Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Evi Yandri Rajo Budiman, Pengusaha Mesti Lahirkan Pengusaha Baru


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 16 April 2017 12:07 WIB    Dibaca : 72 kali

 

Banyak upaya yang dapat ditempuh untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat. Salah satunya, dengan melahirkan pengusaha baru oleh para pengusaha yang telah ada. Sukses seseorang tidak terlepas dari kesuksesan orang lain.

“Mau sukses, harus berani bikin orang lain sukses terlebih dahulu,” kata Ketua I Asosiasi Pedagang P&D dan Kelontong Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman saat ditemui di kantor PD HANA (Food & Beverage Distributor), kemarin (15/4).

Menurutnya, banyak kalangan telah menyusun program kerja pendongkrak kesejahteraan rakyat. Bahkan, pemerintah di sejumlah daerah menjadikan sebagai bagian dari program kerja unggulan. Namun program tersebut belum terwujud karena proses yang dilakukan masih terbengkalai.

Kegiatan yang dilakukan (terkadang) belum sampai pada target yang diharapkan. “Karena itu, semua kalangan, termasuk pengusaha harus andil melahirkan pengusaha yang baru,” kata Evi Yandri.

Fenomena yang diamati selama ini, orang-orang yang memiliki jiwa enterpreuner masih banyak yang gamang untuk memulai usaha. Merasa belum percaya diri karena banyak faktor, seperti kemampuan dan modal. Seakan ada kecemasan sebelum mulai melangkah.

Memang, sejumlah kalangan telah menggelar kegiatan seremoni seperti melakukan pelatihan maupun seminar kewirausahaan. Hanya saja, masih banyak calon pelaku usaha belum berani mengambil sikap.

Bagi sejumlah kalangan yang telah memulai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), mereka sering pula terbentur fasilitas. Padahal pelatihan tanpa fasilitas membuat ilmu yang didapat tidak dapat diimplementasikan.

Untuk itu, diharapkan pemerintah mesti menyasar hingga ke hilir persoalan dalam membuka lapangan usaha baru. Tuntaskan hingga melengkapi kebutuhan sarana kerja.

Dicontohkan, pelatihan menjahit. Pemerintah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, mesti memikirkan fasilitas menjahit yang dimiliki. Begitu juga pelatihan membengkel, pengadaan perlengkapannya harus dibantu. Inilah dimaksudnya sebagai pembekalan dari hulu hingga hilir.

“Selain pelatihan ilmu teknis, penting menyuguhkan pelatihan manajemen bagi calon pelaku usaha. Sebab kunci berwirausaha adalah manajemen. Kalau pelatihan hanya ilmu teknis, mengesampingkan ilmu manajemen, saya pikir target juga tidak akan tercapai. Nah, selain pemerintah, di sinilah peran pengusaha, harus mengajak calon enterpreuner baru untuk berani memulai usaha,” jelasnya.

Pengusaha baru, lanjutnya, akan dapat sama-sama belajar manajemen. Evi Yandri mencontohkan pada salah satu usaha swalayan yang dibuka. Ia mengajak alumni satu sekolah untuk terlibat dalam berwirausaha. Dengan begitu, seseorang yang biasanya hanya menghabiskan waktu di rumah, sekarang mampu menjadi seorang manajer.

Kondisi yang sama juga akan terjadi pada rekan-rekan yang memiliki kemampuan, namun terbentur modal, cemas memulai usaha. Dengan diajak bersama, otomatis akan mereka merasa mendapat dukungan hingga optimis terjun ke dunia usaha. Langkah paling efektif untuk mendongkrak semangat wirausaha ialah dengan membuat usaha bersama.

Pemilik modal namun belum memiliki keilmuan dapat belajar pada orang yang berilmu namun kekurangan modal. Sebaliknya, orang berilmu dapat belajar mencari modal untuk membuka usaha yang baru.

Otomatis semua yang terlibat dalam usaha bersama akan tumbuh secara bersama. “Perbedaan kemampuan dan perbedaan profesi akan menjadi kekuatan untuk mewujudkan usaha bersama,” jelasnya.

Selain usaha bersama, pemerintah mesti menggairahkan UMKM untuk menggerakkan perekonomian daerah. Kehadiran UMKM, selain meningkatkan kesejahteraan, mengurangi pengangguran, juga akan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Apabila kesejahteraan meningkat, otomatis pengeluaran pemerintah untuk mensubsidi keluarga miskin akan berkurang. Pengeluaran kurang, sementara pendapatan meningkat, dengan sendirinya pemerataan pembangunan dapat diwujudkan sehingga tidak terjadi ketimpangan pembangunan. 

Pemerintah akan dapat menyebar pembangunan dan tidak hanya membangun pada satu kecamatan lalu menggadang-gadangkannya. Pembangunan ke daerah pinggir, seperti kecamatannya, Kuranji dan daerah lain dapat bergerak.

Ia yakin keseriusan menggerakkan UMKM dapat dilakukan apabila ada keseriusan. “Agendanya sudah ada yang jalan, tapi sasarannya belum terukur. Tidak murni orang-orang yang betul-betul ingin berwirausaha,” ungkapnya.

Ia mengajak rekan-rekan pengusaha dapat bersinergi untuk melahirkan wirausahawan baru demi mengangkat kesejahteraan masyarakat. Selain di perusahaan profit, hingga ke lembaga sosial sekalipun, jiwa usaha harus ditanamkan pada masyarakat. Seperti yang sedang digagas Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN), membangun pusat kawasan wisata budaya dan kuliner Nagari Pauh IX. (*)

 

© 2014 Padek.co