Harian Pagi Padang Ekspres | Koran.Padek.co

Nazwar, Musisi SPBU di Kota Padang


Wartawan : Syawaluddin - Padang Ekspres - Editor : Riyon - 09 April 2017 12:03 WIB    Dibaca : 142 kali

 

Konsisten Lestarikan Musik Tradisional

”Ada paha ada kaki, ada usaha ada rezeki”. Ungkapan itu menjadi penyemangat Nazwar, 52, warga Padangbesi Lubukkilangan, dalam mengumpulkan rupiah.

Sempat menjadi penjual ikan keliling, sekarang pria tiga anak ini menggunakan keahliannya memainkan alat musik tradisonal dari SPBU ke SPBU. Alunan bunyi alat musik bansi terdengar merdu di tengah bisingnya kendaraan yang mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Kayugadang, Kecamatan Kuranji, Rabu lalu.

Suara itu berasal dari salah satu pojok pengisian BBM kendaraan roda dua yang ditiup oleh seorang pria. Usut punya usut pria itu adalah Nazwar. Dia duduk di bangku kecil dan memakai saluak di kepalanya. Meski suasana sangat bising, tetapi ia tidak menghiraukan.

Bansi terus ditiupnya dan jemarinya bergerak lincah. Semakin banyak jemarinya bergerak semakin merdu alunan melodi yang terdengar. Sesekali lelaki itu mengambil nafas panjang.

Sejumlah pengendara terlihat terkagum-kagum melihat kepiawaiannya. Ada memberi uang, ada yang lewat begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Nazwar. Meski begitu ia terlihat tetap sabar. Tidak ada kesan berang di wajahnya. 

Nazwar berhenti sejenak. Kemudian bansi di tangan ia masukan ke dalam tas. Setelah ia mengeluarkan alat musik tiup jenis saluang. Alat musik tersebut juga ia mainkan, alunan melodinya membuat hati terasa pilu. Melodi dari saluang itu seakan menggambarkan kegundahan hati Nazwar.

“Saluang ini cara mainnya agak berbeda dengan bansi atau pupuik sarunai. Karena perlu nafas ekstra untuk meniupnya,” ujar Nazwar ditemui Padang Ekspres usai mengamen di SPBU tersebut.

Memainkan alat musik tradisional adalah kehaliannya sejak dulu. Bahkan dirinya nekat terjun sebagai pengamen alat musik tradisonal dan berhenti berjualan ikan keliling.

“Sebelumnya saya berprofesi sebagai penjual ikan keliling, karena penghasilan sebagai penjual ikan tidak mencukupi, sementara biaya untuk hidup semakin meningkat, pada tahun 2012 saya memberanikan diri untuk mengamen meniup alat musik dari SPBU ke SPBU,” ujar ayah tiga anak ini.

Dia mengisahkan, pertama mengamen dilakukannya di SPBU Tanjuangaua, Bypass Kototangah. Dia berangkat setelah shalat Ashar dari rumahnya yang berada di kawasan Padangbesi Lubukkilangan.

Hal itu rutin ia lakukan. Bermodalkan tas bekas tempat penyimpanan raket, beberapa jenis alat musik tiup khas Minangkabau seperti bansi, saluang dan pupuik sarunai ia simpan di dalamnya dan dibawa kesana kemari untuk mengamen.

“Awal mengamen saya sedikit malu, karena sebelumnya saya belum pernah melakukan pekerjaan tersebut, namun karena tidak ada pilihan lain saya memberanikan diri dan meminta izin kepada pengawas SPBU tersebut untuk mengamen di lokasinya,” ujar Nazwar.

Setelah diizinkan pengawas SPBU, Nazwarmembuka tas raket dan mengeluarkan alat musik tiup tradisional yang dimiliki, sementara keranjang kecil diletakkan di sampingnya dengan harapan ada dermawan yang mau member uang karena merasa terhibur dengan penampilan Nazwar.

Salah seorang pengendara memberikan uang lembar Rp 20 ribu. Itu adalah uang pertama yang didapatnya saat mengamen. Ia merasa terharu hingga menitikkan air mata. Setelah diberi uang Nazwar tidak lupa mendoakan orang-orang yang memberinya uang.

“Uang Rp 20 ribu itu bagi saya sangat besar sekali. Banyak yang bisa dibeli dengan uang tersebut saat itu,” kenang Nazwar. Rasa syukur selalu dipanjatkan Nazwar, karena dengan mengamen berbagai macam kebutuhan keluarga bisa terpenuhi.

“Saya pernah dapat sampai Rp 100 ribu. Padahal baru beberapa jam mengamen,” ujarnya semangat menceritakan.

Untuk mengamen di SPBU, tidaklah semudah yang dibayangkan karena butuh penyesuaian dengan pengawas SPBU. Di setiap  SPBU karakter dan watak pengawasnya berbeda. Bahkan para pekerja di SPBU ada yang tidak senang karena merasa terganggu dengan keberadaan Nazwar mengamen.

“Kadang para pengawas atau staf SPBU menolak kehadiran saya dan melarang untuk mengamen di SPBU,” ujarnya.

Dalam mengamen, Nazwar selalu berpindah dari SPBU satu ke SPBU lain. Baginya SPBU adalah tempat yang cocok untuk mengemen. Umumnya SPBU di kota Padang sudah pernah disinggahi. Karena itulah saat ini ia dijuluki musisi SPBU.

“Selama mengamen di SPBU belum ada preman atau orang yang usil menganggu saya, yang penting saya selalu ingat kepada Allah agar diberikan perlindungan,” ujarnya.

Salah seorang anak Nazwar pernah melarang agar tidak mengamen. Ia disarankan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih layak. Namun hanya bermain musik tradisional dan berjualan ikan keahlian yang ia miliki. Jadi tidak ada pilihan, bermusik tradisi harus dijalani setiap hari. 

“Anak saya tersebut mungkin malu bapaknya bekerja sebagai pengamen, kesannya seperti pengemis. Tapi tidak apa-apa, saya sudah beri pengertian bahwa pekerjaan yang saya lakukan adalah pekerjaan halal dan tidak menyusahkan orang lain,” sebut alumni SMA Tamsis tahun 1984 ini.

Saat ini, hasil dari mengamen bisa membiyai pendidikan ketiga anak Nazwar yang masih kuliah dan dua masih duduk di bangku SMK dan SD. Selain mengamen di SPBU, dia juga aktif mengisi acara pesta pernikahan baik di dalam kota Padang maupun di luar kota Padang. Contohnya Dharmasraya, Pariaman dan sejumlah daerah lainnya.

“Mengisi pesta pernikahan tidaklah rutin, dalam satu bulan bisa dua kali. Bayarannya alhamdulillah Rp 200 ribu, bisa bantu-bantu kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Meski begitu, penghasilan dalam mengamen kadang tidak menentu. Ada dapat yang dapat banyak, sedikit bahkan tidak membawa uang pulang sama sekali juga pernah dirasakan Nazwar. “Kalau tidak dapat uang disyukuri saja, mungkin belum rezeki,” ucapnya.

Karena umur yang tidak muda lagi, Nazwar berkeinginan mengajar musik tradisonal di sekolah-sekolah Kota Padang. Atau bisa mengisi kegiatan ekstrakurikuler sehingga kesenian tradisional yang ia mainkan tersebut tidak punah termakan zaman.

Selain itu ia juga prihatin karena banyak generasi muda yang tidak tertarik dengan musik tradisonal, padahal yang harus melestarikan adalah generasi tersebut. ”Ini adalah pengaruh budaya barat. Saya ingin menumbuhkan kecintaan remaja terhadap kesenian tradisional Minangkabau,” tukasnya. (*)

© 2014 Padek.co