Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Wijianto, Penderita HIV tak Membuat Putus Asa


Wartawan : Mona Triana - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 16 April 2017 12:01 WIB    Dibaca : 146 kali

 

25 Provinsi Dikunjungi dengan Berjalan Kaki

Meskipun telah positif mengidap HIV, Wijianto, 33, yang lebih dikenal dengan sapaan Gareng, tidak putus asa dalam menjalani hidupnya. Gareng tetap mampu beraktivitas seperti kebanyakan orang, bahkan lebih. 

Sejak 7 November 2015 lalu, Gareng telah berkeliling Indonesia dengan berjalan kaki. Sudah seluruh pulau di Indonesia dengan 25 provinsi dikunjungi hanya dengan berjalan kaki. Pulau Sumatera merupakan pulau terakhir yang dikunjunginya, setelah itu ia akan kembali lagi ke Jakarta.

Gareng melakukan ini untuk memberikan motivasi kepada teman-teman sesama Odha (penderita HIV) di setiap provinsi di Indonesia. Padang Ekspres bertemu langsung dengan Gareng, Sabtu lalu (4/8), menceritakan bagaimana awal mulanya positif terkena HIV dan mampu survive menjalani hidup.

Menyesal itu pasti, begitulah kata Gareng yang positif HIV sejak 2011 lalu. Gareng positif mengidap virus HIV, disebabkan dirinya pernah menggunakan jarum suntik narkoba. Namun begitu, baginya hidup akan terus berjalan, tidak perlu diratapi apa yang telah terjadi. “Bagi saya belajar dari masa lalu itu penting, tapi belajar menghadapi masa depan itu yang terpenting,” kata Gareng yang ditemui Padang Ekspres di Hotel Grand Inna Muara, Sabtu (8/4), lalu.

Gareng menceritakan dirinya terjangkit virus HIV akibat jarum suntik narkoba pada 2002 sampai 2005. Sewaktu di Jakarta, ia bekerja sebagai security, kehidupan yang kurang sehat, sering jaga malam dan pola makan tidak teratur, akhirnya ia sakit terkena TB Paru.

“Saya melakukan pengobatan tapi tidak pulih-pulih. Disitu dokter mencurigai saya terkena HIV. Maka dilakukan screaning darah dengan hasilnya saya positif terkena HIV,” ceritanya dengan tegar.

Namanya manusia pada awal didiagnosa positif HIV tentu akan mengalami tekanan secara psikologis. Begitu pula dengan Gareng. Tapi dirinya tidak ingin berlarut-larut dalam keterpurukan. Ia kembali bangkit dan semangat menjalani hidup, setelah mengetahui anak dan istrinya tidak tertular atau negatif HIV.

“Hal itu lah yang mendongkrak semangat saya, ketika anak dan istri saya negatif HIV,” sebut Gareng yang berasal dari Jawa Timur ini. Kendati demikian, istrinya memilih untuk meninggalkan Gareng. “Saya positif HIV istri saya tidak bisa menerima saya. Jadi istri saya meminta untuk berpisah,” ucapnya.

Gareng mengatakan masalah yang dihadapi penderita HIV ini sangat kompleks. “Makanya teman-teman yang positif itu enggan diketahui orang lain karena takut didiskriminasi,” ucapnya.

Melihat, apa yang terjadi dengan teman-teman sesama Odha, Gareng memiliki misi untuk mengelilingi Indonesia dengan berjalan kaki. Dimulai sejak 7 November 2015 lalu, dari Jakarta ia menuju Jawa Barat lalu menelusuri Pulau Jawa dan menyeberang ke Bali. Kemudian ia melanjutkan ke arah timur Indonesia sampai ke Papua.

Sambil menceritakan perjalanannya, Gareng melihatkan videonya di beberapa provinsi di Indonesia. Dimana ia melakukan long march bersama teman-teman untuk menyosialisasikan penyakit HIV ini. Tujuannya mengelilingi Indonesia ini, ingin memberikan motivasi kepada teman-teman yang sama mengidap HIV supaya bisa lebih berdaya dan survive dan menginsipirasi generasi muda.

“Saya ingin menunjukkan ini loh orang yang terinfeksi HIV AIDS. Orangnya masih sehat, masih bisa bekerja dan masih bisa berguna bagi orang lain dan Nusa Bangsa,” ungkapnya.

Nantinya di Padang, Gareng ingin memberikan motivasi dan melakukan seminar di kampus khususnya Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dengan link dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), ia juga akan mencoba bertemu dengan dinas seperti Dinas Kesehatan.

”Saya juga ingin bertemu dengan kepala daerah, saya ingin berjabat tangan langsung dengan kepala daerah kalau bisa makan bersama. Dengan begitu akan dapat dilihat rakyat dan berarti tidak ada masalah dengan pengidap HIV ini. Pemimpin saja tidak takut tentu kedepannya masyarakat juga bisa menerima,” ujarnya.

Ia juga melihat kehidupan, teman-temannya yang positif terkena HIV masih jauh dari kata layak, menurutnya nasib Odha harus diperjuangakan. Karena sebagian besar Odha hanya diam saja.

“Kalau mereka didiskriminasi oleh masyarakat itu lumrah tapi ketika mereka mendiskriminasikan diri sendiri itu yang tidak lumrah. Contohnya ada Odha yang mengatakan, aku positif HIV mana mungkin aku bisa bekerja, mana mungkin aku bisa mencari kehidupan. Di situ saya ingin buktikan kalau saya seorang Odha bisa keliling Indonesia dengan berjalan kaki. Berarti tidak ada masalah dengan kesehatan selama mengikuti aturan medis minum obat secara teratur,” ucapnya sambil mengatakan dalam satu hari ia harus meminum obat tiga kali. 

Dalam satu hari, Gareng rutin meminum obat setiap pukul sembilan pagi, sembilan malam dan sebelas malam. Obat tersebut harus diminumnya tepat waktu, sebab kalau tidak virus di dalam tubuhnya akan kebal oleh obat tersebut. 

“Sampai detik ini untuk obat gratis dari pemerintah masih disubsidi,” sebutnya. Namun, ia mengatakan HIV bukan masalah kesehatan saja, HIV berbeda dengan penyakit lainnya, yang apabila diobati pulih.

“Misalnya kalau sakit TB Paru diobatin lalu sembuh, tetapi tidak dengan HIV meskipun telah diobati masih ada embel-embel dibelakangnya, yang membuat penderita HIV ini terkena tekanan psikologis sosial. Apalagi masih banyak masyarakat yang belum mampu untuk menerima penderita HIV ini dan itu yang membuat para penderita HIV semakin tertekan,” jelasnya.

Gareng pun mengaku dari 25 provinsi yang dikunjunginya masih ada beberapa daerah yang kurang menerima teman-teman positif terjangkit HIV. Hal demikian terjadi karena belum pahamnya bagaimana tentang HIV itu sendiri.

“Setiap perjalanan saya ini, saya mengumpulkan data-data penderita HIV di setiap kota yang saya kunjungi. Setelah saya menyelesaikan perjalanan ini, saya akan membuat rangkuman dan mengerucutkan permasalahan para penderita HIV. Karena sampai saat ini program pemerintah tentang penderita HIV masih mengambang saja,” ujarnya.

Sebelum mengunjungi Padang, Gareng terlebih dahulu berjalan dari Bukittinggi. Ia menghabiskan waktu sekitar dua hari untuk berjalan kaki dari Bukittinggi ke Padang.

“Sebelumnya saya dari Pekanbaru lalu sampai di Bukittinggi, saya lanjut jalan kaki ke Padang. Saya sempat kemalaman di daerah Padangpariaman, kehujanan juga,” tuturnya sembari mengatakan sepatu yang digunakannya masih sedikit basah.

Selanjutnya dari Padang, Gareng akan menuju Bengkulu dengan berjalan kaki. Untuk ke Bengkulu, ia akan mengajak teman-teman lainnya. Gareng juga telah memperkirakan waktu tempuhnya berjalan kaki ke Bengkulu tiga sampai empat hari. Diakhir perbincangannya bersama Padang Ekspres, Gareng mengatakan, sebagai yang positif mengidap HIV, ada dua kewajiban yang harus dilakukan.

Pertama penderita HIV harus sehat untuk dirinya sendiri, dengan sehat tentu dapat produktif dan bisa mencukupi kebutuhan. Kemudian pendrita HIV memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menularkan virus HIV ini. 

“Berbicara kewajiban tentu ada hak, hak kami yang positif HIV ini sama dengan hak warga Indonesia lain sesuai pancasila sila ke lima. Kami tidak ingin dibedakan, kami juga ingin untuk sekolah, bekerja dan hidup layak,” ucapnya. (*)

© 2014 Padek.co