Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Mengabdi Bersama FKAN Pauh IX


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 16 April 2017 12:05 WIB    Dibaca : 118 kali

 

Selain pengusaha, Evi Yandri Rajo Budiman juga aktif di lembaga sosial kemasyaakatan. Bahkan, dirinya telah dipercaya sebagai Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX sejak dua setengah tahun lalu.

Suami Hari Friyona ini memberi warna baru dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di nagari setempat. Harumnya nama FKAN Pauh IX seakan mempertegas kemampuan manajemen seorang Evi Yandri.

Terbukti, kemampuan memanage, tidak hanya di dalam usaha bisnis, melainkan juga manajemen masyarakat. Apalagi seluruh kegiatan yang digelar dalam berbagai bentuk dan skala, digerakkan atas dasar swadaya masyarakat.

Tanpa kepiawaian manajemen kepemimpinan, mustahil seseorang dapat menggerakkan masyarakat yang jumlahnya ribuan orang. “Berbuat terlebih dahulu sebelum mengajak yang lain, dan niatkan untuk kepentingan nagari, bukan mencari popularitas,” kata Evi Yandri.

Poin terpenting dalam bermasyarakat menurut ayah lima anak ini, tidak membedakan siapapun. Semua kalangan dirangkul hingga mereka memahami kegiatan pemberdayaan dan pembinaan tersebut sebagai tanggungjawab semua orang. Dengan sendirinya masyarakat terbawa, kekuatan terhimpun menjadi aksi bersama demi membangun nagari.

FKAN Pauh IX sendiri, akan memanfaatkan potensi anak nagari yang ada, baik di bidang olahraga, pendidikan, sosial hingga kebudayaan. Demi mendorong semangat seluruh lapisan, iven-iven digelar tidap tahun. Bulan depan, dalam rangka hari jadi FKAN, akan digelar setumpuk kegiatan. Salah satunya, turnamen sepak rago, budaya yang nyaris lenyap tergilas era modern.

“Kalau dibanding-bandingkan, antara kegiatan masyarakat dengan perusahaan, sekitar 70 persen untuk sosial, 30 persen untuk usaha. Karena kebetulan usaha ini sudah termanajemen dan tinggal menjalankan sistem yang ada. Begitu juga dengan usaha lain,” jelas pemilik Two Mart dan Toko Hana (Grosir P&D) tersebut.

Ceritanya, keinginan bermasyarakat tidak datang begitu saja. Ada kisah pilu yang dialami mantan ketua OSIS di SMP 10 Kuranji dan SMEA 1 Padang itu. Saat masih sekolah, orangtuanya dijemput yang maha kuasa. Ke ladang, dagang ke pasar sudah dilakoni untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Kala itu, jangankan untuk biaya pendidikan, untuk makan saja susah. 

Bersama sebelas saudaranya, mereka hanya makan dua kali sehari, porsinya pun sudah ditentukan. Kalau tidak diatur begitu, akan ada saudara yang tidak kebagian makanan.

“Kami 12 orang beradik kakak, saat orangtua meninggal, rumah dua kamar berlantai tanah yang ditinggalkan. Kalau mengingat itu, saya selalu begini,” ungkapnya dengan mata berlinang.

Karena sulitnya hidup, sampai-sampai ada yang berniat untuk mengambil saudaranya sebagai anak angkat. Namun, bersama tiga kakaknya, anak keempat ini memegang teguh amanat orangtua. Mereka tidak boleh berpisah apapun yang terjadi.

Evi seorang pekerja keras. Waktu 24 jam dirasa masih kurang. Tidak mudah baginya untuk berdiam diri, tidak bekerja untuk beberapa waktu saja. Jiwa pekerja ini pula yang merubah nasibnya. Sekembali dari pelatihan di Jepang, tahun 2000, ia kembali masuk pasar menjadi pekerja. Terus membuka usaha sendiri di 2004, hingga sukses mengembangkanmenjadi beberapa usaha baru. Karena jiwa pekerja keras, ketika usahanya telah mapan, Evi Yandri mengabdikan diri pada masyarakat.

Baginya, pengabdian saat ini, baik di FKAN, maupun di Forum Nagari Tigo Sandiang, semata-mata bentuk pengabdian anak nagari pada nagarinya. Tidak lebih.

Berdiri di garda terdepan untuk memperjuangkan hak tanah ribuan masyarakat, bahkan berorasi dengan mengomandoi 4 ribu masa, murni demi pengabdian. Tidak memiliki kepentingan, bahkan tidak memiliki tanah di lahan bersangketa.

“Kalau ada yang mengaitkan dengan politik, wallahu ‘alam, bagi saya, pengabdian masyarakat, itu saja,” jelasnya yang disebut-sebut akan maju sebagai salah satu kandidat dalam Pilkada 2018 mendatang meski telah ditepis berkali-kali.

Di tengah sejumlah kesibukannya, keluarga tetap menjadi prioritas utama. Minggu merupakan hari keluarga yang akan dihabiskan bersama istri dan anaknya. Sesibuk apapun, pendidikan dan kasih sayang pada keluarga dirasa sebagai kewajiban yang harus ditunaikannya. (*)

© 2014 Padek.co