Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Perempuan Indonesia, The Agent of Change


Wartawan : Ike Revita - Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FIB-UA - Editor : Riyon - 21 April 2017 11:35 WIB    Dibaca : 90 kali

 

Perempuan Indonesia yang terkategori masih di bawah umur menjadi korban perdagangan manusia (Padang Ekspres, 19 April 2017). Disebutkan, lima anak-anak diperdagangkan dan kemudian dieksploitasi untuk sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Bisnis illegal terbesar ketiga di dunia setelah obat-obatan dan senjata (Olujuwon, 2008) ini memiliki keuntungan yang tidak sedikit. Diperkirakan dana yang diputar untuk aktivitas perdagangan perempuan ini mencapai hampir 32 miliar USD (Wheaton, Schauer, dan Galdi, 2009).

Menggiurkan memang, tetapi sangat mematikan. Dikatakan demikian karena bisnis perdagangan perempuan atau yang juga disebut dengan women trafficking ini secara tidak langsung merupakan upaya untuk membunuh umat secara perlahan. Kenapa demikian? Jawabnya adalah karena ini bertemali dengan perempuan. 

Arti dan Filosofi Perempuan

Secara semantik, perempuan diartikan sebagai orang yang memiliki puki, dapat menstruasi, melahirkan, dan menyusui anak (KBBI, 1998). Perempuan juga bersinonim  dengan kata wanita. Meskipun berbeda dalam sense, penggunaan kata perempuan dan wanita dapat saling menggantikan dalam konteks tertentu.
Ada dua poin yang bisa di-high light dari definisi perempuan di atas.

Pertama adalah melahirkan. Sebagai makhluk ciptaan Allah, perempuanlah satu-satunya yang dapat melahirkan. Dengan diberikannya rahim, seorang perempuan memiliki media untuk membawa (calon) anaknya ke mana-mana selama lebih kurang 9 bulan. Di dalam rahimnyalah si anak dijaga. Melalui makanan yang baik dan halal, perilaku yang terjaga, perbuatan yang positif maka si calon anak ini berkembang dan tumbuh semakin besar.

Kedua, adalah menyusui. Menyusui artinya memberikan air susu kepada bayi atau anak lewat payudara ibu. Air susu ibu (ASI) dinyatakan sebagai gizi terbaik yang harus diberikan kepada bayi (Picciano, 2001). Lamanya pemberian ASI bagi sebagian ahli masih dalam pedebatan. Namun dalam Al Quran jelas dinyatakan bahwa anak berhak untuk diberi ASI sampai berusia 2 tahun (24 bulan).

Melahirkan dan menyusui memang hanya bisa dilakukan kaum perempuan. Itu pulah kenapa kedua hal terbut  menjadi kodrat kaum ini. Tidak bisa diingkari bahwa Allah sudah menjadikan sedemikian rupa kelebihan pada perempuan sehingga mereka memiliki kemampuan yang luar biasa ini.

Realitas ini menunjukkan betapa sesungguhnya perempuan ini adalah ciptaan yang tidak bisa dianggap enteng. Melalui merekalah lahir generasi-generasi yang akan datang. Lewat rahim dan upaya mereka memberi gizi terbaik melalui ASI masa depan dibentuk. 

Kalau sudah demikian adanya, apakah perempuan ini perlu dijaga? Ataukah mereka bisa diperlakukan seenaknya saja. Diperjualbelikan seperti halnya barang. Dieksploitasi sesuka hati. Dipakai ketika ingin dan dicampakkan ketika sudah tidak diperlukan lagi. 

Ini adalah sebuah realitas yang ada dalam kehidupan sekarang ini. Banyak perempuan yang diberikan janji manis  tetapi kemudian dibohongi. Tidak saja dibohongi tetapi masa depan mereka juga dihancurkan. Fenomena inilah yang terjadi dalam praktik women trafficking.

Perempuan dan Women Trafficking 

Women Trafficking merupakan suatu kegiatan yang dilakukan terhadap perempuan mulai dari perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang baik dengan ancaman, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, atau mungkin dengan bujuk rayu dengan wacana gaji besar, bekerja di tempat yang enak  (UNHCR, 2011).

Dalam aktivitas women trafficking ada tiga hal yang perlu dicatat, yakni perekrutan, pengiriman, dan penampungan. Ketiganya ini secara sistematis dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam sindikat trafficking, sehingga perempuan banyak yang menjadi korban. Sindikat ini melibatkan calo (pencari calon korban), penampung, dan pengguna.

Perempuan-perempuan ini dirayu sedemikian rupa sehingga mereka teryakini dan kemudian mengikuti kemauan pelaku trafficking sehingga akhirnya terjebak dalam lubang perdagangan manusia. Ketidakberdayaan kaum perempuan salah satunya menjadi  alat pemulus bagi sindikat untuk melakukan aksi mereka.

Selama ini yang paling sering dijadikan modus adalah bekerja di toko atau counter hand phone dengan gaji lumayan tinggi disertai bonus yang menggiurkan. Selain itu, dinikahi (baik scara kontrak atau pun siri), kesempatan magang di luar negeri, dihutangi adalah bentuk ‘akal bulus’ lainnya yang dilakukan untuk menjebak. Bervariasinya modus yang digunakan membuat calon korban yang dinilai potensial semakin banyak berjatuhan.

Berdasarkan survei dan  data statistik International Organization  for Migration (IMO) dengan pemerintah Indonesia dan LSM, didapat fakta bahwa pada tahun 2011, diperkirakan terdapat 6,5 juta–9 juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di seluruh dunia dan 69 % di antaranya adalah perempuan. Ditemukan 43-50% dari jumlah TKI ini diindikasi hasil dari korban perbudakan manusia. Dari 3.840 korban, 90 % adalah perempuan.  

Persentase yang sangat signifikan mengindikasikan bahwa angka perdagangan perempuan Indonesia sungguh fantastik. Perempuan Indonesia barangkali sudah berada dalam posisi seperti telur di ujung tanduk. Sudah terjadi krisis sosial dalam ranah keperempuanan (Heriani, Padang Ekspres, 2015). 

Di Sumatera Barat, meskipun secara statisitik belum tercatat,  sesungguhnya perdagangan perempuan ini terjadi. Beberapa kali di media masa diinformasikan terjadinya eksploitasi terhadap kaum hawa ini. Dalam sebuah riset yang saya lakukan di sebuah daerah tingkat dua di Sumatera Barat, terkesan ada upaya menutupi realitas yang ada meskipun saya sudah menggambarkan bukti yang ada. Bahwa ada yang namanya eksploitasi terhadap perempuan di daerah ini.  
Perempuan sebagai The Agent of Change

Apapun kondisinya, tidak ada alasan untuk menutupi kenyataan ini. Kita sudah mulai harus terbuka dan membuka cara berpikir. Bahwa perempuan harus sudah menjadi prioritas, hendaknya tidak lagi sebuah wacana. Keberadaan mereka  sudah harus diperhatikan. Mereka bukan hanya sebagai pelengkap status sosial kaum lelaki, bukan hanya makhluk pengembang keturunan, atau tinggal di rumah memasak dan mengurus anak tetapi mereka harus dimanusiakan. Perlu ada eksekusi untuk memanusiakan kaum perempuan. 

Perempuan adalah agen perubahan. Dari rahim mereka akan lahir masa depan negara. Di tangan perempuanlah masa depan ini dibesarkan. Melalui perempuanlah ditentukan apakah negara akan tetap kuat, lebih baik, atau justru akan hancur. Sebuah negara hebat bukan karena pimpinan semata tetapi ada andil perempuan-perempuan di sekitarnya, yakni ibu yang melahirkan dan membesarkan serta istri yang mendampingi.

Revita (2016) menyatakan sesungguhnya perempuan itu adalah orang yang kuat secara fisik dan psikis. Di dalam satu pribadi mereka terkandung lima peran yang harus dijalankan secara simultanus, (1) istri, (2) ibu, (3) partner suami, (4) bagian dari kelompok sosial, dan (5) mencari nafkah (Revita, 2016). Mereka akan berupaya menyelaraskan kelima peran ini dalam konteks yang berbeda.

Betapa perempuan itu luar biasa. Oleh karena itu, jangan biarkan perempuan menjadi hancur. Hancurnya perempuan adalah kehancuran negara. Hancurnya perempuan adalah hancurnya masa depan. Jika ingin jauh dari kehancuran, lindungi kaum perempuan. Kita bisa jika mau dan punya niat. Selamat kepada perempuan Indonesia! (*)

 

© 2014 Padek.co