
-Pusek kumpulan tali (kumpulan segala sistem)
-Sumarak dalam kampuang (membuat desa menjadi meriah)
-Hiasan dalam nagari (penghias negeri)
-Nan gadang basa batuah (pembesar yang sakti)
-Kok hiduik tampek banasa (kehidupannya sumber segala keinginan)
-Kok mati tampek baniaik (kematiannya menjadi sumber segala niat)
-Ka undang-undang ka Madinah (menjadi perlindungan ke Madinah)
-Ka payuang panji ka sarugo (menjadi payung besar menuju surga). Idrus Hakimi (1997)

Dari bait-bait di atas dapat disimpulkan bahwa kedudukan perempuan Minangkabau secara ideologis maupun filosofis, tidak hanya terfokus pada peran-peran domestik, melainkan memberi peluang besar pada peran-peran publik, khususnya di bidang sosial, ekonomi dan politik. Dalam perjalanan sejarah, ternyata semakin menonjolnya peran-peran domestik dan semakin termarginalnya peran-peran publik. 

Padahal, ide yang tertuang dalam adat masyarakat matrilineal Minangkabau memberikan peluang kapada kaum perempuan jauh lebih luas pada ranah publik ketimbang dalam wilayah domestik.

Dalam konteks ini, bundo kanduang ditampilkan sebagai sosok seorang pemimpin yang arif dan bijak, terutama dalam menentukan jalannya roda pemerintahan. Sebagai perempuan, dia tidak hanya sebagai pelengkap atau hanya parami dalam sebuah pertemuan, tetapi memiliki tempat yang sejajar dengan elite lainnya dalam mengambil kebijakan dan keputusan.

Kutipan dari sebagian isi tambo berikut, memperlihatkan bagaimana peran yang dimainkan bundo kanduang ketika mengambil putusan dalam kerajaan Pagaruyung.     

“Pertemuan yang dipimpin oleh Rajo Alam telah berlangsung sejak jam sembilan pagi, bundo kanduang, Dan Tuangku Romandung, Anggota Basa Ampek Balai dan Tuan Kadhi hadir dalam pertemuan itu. Bundo kanduang memperlihatkan kegusarannya terhadap tingkah laku Tanjung Sungainyiang yang jelas-jelas dapat merusak keseimbangan alam dengan isinya. Dengan bahasa dan suara jernih, gejolak bathin yang terkendali, bundo kanduang menguaraikan perilaku busuk dari pimpinan Tanjung Sungainyiang yang bertujuan akhir merusak dan memporakporandakan rakyat. Di akhir pertemuan, bundo kanduang mengusulkan untuk menindak balas kelompok yang telah merusak citra Pagaruyung.” Agurtar Idris (1985).

Dari kuitipaan di atas dilambangkan bahwa bundo kanduang adalah seorang perempuan yang memiliki watak yang cerdas, bijaksana dan keras. Perempuan tidak hanya dipresentasikan sebagai pajangan dan pelengkap, melainkan memiliki akses dalam mengambil kebijakan dan keputusan. Cerita lain yang menggambarkan bundo kanduang seorang perempuan yang bijaksana dan memainkan perannya di sektor publik, dapat dicermati dalam lagenda Sabai nan Alui. Seorang perempuan yang gagah dan berani, yang mampu menggantikan posisi saudara laki-lakinya menentang musuh ayahnya, ketika saudara laki-lakinya tetap sibuk bermain layang-layang. Taufik Abdullah (1974).

Dari uraian tentang bundo kanduang antara mitos dan sejarah, dapat ditarik dua kategori penting. Pertama, bundo kanduang sebagai personality, artinya, bagaimana representasi  perempuan Minangkabau sebagai individu. Hal ini dapat terlihat dalam perjalanan sejarah. Untuk melihat gambaran tentang  perempuan Minangkabau dalam kategori ini, maka steriotip ini bisa ditunjukkan dari sosok Rahmah El Yunusiya dan Rohana Kudus ketika masa pergerakan. Dalam konteks ini, deStuers mencoba membandingkan antara Rahmah El Yunusiyah dengan sosok Kartini dari Jawa. 

Di pihak lain, dengan akses yang dimiliki perempuan di bidang ekonomi, Rahmah mampu membangun sebuah sekolah (yayasan) di atas tanahnya sendiri yang diperoleh dari warisan ibunya (mother personal property), setelah terjadi gempa bumi di Padangpanjang tahun 1926. 

Di samping itu, menurut Joanne Prindiville dan Prof Peggi R Sandy (1984) setelah berulang kali datang ke Indonesia, mereka melihat perbedaan sangat signifikan antara perempuan Minang dengan perempuan lain pada setiap pertemuan yang dihadirinya. 

Kategori kedua, bundo kanduang sebagai institusi yang sejajar dengan kedudukan institusi lainnya, mempunyai kekuatan dan akses sama dalam struktur pemerintahan nagari (desa) di Minangkabau. 

Hanya saja, dalam perjalanan sejarahnya, bundo kanduang sebagai sebuah lembaga seringkali diperalat rezim atau penguasa sebagai perpanjangan tangan kekuasaannya. Hal ini terlihat sejak zaman kolonial sampai masa Orde Baru. (*)

 

© 2014 Padek.co