Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Mantan Aktivis, ”Besar” Bersama Masyarakat Terpinggir


Wartawan : Debi Virnando - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 09 April 2017 12:06 WIB    Dibaca : 137 kali

 

Indra Sakti Gunawan Lubis SE Ak sudah menyuarakan fenomena sosial ekonomi masyarakat sejak masih berstatus sebagai mahasiswa. Menggalang pergerakan bersama Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi yang dipimpin pada tahun 1994-1995, dan saat dipercaya sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas Andalas (Unand) periode 1995-1996. Wajar, jika nama mantan aktivis melekat pada dirinya hingga hari ini.

“Pernah memberhentikan perkuliahan di Unand untuk demo bus kampus, waktu itu ada mahasiswa Sastra yang meninggal karena kecelakaan bus,” kenangnya pada kejadian 1995 itu.

Masih berstatus mahasiswa, suami Wilda Yanti yang akrab disapa Indra Lubis itu juga melakoni hidup sebagai aktivisnya di LSM/NGO. Bergerak bersama petani dan masyarakat terpinggirkan sejak tahun 1996. Sementara Indra Lubis, menamatkan kuliah di Fakultas Ekonomi Unand dua tahun kemudian, tahun 1998.

Berbekal pengalaman sebagai ketua senat, ayah empat anak itu memperkuat Lembaga Riset dan Advokasi (LRA) di Padang bersama teman-temannya.

Terakhir, menjabat sebagai Direktur Eksekutif di tahun 1998-2000. LRA, sebutnya, sebuah lembaga yang aktif bergerak melakukan pembelaan hak-hak rakyat. Bersama mahasiswa Sumbar, Indra Lubis melakukan gerakan menumbangkan rezim orde baru. 

Pada tahun 1998, bersama berbagai tokoh petani lokal, dideklarasikan berdirinya Serikat Petani Sumatera Barat (SPSB) yang selanjutnya berubah nama menjadi Serikat Petani Indonesia (SPI) Wilayah Sumbar di tahun 2004. Perubahan nama SPSB seiring dengan perubahan nama Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) menjadi SPI sesuai hasil Kongres di Wonosobo.

Selama aktif di LRA, Indra Lubis terlibat aktif di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumbar dan Nasional dalam kerja-kerja advokasi isu lingkungan serta hak masyarakat. Selanjutnya, sejak akhir 1999, dipercayakan menjadi salah satu Ketua Departemen dalam pengurusan nasional FSPI.

Hingga terakhir menjabat sebagai Ketua Departemen Hubungan Internasional SPI pada tahun 2004. Sejak tahun 2005 hingga 2013, mendapat kepercayaan sebagai salah satu Internasional Staff La Via Campesina, yaitu sebuah jejaring organisasi petani tingkat dunia.

“Khusus bidang yang ditangani, tentang reforma agraria, perdagangan internasional dan meng-handle kawasan Asia dan Afrika. Sembari menjadi anggota Coordination Team (CT) dari jaringan LSM dan Gerakan sosial dunia, yaitu Our World is Not for Sale (OWINFS) sejak tahun 2005-2012,” jelasnya.

Selain itu, sejak 2007, aktif sebagai Associate Reasearcher pada Land Research and Action Network (LRAN) International. Menjadi Board dari Focus on The Global South, merupakan sebuah NGO International yang berkantor di Bangkok Thailand sejak tahun 2012 hingga sekarang.

Menurutnya, sebagai aktivis LSM dan selanjutnya menjadi pimpinan ormas tani nasional dan Internasional, dirinya beberapa kali berkesempatan didapuk menjadi pembicara.

Di antaranya pada World Social Forum (WSF–Forum Sosial Dunia) pada tahun 2001, 2002, dan 2011 di Porto Alegre Brazil. WSF tahun 2003 di Mumbai India, WSF tahun 2005 di Nairobi Kenya, dan WSF tahun 2013 di Tunisia.

Indra Lubis terlibat aktif pula sebagai peserta dan pembicara di Committee on Food Security (CFS) FAO Roma Italia sejak tahun 2006 hingga tahun 2012. Jadi pembicara pada International Forum on Consumer di Lima Peru pada tahun 2007.

Pembicara pada Internastional Seminar on Land and Rural Development di Institute Social Studies (ISS) Den Haag Belanda tahun 2009. Pembicara pada forum FAO Regional Consultation on Policies to Respond to High Food Prices in Asia and Pacific Region Bangkok Thailand tahun 2012.

“Pernah juga jadi pembiacara pada International Conference on Land, Deals and Politic pada tahun 2012 di Cornell University, Ithaca, USA,” ungkapnya.

Indra Lubis pun pernah menjadi salah satu inisiator dan deklarator nasional pendirian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) bersama-sama kalangan kritis berbasis kampus, peneliti dan berbagai gerakan sosial pada tahun 2009.

Penggagas AEPI, di antaranya, DR. Revrisond Baswir, DR Ichsanuddin Noorsy, Prof Sri Edi Swasono, Andrinof A Chaniago, Hendri Saparini PhD, Prof Zulhasril Nasir dan Dani Setiawan.

Sejak November 2014, dipercaya menjadi Tenaga Ahli Utama di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi hingga saat ini. Baru-baru ini, April 2017, menjadi salah satu anggota Dewan Riset Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman. Katanya, terkait bidang ekonomi, penerapan teknologi dan pengembangan sumberdaya alam.

“Nafas aktivis yang saya aliri pada aktivitas yang digeluti ini. Termasuk di Kementerian Desa ini, nafas nagari beranjak dari pengalaman sebagai aktivis. Seperti bidang pemberdayaan, yang menjadi pemateri, langsung pelaku kegiatan, petani sukses, jadi tidak bicara teori lagi, tapi sudah lansung melibatkan pelaku,” pungkasnya. (*)

© 2014 Padek.co