Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Realisasi Penerimaan Baru 11,53 Persen


Wartawan : JPNN - Editor : Riyon - 21 April 2017 11:40 WIB    Dibaca : 82 kali

 

Mendesak, Ekstensifikasi Objek Cukai

Penerimaan bea dan cukai hingga 14 April baru Rp 22,05 triliun. Artinya, baru tercapai 11,53 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2017 sebesar Rp 191,233 triliun.

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mengakui, realisasi penerimaan bea dan cukai pada awal tahun memang masih seret. Namun, pada pertengahan tahun, penerimaan negara akan lebih baik.

”Kita memang tidak menggunakan persen, tapi pola. Bulan satu dan bulan kedua akan lebih rendah, bulan ketiga akan recovery. Bulan keempat biasanya sudah normal dan terus meningkat hingga akhir tahun,” papar Heru di Jakarta kemarin (20/4).

Masih rendahnya penerimaan bea dan cukai pada awal tahun disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya, pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 20 Tahun 2015 tentang kewajiban pelunasan pita cukai di tahun berjalan. 

Dengan demikian, pita cukai untuk rokok yang diproduksi pada akhir tahun tapi baru diedarkan pada awal tahun wajib dibayarkan pada akhir tahun. ”Pemberlakuan PMK 20 ini memerintahkan semua pembayaran fiskal tahun lalu harus lunas tahun lalu,” urainya. 

Selain itu, lanjut Heru, penurunan penerimaan bea cukai juga dipengaruhi nilai kurs rupiah yang rendah tahun ini. ”Kurs rupiah menurun 1,5 persen dibanding tahun lalu,” katanya.

Realisasi penerimaan yang seret tersebut menjadi perhatian Komisi XI DPR. Mereka meminta Heru melakukan kajian objek cukai baru dalam waktu dua bulan. ”Itu masukan yang bagus dan kami akan konsentrasi untuk itu,” imbuhnya. 

Menurut pengamat perpajakan Yustinus Prastowo, pola penerimaan bea cukai dari tahun ke tahun memang cenderung sama. Khususnya pola penerimaan cukai yang pada awal tahun memang rendah. ”Karena perusahaan menebus pita cukai di bulan Desember,” paparnya.

Pola tersebut membuat kenaikan penerimaan biasanya terjadi pada pertengahan tahun hingga akhir tahun. Meski demikian, Prastowo menilai pemerintah harus melakukan upaya ekstensifikasi cukai sehingga tidak hanya mengandalkan cukai hasil tembakau. 

”Supaya dua tujuan terpenuhi. Pengendalian dampak buruk tem bakau dan ada tambahan penerimaan,” paparnya. (*)

© 2014 Padek.co